Oleh: Irdam Imran/
Mantan Birokrat Parlemen Senayan
Ada sesuatu yang menarik dari pernyataan Menteri Pariwisata Widyanti Putri Wardhana bahwa konser musik internasional bukan sekadar menghadirkan hiburan, tetapi juga dapat menjadi penggerak ekonomi pariwisata.
Di tengah kebutuhan Indonesia memperkuat pertumbuhan ekonomi, gagasan ini layak dilihat lebih jauh. Sebab, sebuah konser berskala internasional sesungguhnya bukan hanya panggung, tata suara, lampu dan artis. Di belakangnya terdapat sebuah rantai ekonomi yang panjang.
Ketika ribuan bahkan puluhan ribu penonton datang dari berbagai daerah dan negara, mereka membutuhkan hotel, transportasi, makanan, minuman, pusat perbelanjaan, jasa perjalanan, hingga berbagai produk ekonomi kreatif. Dari sinilah muncul apa yang dalam perspektif ekonomi disebut multiplier effect.
Konser akhirnya bukan hanya menjual tiket. Ia menggerakkan uang dari satu sektor ke sektor lainnya.
Tetapi di sinilah persoalan pentingnya: siapa yang menikmati dampak ekonomi tersebut?
Jangan sampai konser internasional hanya menjadi pesta industri besar, sementara pelaku UMKM di sekitar lokasi hanya menjadi penonton. Jangan pula keuntungan terbesar berhenti pada promotor, sementara masyarakat lokal sekadar menanggung kemacetan, kepadatan dan kenaikan harga.
Karena itu, kebijakan menjadikan event internasional sebagai bagian dari strategi pariwisata harus dibarengi dengan desain ekonomi kerakyatan.
Pelaku UMKM harus diberi ruang. Pengusaha kuliner lokal harus memperoleh kesempatan. Transportasi masyarakat harus dilibatkan. Produk ekonomi kreatif daerah harus masuk ke dalam ekosistem acara. Bahkan, kawasan wisata di sekitar tempat konser dapat dikemas menjadi bagian dari perjalanan wisata para penonton.
Dengan demikian, orang yang datang untuk menonton konser tidak langsung pulang setelah pertunjukan selesai.
Mereka tinggal beberapa hari.
Mereka menginap.
Mereka makan.
Mereka berbelanja.
Mereka mengunjungi destinasi wisata.
Dan uang yang mereka keluarkan berputar di tengah masyarakat.
Inilah yang seharusnya menjadi ukuran keberhasilan sebuah konser internasional: bukan hanya berapa banyak tiket terjual, tetapi berapa besar nilai ekonomi yang tercipta dan siapa saja yang menikmatinya.
Indonesia memiliki modal besar untuk itu. Kita memiliki jumlah penduduk yang besar, pasar musik yang luas, kekayaan budaya, destinasi wisata dan industri kreatif yang berkembang. Jika dikelola secara terintegrasi, event internasional dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan Indonesia lebih luas kepada dunia.
Namun, kita juga perlu belajar dari pengalaman kota-kota dunia yang menjadikan event tourism sebagai bagian dari strategi pembangunan ekonomi. Event harus ditempatkan dalam sebuah ekosistem, bukan berdiri sendiri.
Di sinilah pentingnya koordinasi antara Kementerian Pariwisata, pemerintah daerah, pelaku ekonomi kreatif, UMKM, sektor transportasi, perhotelan dan masyarakat.
Bahkan kalau perlu, setiap konser internasional mempunyai peta dampak ekonomi lokal: berapa UMKM yang terlibat, berapa tenaga kerja terserap, berapa wisatawan yang tinggal lebih lama, serta berapa transaksi ekonomi yang terjadi.
Dengan data tersebut, kita tidak sekadar mengatakan konser sebagai “senjata ekonomi nasional”, tetapi mampu membuktikan manfaat ekonominya secara terukur.
Pada akhirnya, musik mempunyai bahasa universal. Ia mampu mempertemukan manusia dari berbagai bangsa tanpa harus berbicara bahasa yang sama.
Tetapi bagi Indonesia, konser internasional juga dapat menjadi diplomasi budaya sekaligus diplomasi ekonomi.
Artis datang membawa penggemarnya. Penggemar datang membawa belanja. Belanja menghidupkan usaha. Usaha menciptakan pekerjaan. Dan pekerjaan meningkatkan pendapatan masyarakat.
Di titik inilah konser musik menemukan resonansinya.
Hiburan boleh menjadi panggungnya, pariwisata menjadi pintunya, ekonomi kreatif menjadi mesinnya, dan ekonomi kerakyatan harus menjadi penerima manfaatnya.
Jangan sampai Indonesia hanya menjadi tempat berlangsungnya konser dunia.
Jadikan Indonesia sebagai tempat dunia datang, tinggal, berwisata, berbelanja, dan kemudian pulang dengan membawa cerita tentang Indonesia.
Itulah ketika sebuah konser musik tidak lagi sekadar tontonan.
Ia berubah menjadi ekosistem ekonomi.
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.






