Scroll untuk baca artikel
Banner Harian Khazanah
BeritaHukumP A R I W A R APolitik

Dua Senator Aceh Desak Pengusutan Insiden Tiro, Ingatkan Perdamaian Jangan Tercoreng

×

Dua Senator Aceh Desak Pengusutan Insiden Tiro, Ingatkan Perdamaian Jangan Tercoreng

Sebarkan artikel ini

JAKARTA, Khasminang.id – Insiden kekerasan dan dugaan penembakan terhadap warga Gampong Pulo Kenari, Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie, Rabu (4/11/2026), menuai kecaman dari dua anggota DPD RI asal Aceh, Azhari Cage dan Darwati A. Gani. Peristiwa yang dilaporkan menimbulkan korban jiwa tersebut dinilai bukan sekadar persoalan penegakan hukum, melainkan juga ancaman terhadap rasa aman masyarakat dan keberlangsungan perdamaian Aceh yang telah terpelihara selama lebih dari dua dekade.

Senator Azhari Cage secara tegas meminta Panglima TNI dan Pangdam Iskandar Muda mengusut dugaan keterlibatan oknum anggota TNI dalam tindakan pemukulan dan penembakan terhadap warga. Menurutnya, tindakan kekerasan terhadap masyarakat sipil tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun.

Iklan
Scroll Untuk Baca Artikel

“Saya dengan tegas meminta Pangdam Iskandar Muda dan Panglima TNI untuk menindak tegas anggota TNI yang terlibat dalam pemukulan dan penembakan warga tersebut,” ujar Azhari, Rabu malam (4/11/2026).

Azhari mengingatkan bahwa perdamaian Aceh yang telah berlangsung lebih dari 20 tahun merupakan hasil perjuangan panjang dan pengorbanan besar masyarakat. Karena itu, ia menyayangkan munculnya kembali peristiwa kekerasan yang mengingatkan masyarakat pada masa kelam konflik bersenjata.

Baca Juga:  Indonesia Jadi Tuan Rumah Conference ke-3 Parlemen Internasional Tahun 2027

“Kita jangan terus-terus bicara damai. Buat apa damai terus didengungkan bila masyarakat Aceh terus dipukuli dan ditembaki sehingga darah masyarakat Aceh kembali tumpah,” katanya.

Terkait persoalan pengibaran bendera dalam peringatan Maulid Nabi yang disebut melatarbelakangi ketegangan, Azhari menilai pemerintah perlu menuntaskan persoalan politik mengenai bendera Aceh yang hingga kini masih menyisakan perbedaan pandangan.

Ia mengingatkan bahwa persoalan tersebut berkaitan dengan ketentuan dalam qanun dan peraturan perundang-undangan sehingga penyelesaiannya harus mengedepankan dialog, bukan kekerasan.

Menurutnya, penegakan hukum terhadap masyarakat sipil merupakan kewenangan kepolisian, sementara keterlibatan aparat TNI harus tetap berada dalam koridor tugas dan kewenangannya.

Senada dengan Azhari, Senator Darwati A. Gani menyampaikan keprihatinan mendalam atas insiden di Tiro. Ia mengingatkan bahwa masyarakat Aceh pernah mengalami penderitaan panjang akibat konflik, sehingga setiap tindakan kekerasan berpotensi membuka kembali luka sosial dan trauma yang belum sepenuhnya pulih.

“Bagi masyarakat Aceh, rasa aman itu sangat mahal harganya. Kita pernah melewati masa-masa sulit ketika masyarakat hidup dalam kecemasan dan ketakutan. Jangan sampai peristiwa seperti ini kembali membangkitkan trauma yang selama bertahun-tahun berusaha kita pulihkan,” ujar Darwati, Kamis (5/11/2026).

Baca Juga:  Bazar Mom BBI, Dorong Kontribusi Warga Jaga Kebersihan Kota Padang

Darwati menegaskan, negara berkewajiban menjamin keselamatan seluruh warga tanpa memandang latar belakang maupun persoalan yang sedang dihadapi. Kehadiran aparat keamanan, menurutnya, semestinya memberikan perlindungan dan menghadirkan ketenteraman, bukan menimbulkan ketakutan di tengah masyarakat.

“Tidak boleh ada masyarakat yang merasa terancam di kampung halamannya sendiri. Kehadiran aparat negara seharusnya memberikan ketenangan dan perlindungan, bukan justru menimbulkan rasa takut,” tegasnya.

Kedua senator tersebut sama-sama mendesak agar insiden Tiro diusut secara transparan, objektif, dan menyeluruh. Darwati meminta setiap pihak yang terbukti bertanggung jawab diproses sesuai hukum yang berlaku, sementara Azhari menekankan pentingnya ketegasan pimpinan TNI apabila ditemukan pelanggaran oleh anggotanya. Mereka menilai penegakan hukum yang adil dan terbuka menjadi kunci untuk memulihkan kepercayaan masyarakat sekaligus mencegah peristiwa serupa kembali terjadi.

Lebih jauh, Darwati mengingatkan bahwa dampak kekerasan tidak berhenti pada korban, tetapi juga meninggalkan penderitaan mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan. Karena itu, pemerintah dan seluruh unsur keamanan harus memastikan keluarga korban memperoleh perhatian, perlindungan, serta kepastian hukum.

Baca Juga:  Mencari Jalan Baru bagi Suara Daerah, Gagasan Lalu Niqman Zahir Membangun Parlemen Teritorial Digital

“Di balik setiap peristiwa kekerasan, ada keluarga yang harus menanggung penderitaan. Ada orang tua, istri, dan anak-anak yang kehilangan rasa aman, bahkan orang yang mereka cintai. Mereka tidak boleh dibiarkan menghadapi keadaan ini sendirian,” ungkapnya.

Azhari dan Darwati berharap pemerintah pusat, pemerintah Aceh, serta seluruh pemangku kepentingan menjadikan peristiwa Tiro sebagai momentum untuk memperkuat komitmen menjaga perdamaian. Azhari mengingatkan agar persoalan bendera Aceh segera memperoleh penyelesaian politik yang bijaksana sehingga tidak menjadi sumber konflik baru. Sementara Darwati menegaskan bahwa perdamaian sejati tidak cukup hanya ditandai dengan berakhirnya konflik bersenjata, tetapi harus diwujudkan melalui keadilan, penghormatan terhadap martabat manusia, dan jaminan keamanan bagi seluruh rakyat.

“Aceh membutuhkan ketenangan untuk terus membangun masa depannya. Kita punya tanggung jawab bersama untuk memastikan anak-anak Aceh tumbuh dalam suasana damai, tanpa harus mewarisi ketakutan yang pernah dialami generasi sebelumnya,” pungkas Darwati. (*/adv)

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.