Oleh : Devi Diany
Laut tidak selalu bersahabat. Ada kalanya nelayan pulang membawa hasil tangkapan melimpah, tetapi ada pula saat ombak tinggi dan cuaca buruk membuat perahu harus kembali ke daratan tanpa hasil yang berarti. Bila cuaca buruk berlangsung lama maka tak ayal bisa jadi berhari-hari nelayan tidak melaut.
Bagi keluarga nelayan di Korong Pasar Pangian, Nagari Guguak Kuranji Hilir, Kecamatan Sungai Limau, Kabupaten Padang Pariaman, kondisi seperti itu bukan sesuatu yang asing. Ketika laut sedang tidak baik-baik saja dan para suami tak bisa melaut, para istri nelayan tidak khawatir dapurnya tak berasap. Mereka sudah terlatih dan siap siaga menghadapi masa-masa sulit tersebut.
Mereka adalah wanita tangguh yang memiliki usaha rumahan dengan bahan baku yang berasal dari suami mereka. Ikan tidak berhenti sebagai komoditas segar yang dijual begitu saja. Di tangan mereka, ikan hasil tangkapan para suami diolah menjadi berbagai makanan bernilai ekonomi. Ada bakso ikan, mpek-mpek ikan, peyek ikan, kerupuk ikan dan aneka makanan lainnya.
Dari aktivitas sederhana itu, para istri nelayan ini membentuk kelompok Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan nama “Kelompok Dapur Auliya” beranggotakan 14 pelaku UMKM. Usaha mereka menjadi salah satu sandaran ekonomi keluarga.
Ketua Kelompok Dapur Auliya, Darmawati saat ditemui di kedainya menyebut, usaha olahan serba ikan ini sebenarnya sudah dimulainya sejak 2007. Tetapi karena banyaknya kendala maka usaha tersebut sempat vakum beberapa lama. Lalu pada 2018, ibu 6 orang anak ini kembali aktif bersama rekan-rekannya dan membentuk Kelompok Dapur Auliya. Masing-masing anggota kelompok juga memiliki usaha sendiri di rumah dengan merek masing-masing.
“Kami mulai aktif lagi sejak 2018 dengan fokus pada makanan olahan ikan dengan nama Kelompok Dapur Auliya. Bahan baku utama dipasok oleh suami kami masing-masing,” terang wanita kelahiran 30 Mei 1975 ini.
Untuk kelancaran kelompok usahanya, Dapur Auliya memiliki struktur pengurus yang terdiri dari ketua dijabat Darmawati, sekretaris diemban Cindi Yohana dan Yuliati sebagai bendahara. Bagi Darmawati dan anggotanya, mengolah hasil laut bukan sekadar kegiatan untuk mengisi waktu luang. Ada kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi. Ada biaya sekolah anak yang harus disiapkan ketika penghasilan dari laut tidak bisa diandalkan.
“Usaha ini sangat membantu keluarga kami, terutama saat cuaca buruk dan ombak tinggi,” jelas istri dari Yuanes ini.

Tantangan Menaklukkan Dunia Digital
Usaha yang dibangun dari lingkungan kampung nelayan itu perlahan berkembang. Pelanggan produk Dapur Auliya kini tidak hanya berasal dari sekitar Sungai Limau atau wilayah Padang Pariaman saja. Produk mereka telah menjangkau berbagai daerah di Sumatera Barat, Jakarta dan Bandung. Bahkan, produk olahan hasil laut tersebut sudah sampai ke Malaysia.
Bagi kelompok yang beranggotakan ibu-ibu rumah tangga dari keluarga nelayan, capaian tersebut tentu bukan perkara kecil. Sebab, usaha mereka tumbuh dari dapur dan lingkungan tempat tinggal yang sederhana. Tidak ada pabrik besar. Tidak ada jaringan pemasaran raksasa. Yang ada adalah keterampilan mengolah hasil laut, kemauan untuk terus berusaha dan bahan baku yang tersedia dari hasil tangkapan para suami. Meski demikian, mereka menyadari pekerjaan rumah Dapur Auliya ke depan adalah memperluas jangkauan pemasaran.
“Kami belum maksimal dalam pemasaran produk. Penerapan digitalisasi pemasaran baru sebatas posting foto produk di grup Whatsapp (WA) dan Facebook. Lalu beberapa orang di antaranya menghubungi kami dan minta dibuatkan produk,” terang Darmawati.
Oleh sebab itu, anggota kelompok ini aktif produksi setiap kali ada pesanan saja. Jika dibandingkan, maka pesanan lebih banyak datang dari relasi saat mengikuti iven dan mempromosikan produk atau jejaring yang sudah terbangun selama ini. Pesanan dari pelanggan digital belum begitu banyak.
Para anggota kelompok sebenarnya sudah pernah mengikuti pelatihan digitalisasi, salah satunya terkait pembuatan katalog produk. Tetapi pelatihan pembuatan konten digital secara khusus, belum pernah mereka dapatkan. Padahal, di tengah perubahan perilaku konsumen, media sosial dapat menjadi etalase baru bagi produk UMKM.
“Saya menyadari kemampuan saya, orang bilang gagap teknologi, apalagi anggota saya. Jadi sangat sulit untuk beradaptasi dengan digitalisasi pemasaran,” jelasnya.
Meski demikian, Darmawati tak patah semangat. Beruntung sejumlah perguruan tinggi di Sumatera Barat setiap tahun mengirimkan mahasiswanya praktek di Dapur Auliya. Seperti tahun ini, ada mahasiswa Politeknik Negeri Padang (PNP) yang praktek di tempatnya. Mereka belajar sambil membantunya membuat aneka produk olahan dari ikan. Para anak muda itu juga membantunya membuat stiker merek dan juga pemasaran digital.
“Mahasiswa praktek itu sangat membantu sekali, terutama promosi di media sosial yang benar-benar sangat awam bagi kami. Tapi promosi itu masih berupa postingan foto dan video sederhana lalu share di grup WA atau sebagai status WA serta media sosial Facebook. Hanya saja hasilnya belum seperti yang diharapkan,” katanya.
Diakuinya, video pendek yang memperlihatkan proses pembuatan bakso ikan pastinya menjadi promosi yang sangat ampuh untuk produk mereka. Apalagi di video itu memperlihatkan bahan bakunya berasal dari hasil tangkapan nelayan setempat. Begitu pula proses pembuatan mpek-mpek, peyek maupun kerupuk ikan. Yang dijual bukan hanya produk, tetapi juga cerita. Cerita tentang nelayan yang pergi melaut. Cerita tentang ikan yang dibawa pulang. Cerita tentang tangan-tangan perempuan yang kemudian mengolahnya. Dan cerita tentang keluarga yang tetap bertahan ketika laut sedang tidak bersahabat.
Ketua Komunitas UMKM Padang Pariaman, Ali Akbar yang dihubungi terpisah menjelaskan, dari total 80 UMKM yang menjadi anggotanya, baru sekitar 60 persen yang sudah menerapkan digitalisasi produk. Itu pun juga terbilang digitalisasi sederhana seperti yang dilakukan Kelompok Dapur Auliya. Penerapan digitalisasi ini terkendala dengan kemampuan pelaku UMKM sendiri.
“Pelaku UMKM itu kebanyakan perempuan yang usianya tidak muda lagi. Disamping itu, tingkat pengetahuannya di bidang teknologi informasi juga sangat minim. Di sana kesulitannya,” jelas Ali Akbar.
Dikatakan, sebenarnya pelatihan untuk peningkatan sumber daya manusia itu cukup banyak. Salah satunya Nagari Guguk Kuranji Hilir pernah mendapatkan bantuan dari CRS Bank Nagari ketika menerima anugrah sebagai desa BRILian. Juga ada bimbingan teknis (bimtek) dari Dinas Koperasi dan UMKM Padang Pariaman serta pendampingan oleh perguruan tinggi, dengan Universitas Andalas misalnya.
“Agaknya kita perlu waktu untuk bisa menembus pemasaran digital itu,” katanya.
Ke depan, untuk mendongkrak daya saing produk local dan menuju pemasaran digital, pihaknya akan mensinergikan peran emak-emak pelaku UMKM dengan generasi muda setempat serta kerja sama dengan perguruan tinggi yang menempatkan mahasiswa praktek di kelompok UMKM. Para anggota yang pada umumnya kaum ibu terus didorong agar produktif. Selanjutnya, para mahasiswa tersebut digandeng sebagai influencer untuk memasarkan produk secara digital.
“Lewat strategi ini, kita harapkan rumah produksi tetap berdenyut dan pemasaran pun berjalan mengikuti perkembangan zaman,” jelas Ali.

Pemprov Sumbar Dorong Digitalisasi UMKM
Sementara Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Pemprov Sumbar) optimis dengan jumlah UMKM yang mencapai 740.357 unit. UMKM tersebut tidak hanya sekedar penopang ekonomi Sumbar, tetapi merupakan kekuatan besar yang menentukan daya tahan ekonomi daerah.
“Lebih daripada setengah penduduk kita bergerak di sektor UMKM. Inilah kekuatan kita,” kata Gubernur Sumbar, Mahyeldi saat menghadiri Sumatera Barat Creative Economy Festival (SCEF) 2026 yang digelar Bank Indonesia, Jumat (28/8/2026) di Padang.
Pemprov Sumbar mendorong pelaku UMKM dan ekonomi kreatif untuk naik kelas melalui digitalisasi agar pelaku usaha tidak hanya mengandalkan pasar konvensional. Digitalisasi pemasaran, peningkatan kualitas dan kemasan produk, hilirisasi, perluasan pembiayaan, serta penguatan sertifikasi dan industri halal menjadi bagian dari strategi tersebut.
Deputi Gubernur BI, Aida S. Budiman yang hadir secara virtual mengatakan, Sumbar memiliki modal kuat untuk mengembangkan ekonomi kreatif, khususnya melalui kekayaan wastra, songket, sulaman, kriya, kuliner dan kearifan lokal. Bahkan UMKM di Sumbar sudah ada yang melakukan ekspor ke Jepang, Prancis, dan bahkan ke Amerika Serikat.
“Bank Indonesia terus mendorong UMKM melalui penguatan kapasitas, model bisnis, sistem pembayaran, promosi, pembiayaan, dan akses pasar. Ia menyebut sejumlah UMKM Sumbar bahkan telah mampu menembus pasar ekspor Jepang, Prancis, dan Amerika Serikat,” katanya. (*)
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.






