Scroll untuk baca artikel
Banner Harian Khazanah
BeritaHiburanIptekSabana MinangSeni & Budaya

PIPN Prodi Sendratasik Satukan Gerak Pencak Silat  Randai dengan Dendang Pada Randai Lelo Kayo di Nagari Jaho

×

PIPN Prodi Sendratasik Satukan Gerak Pencak Silat  Randai dengan Dendang Pada Randai Lelo Kayo di Nagari Jaho

Sebarkan artikel ini

 

Padang, Khazminang.id—  Sebagai sebuah kesenian yang berbentuk teater rakyat randai memiliki identitas yang berbeda dengan seni teater rakyat lainya.

Iklan
Scroll Untuk Baca Artikel

Dalam berbagai pembacaan ulang beberapa pertunjukan randai, pendapat tentang randai merupakan pertunjukan teater tradisi menjadi semakin samar dan cenderung memaksakan randai untuk masuk kepada dalam kelompok teater.

Didasari kenyataan tersebut Program Studi (Prodi) Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik (Sendratasik) melaksana kegiatan pengabdian Masyarakat dalam bentuk Program Integrasi Prodi dan Nagari (PIPN) di Nagari Jaho, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar. Dari 23 sampai 31 Agustus yang lalu.

Pelaksanaan PIPN ini  mengambil tema “Konstruksi Penyatuan Gerak Pencak Silat  Randai Dengan Dendang Melalui Metode Demonstrasi Pada Randai Lelo Kayo Di Nagari Jaho”.

Permasalahan yang ditemukan dalam pengabdian ini adalah sangat sulit untuk mengaplikasikan dendang yang digunakan untuk pertunjukan randai. Dalam kegiatan ini terungkap, alasan yang sering dilontarkan oleh pemain randai adalah kurangnya petunjuk praktis agar bisa mendendangkan irama dendang yang sesuai dengan naskah randai.

Baca Juga:  Wako Bukittinggi Ramlan Nurmatias Sambut Sebanyak 252 Jemaah Haji Tahun 2026 Tiba di Kota Bukittinggi

Permasalahan lain dalam grup randai Lelo Kayo adalah belum ada tenaga yang mampu memberikan pelatihan secara khusus tentang keberadaan dendang yang harus digunakan dalam pertunjukan randai, hal ini dikarenakan tidak ada anggota randai yang mampu berdendang dengan baik dan tidak mengerti dendang yang bagaimana yang harus digunakan

“Proses memaknai pertunjukan randai akhirnya bermuara pada sebuah kesimpulan baru, bahwa randai tidak termasuk pada teater melainkan seni pertunjukan, hal ini gerak (galombang), cerita (kaba), dan musik (dendang dan musik ilustrasi) yang menjadi unsur dalam randai ternyata tidak bisa dipisahkan dalam mengkontruksi sebuah pertunjukan randai,” ujar Dr, Syeilendra, S. Kar., M. Hum., kepada Khazminang.id., Senin (14/9).

Dijelaskan Syeilendra, sebuah pertunjukan randai dikatakan sempurna jika setiap unsur yang menjadi tubuh randai berperan semaksimal mungkin. Gerak yang tertata rapi, tapuak galembong yang dilakukan dengan teknik yang benar, kaba yang dibawakan dengan baik oleh setiap tokoh, dan dendang yang sesuai dengan kebutuhan kaba pada setiap legaran serta musik ilustrasi yang mendukung setiap adegan.

“Penggarapan randai yang berbentuk teater, padanya terdapat unsur-unsur pokok yaitu; cerita, dialog, dan acting, dendang yang disebut gurindam, dan galombang  atau gerakan-gerakan tari bersumber pada gerakan-gerakan pencak silat tradisional Minangkabau yang dilakukan dalam formasi melingkar oleh pemain-pemainnya”, tambah Syeilendra.

Baca Juga:  Komisi III DPRD Kota Bukittinggi Tindak Lanjuti Laporan Masyarakat Terkait Permasalahan Infrastruktur Kota

Dengan kata lain mengubah teknik pelatihan yang tidak terprogram menjadi terstruktur dan terkoordinir, seperti menggantikan pendekatan yang berpusat pada peserta.

Untuk pelatihan dendang untuk randai khususnya menyanyikan dendang-dendang wajib dan dendang tambahan yang sesuai dengan alur cerita yang ada pada naskah randai. Pelatih sebagai pendidik adalah menjadi mediator, fasilitator, motivator dan inspirator untuk mengarahkan dan memperkembangkan kemampuan dasar pemain randai sesuai dengan tahap-tahap perkembangannya.

Dalam pembelajaran berdendang untuk randai, pelatih bertindak sebagai desainer yang memusatkan pembelajaran pada peserta randai dengan cara memotivasi pemain untuk mampu mengikuti materi latihan. Memotivasi anggota randai dapat dilakukan dengan cara memberikan bentuk-bentuk rangsangan berupa menonton grup randai yang bagus melalui video pertunjukan randai dan video tutorial yang sudah disiapkan oleh Tim PKM UNP serta instruktur dan pelatih mencontohkan langsung di depan pemain randai.

Begitu juga dalam proses praktek menyanyikan dendang, peserta diperkenalkan dengan pola irama seperti:   1) Pola irama, sebagai elemen dasar yang berfungsi mengatur tempo dan irama ketika seseorang peserta menyanyikan dendang sebagai percontohan atau model. 2) Pola irama sebagai elemen dasar musik yang berfungsi mengingatkan irama lagu. (3) Produksi bunyi sebagai dasar untuk menghasilkan suara yang indah saat mendendangkan lagu dan ditopang oleh teknik vokal yang tepat.

Baca Juga:  Presiden Prabowo Umumkan Serangkaian Kebijakan Perlindungan Pekerja pada May Day 2026

Dengan demikian perlu dilakukan pelatihan dendang tradisional Minangkabau. Untuk melatih dendang randai yang digunakan sebagai musik pengiring cerita dari naskah yang didendangkan yang menjadi kebanggaan masyarakat nagari.

Tim PIPN ini diketuai Dr. Syeilendra, S.Kar., M.Hum., dengan anggota Hengki Armez Hidayat, M.Sn., Ayuthia Mayang Sari, S.Pd., M.Sn., Belirda Wulandari, M.Pd., Uswatul Hakim, M.Pd, M.Pd., Herlinda Mansyur, SST., M.Sn., Dr. Ahmad Fauzan Yusman, M.Pd. Anggota dari mahasiswa adalah Fariz Setya Wardana, Vicky Fernando Efendi, Agung Illahi, Citra Kurnia Ilahi, dan Mariyama Aldawiyah.

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.



Penulis: Novrizal SadewaEditor: Novrizal Sadewa