Scroll untuk baca artikel
Banner Harian Khazanah
Headline

Cuaca Buruk, Sampai 15 September Sumbar Harus Waspada Bencana

×

Cuaca Buruk, Sampai 15 September Sumbar Harus Waspada Bencana

Sebarkan artikel ini
Sumbar waspada hujan dan badai sertea longsor

Padang, Khazanah — Masyarakat Sumatera Barat diminta meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi dalam beberapa hari ke depan. Tidak hanya hujan lebat yang berpotensi memicu banjir dan longsor, sejumlah wilayah perairan Sumbar juga diprakirakan menghadapi gelombang tinggi hingga 4 meter.

Peringatan ini menjadi penting terutama bagi masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir, nelayan, pelaku pelayaran, wisatawan, serta warga yang bermukim di daerah rawan banjir, banjir bandang dan tanah longsor.

Iklan
Scroll Untuk Baca Artikel

Berdasarkan prakiraan BMKG Maritim Teluk Bayur, kondisi perairan Sumatera Barat pada 12–15 September 2026 berpotensi mengalami gelombang sedang hingga tinggi. Pada 12–13 September, tinggi gelombang diprakirakan berkisar 1,4–3,6 meter, dengan gelombang kategori tinggi 2,5–4 meter berpotensi terjadi di Perairan Barat Pagai, Barat Siberut, Barat Sipora, Pesisir Selatan, Timur Pagai, Timur Siberut dan Timur Sipora.

Kondisi tersebut perlu mendapat perhatian serius, khususnya bagi nelayan dengan kapal berukuran kecil dan masyarakat yang melakukan aktivitas di laut. Gelombang tinggi dapat meningkatkan risiko kapal mengalami kesulitan navigasi, kehilangan keseimbangan atau bahkan kecelakaan.

Gelombang Tinggi Berlanjut

Potensi gelombang tinggi tidak hanya terjadi pada satu hari. Pada periode 13–14 September, tinggi gelombang diprakirakan mencapai 1,8–3,4 meter.

Gelombang tinggi 2,5–4 meter masih berpotensi terjadi di Perairan Barat Pagai, Barat Siberut, Barat Sipora, Timur Pagai, Timur Siberut dan Timur Sipora.

Sementara pada 14–15 September, tinggi gelombang diprakirakan berkisar 1,5–3,1 meter. Gelombang tinggi 2,5–4 meter masih berpotensi terjadi di Perairan Barat Pagai, Barat Siberut, Barat Sipora dan Timur Pagai.

Dengan kondisi tersebut, masyarakat pesisir dan pengguna jasa transportasi laut diminta tidak mengabaikan informasi cuaca dan gelombang. Nelayan juga diimbau mempertimbangkan kondisi laut sebelum memutuskan melaut.

Waspadai Hujan Petir

Ancaman tidak hanya datang dari laut. Cuaca di sejumlah perairan Sumbar juga diprakirakan berawan hingga hujan sedang dan hujan petir.

Pada 12–13 September, hujan ringan berpotensi terjadi di Perairan Agam–Pasaman Barat, Barat Pagai, Barat Sipora, Padang–Padang Pariaman, Timur Pagai, Timur Siberut dan Timur Sipora.

Baca Juga:  KPU Sumbar Serahkan Keputusan Pleno Penetapan Paslon Gubernur-Cagub ke DPRD

Hujan sedang berpotensi terjadi di Perairan Barat Siberut dan Pesisir Selatan.

Memasuki 13–14 September, cuaca diprakirakan berawan hingga hujan petir. Potensi hujan petir terdapat di Perairan Agam–Pasaman Barat, Barat Pagai, Padang–Padang Pariaman dan Timur Siberut.

Pada 14–15 September, kondisi serupa masih berpotensi terjadi. Hujan ringan diprakirakan terjadi di Perairan Barat Siberut, Padang–Padang Pariaman dan Pesisir Selatan, sedangkan hujan petir berpotensi terjadi di Perairan Timur Siberut.

BMKG juga memprakirakan potensi udara kabur di Perairan Agam–Pasaman Barat dan Timur Sipora. Angin diprakirakan bertiup dari arah tenggara hingga timur laut dengan kecepatan sekitar 4–17 knot.

Pasang-Surut Juga Perlu Diperhatikan

Masyarakat pesisir juga diminta memperhatikan kondisi pasang-surut air laut. Untuk 12 September 2026, BMKG Maritim Teluk Bayur memprakirakan pasang terjadi sekitar pukul 04.00–08.00 WIB dan 16.00–20.00 WIB. Sementara waktu surut diprakirakan sekitar 23.00–01.00 WIB dan 11.00–13.00 WIB.

Informasi pasang-surut ini penting bagi masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir, terutama apabila bersamaan dengan hujan lebat dan gelombang tinggi. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko genangan atau memperlambat pembuangan air dari wilayah daratan ke laut.

Pemprov Sumbar: Jangan Tunggu Bencana Terjadi

Menyikapi kondisi tersebut, Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Barat Arry Yuswandi, selaku Kepala BPBD ex-officio, meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan bencana hidrometeorologi.

Bencana yang perlu diantisipasi antara lain banjir, banjir bandang, tanah longsor, pohon tumbang dan dampak cuaca ekstrem lainnya.

“Kami mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama yang berada di daerah rawan banjir dan longsor. Perhatikan kondisi lingkungan sekitar dan segera mengambil langkah penyelamatan apabila terjadi hujan lebat dalam waktu yang cukup lama,” ujar Arry Yuswandi di Padang, Jumat (11/9/2026).

Menurut Arry, kesiapsiagaan bencana tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah. Masyarakat harus menjadi bagian penting dalam sistem peringatan dini dengan mengenali ancaman di lingkungannya masing-masing.

Baca Juga:  Silat, Teater, dan Wisata: Inovasi Baru dalam Industri Hiburan

Karena itu, warga diminta secara aktif memantau perkembangan informasi cuaca, mengenali jalur dan tempat evakuasi, serta mengikuti arahan petugas apabila situasi mulai membahayakan.

“Jika hujan dengan intensitas tinggi berlangsung cukup lama, debit sungai mulai meningkat, atau masyarakat melihat tanda-tanda pergerakan tanah maupun longsoran, segera menjauh dari lokasi berbahaya dan mencari tempat yang lebih aman. Jangan mengambil risiko,” tegasnya.

Kenali Tanda Bahaya

Pemprov Sumbar mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu air sudah masuk rumah atau longsor sudah terjadi untuk melakukan evakuasi.

Pada daerah rawan longsor, masyarakat perlu memperhatikan munculnya retakan baru pada tanah atau bangunan, tanah yang bergerak, pohon atau tiang yang tiba-tiba miring, serta rembesan air yang tidak biasa.

Di kawasan bantaran sungai, kenaikan debit dan tinggi muka air yang berlangsung cepat juga harus menjadi tanda untuk segera meningkatkan kewaspadaan.

Apabila hujan deras berlangsung terus-menerus dan kondisi sungai semakin meningkat, masyarakat yang berada di kawasan rawan banjir maupun banjir bandang diminta segera menuju lokasi yang lebih tinggi dan aman sesuai jalur evakuasi yang telah ditentukan.

Warga juga diminta tidak bertahan di lokasi hanya karena air belum masuk ke rumah. Dalam situasi banjir bandang, perubahan kondisi dapat berlangsung sangat cepat.

Untuk pengendara, genangan air dan jalan yang berada di bawah tebing juga perlu dihindari ketika hujan deras berlangsung lama. Pengendara sebaiknya tidak memaksakan diri menerobos banjir atau berhenti di bawah tebing yang berpotensi longsor.

Sembilan Daerah Berstatus SIAGA

Peringatan kewaspadaan ini menyusul informasi dari Stasiun Meteorologi Kelas II Minangkabau mengenai potensi cuaca ekstrem di Sumatera Barat.

Kepala Stasiun Meteorologi Minangkabau Decky Irmawan menjelaskan, kondisi atmosfer saat ini mendukung pertumbuhan awan hujan di sejumlah wilayah Sumbar.

“Berdasarkan analisis, terdapat sejumlah faktor yang mendukung pertumbuhan awan hujan di wilayah Sumatera Barat, di antaranya Gelombang Rossby Equatorial, daerah pertemuan arus angin atau konvergensi, serta belokan angin (shearline),” kata Decky.

Baca Juga:  Atasi PSBS, Imran Lewati Ujian Perdana

Selain faktor atmosfer tersebut, anomali suhu muka laut di perairan barat Sumbar juga terpantau positif. Kondisi ini turut mendukung peningkatan potensi pertumbuhan awan hujan secara intensif di sejumlah wilayah.

Berdasarkan pemetaan BMKG untuk periode 11–13 September 2026, terdapat sembilan wilayah yang masuk status SIAGA, yakni:

  1. Kota Padang;
  2. Kota Pariaman;
  3. Kabupaten Padang Pariaman;
  4. Kepulauan Mentawai;
  5. Pasaman Barat;
  6. Pasaman;
  7. Agam;
  8. Pesisir Selatan; dan
  9. Kabupaten Solok.

Sementara wilayah yang masuk status WASPADA meliputi Kabupaten Limapuluh Kota, Tanah Datar, Sijunjung, Dharmasraya dan Solok Selatan serta wilayah sekitarnya.

Jangan Abaikan Peringatan Dini

Menindaklanjuti peringatan tersebut, Arry meminta BPBD kabupaten dan kota bersama seluruh unsur terkait meningkatkan pemantauan serta kesiapsiagaan di wilayah masing-masing.

Koordinasi antarlembaga juga perlu diperkuat sehingga apabila terjadi bencana, informasi dapat diterima masyarakat dengan cepat dan proses evakuasi dapat segera dilakukan.

Bagi masyarakat, langkah paling penting saat ini adalah tidak panik tetapi juga tidak lengah.

Warga di daerah rawan bencana sebaiknya memastikan anggota keluarga mengetahui tempat aman dan jalur evakuasi, menyimpan dokumen penting di tempat yang mudah dibawa, menyiapkan kebutuhan darurat, serta memastikan alat komunikasi tetap dapat digunakan.

Nelayan dan pengguna transportasi laut juga perlu memantau informasi gelombang sebelum berangkat dan tidak memaksakan perjalanan apabila kondisi laut dinilai membahayakan.

Pemprov Sumbar mengingatkan bahwa peringatan dini bukan berarti bencana pasti terjadi. Namun, peringatan tersebut harus dipandang sebagai kesempatan bagi masyarakat untuk bersiap sebelum risiko berubah menjadi bencana.

Kewaspadaan sejak dini, kecepatan mengambil keputusan dan kepatuhan terhadap arahan petugas dapat mengurangi risiko korban jiwa.

“Jangan mengabaikan peringatan dini. Jika terjadi bencana atau ditemukan kondisi yang berpotensi membahayakan, segera laporkan kepada petugas kebencanaan setempat,” kata Arry. (Eko/berbagai sumber)

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.