Scroll untuk baca artikel
Banner Harian Khazanah
BeritaKomunitasPilihan RedaksiSeni & Budaya

Dari Lagu Tradisi ke Panggung Wisata, PISN 2026 Perkuat Sanggar Batu Baraguang Nagari Sawah Tangah

×

Dari Lagu Tradisi ke Panggung Wisata, PISN 2026 Perkuat Sanggar Batu Baraguang Nagari Sawah Tangah

Sebarkan artikel ini
Penyerahan aset oleh Tim Pengabdian BIMA kepada Sanggar Batu Baraguang, Senin (24/8), Foto: Firnando
Penyerahan aset oleh Tim Pengabdian BIMA kepada Sanggar Batu Baraguang, Senin (24/8), Foto: Firnando

 

Padang, Khazminang.id– Lagu-lagu daerah Minangkabau tidak hanya dilestarikan, tetapi mulai didorong untuk tampil dalam kemasan baru yang lebih adaptif terhadap kebutuhan wisata budaya.

Iklan
Scroll Untuk Baca Artikel

Melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) Tahun 2026, tim pengabdian Universitas Negeri Padang (UNP) mengimplementasikan program inovasi seni di Sanggar Batu Baraguang, Nagari Sawah Tanggah, Kecamatan Pariangan, Tanah Datar, dengan fokus pada pelatihan adaptasi lagu daerah Minangkabau untuk mendukung wisata budaya berkelanjutan.

Program bertajuk “Inovasi Sanggar Batu Baraguang: Pelatihan Adaptasi Lagu Daerah Minangkabau untuk Wisata Budaya Berkelanjutan” tersebut didanai melalui Hibah BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dan dilaksanakan oleh tim dari Departemen Seni Drama, Tari, dan Musik (Sendratasik), Fakultas Bahasa dan Seni, UNP.

Pelaksanaan program tidak berhenti pada pelatihan. Tim pengabdian merancang rangkaian kegiatan secara bertahap mulai dari identifikasi kebutuhan mitra, pelatihan, praktik pengembangan karya, pendampingan produksi, monitoring dan evaluasi (monev), hingga penyerahan aset kepada Sanggar Batu Baraguang sebagai mitra program.

Wali Nagari Sawah Tanggah, Dafriandi, S.Pdi., kepada Khazminang.id, Jum’at (28/8) menyambut baik pelaksanaan PISN 2026 di wilayahnya. Ia menilai keterlibatan perguruan tinggi memberikan peluang bagi masyarakat dan pelaku seni untuk meningkatkan kapasitas sekaligus mengembangkan potensi seni tradisi sebagai bagian dari kekuatan wisata budaya nagari.

“Keterlibatan perguruan tinggi dalam pengembangan kesenian masyarakat memberikan peluang bagi sanggar untuk meningkatkan kapasitas sekaligus memperluas pemanfaatan seni tradisi sebagai bagian dari pengembangan wisata budaya”, ujarnya.

Sementara itu, Ketua Tim Pengabdian, Dr. Firnando Sabetra, M.Pd., mengatakan bahwa inti program bukan sekadar memberikan pelatihan, melainkan membangun kemampuan mitra agar mampu mengembangkan karya secara mandiri dan berkelanjutan.

Baca Juga:  LKAAM Sumbar: Sertifikasi Tanah Ulayat Penting untuk Mencegah Konflik Antar-Generasi

“Melalui pelatihan ini, kami ingin menghadirkan model adaptasi lagu daerah yang tetap berpijak pada akar budaya Minangkabau, namun dikemas secara kreatif sehingga dapat menjadi daya tarik wisata budaya yang berkelanjutan,” ujarnya.

Pelatihan Tidak Sekadar Teori

Dijelaskan Firnando, tahap implementasi program diawali dengan Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan pemerintah nagari, pengelola Sanggar Batu Baraguang Rian Saputra, S.Sn., tokoh masyarakat, pelaku seni, serta peserta pelatihan.

FGD menjadi ruang untuk memetakan kebutuhan mitra sekaligus menyusun strategi pelaksanaan program. Dari forum tersebut, tim bersama mitra menyepakati tahapan pelatihan yang diarahkan pada kebutuhan nyata sanggar.

Pelatihan kemudian dilaksanakan dengan pendekatan teori dan praktik. Peserta tidak hanya diperkenalkan pada konsep adaptasi lagu daerah, tetapi juga terlibat langsung dalam proses pengembangan aransemen, eksplorasi bentuk pertunjukan, pengolahan materi lagu, hingga praktik penyajian karya.

Dijelaskan Firnando, tujuan utama program bukan mengubah identitas lagu tradisional, melainkan menemukan bentuk penyajian baru yang tetap berakar pada budaya Minangkabau.

“Melalui pelatihan ini, kami ingin menghadirkan model adaptasi lagu daerah yang tetap berpijak pada akar budaya Minangkabau, namun dikemas secara kreatif sehingga dapat menjadi daya tarik wisata budaya yang berkelanjutan,” ujarnya.

Firnando berpendapat, lagu daerah memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi bagian dari atraksi wisata. Namun, proses adaptasi harus tetap memperhatikan karakter, nilai, dan identitas budaya yang melekat pada karya tradisi karena itu, peserta didorong tidak sekadar menjadi pelaku pertunjukan, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mengembangkan karya secara mandiri setelah program berakhir.

Mahasiswa Terlibat dalam Proses Pendampingan

Program PISN 2026 juga melibatkan mahasiswa sebagai bagian dari proses pembelajaran berbasis pengabdian kepada masyarakat.

Tim pengabdian terdiri atas Dr. Firnando Sabetra, M.Pd. sebagai ketua, dengan anggota Olan Yogha Pratama, M.Pd. dan Dr. Alrizka Hairi Dilfa, M.Pd.

Baca Juga:  Wakil Ketua DPRD Sumbar Ikut Melepas Tim Ekspedisi Rupiah Berdaulat di Pelabuhan Teluk Bayur Padang

Sementara mahasiswa yang terlibat adalah Afridino, mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Seni, serta Akbar Permana dan Zulgian Ramadanel.

Keterlibatan mahasiswa diharapkan tidak hanya membantu proses teknis kegiatan, tetapi juga memberikan pengalaman langsung dalam mengembangkan seni berbasis masyarakat. Di sisi lain, kehadiran mahasiswa menjadi bagian dari upaya membangun regenerasi pelaku seni yang memahami tradisi sekaligus memiliki kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Monev Ukur Dampak Program

Setelah pelatihan dan pendampingan berjalan, tim pengabdian melakukan monitoring dan evaluasi (monev) untuk memastikan program berjalan sesuai target, pada Senin (24/8) lalu.

Tim Monev yang terdiri daosen UNP dan ISI Padang Panjang didampingi oleh staf LP2M UNP. melihat perkembangan kemampuan peserta, penerapan materi pelatihan, proses penciptaan dan pengembangan karya, serta kesiapan mitra untuk melanjutkan program secara mandiri.

Selain itu, evaluasi juga menjadi ruang refleksi bersama antara tim dan mitra. Berbagai kendala yang muncul selama pelaksanaan dibahas untuk kemudian dilakukan penyempurnaan terhadap materi, metode pelatihan, maupun hasil karya yang dikembangkan.

“Yang kami ukur bukan hanya apakah pelatihan sudah dilaksanakan, tetapi sejauh mana kemampuan tersebut benar-benar dapat diterapkan oleh mitra,” kata Firnando.

Dengan demikian, keberhasilan program tidak hanya dilihat dari jumlah kegiatan yang terlaksana, tetapi dari perubahan kapasitas mitra dan keberlanjutan aktivitas Sanggar Batu Baraguang setelah program PISN selesai.

Aset Diserahkan, Mitra Didorong Mandiri

Salah satu tahapan penting dalam implementasi PISN 2026 adalah penyerahan aset program kepada Sanggar Batu Baraguang.

Penyerahan aset tersebut dimaksudkan untuk memperkuat keberlanjutan program. Berbagai sarana pendukung yang diberikan diharapkan dapat dimanfaatkan sanggar untuk kegiatan latihan, pengembangan karya, produksi, dan pertunjukan seni.

Baca Juga:  RUU Daerah Kepulauan Didorong Hadirkan Keadilan Fiskal bagi Wilayah Maritim

Dengan penyerahan aset tersebut, program tidak berhenti ketika rangkaian kegiatan hibah selesai. Sanggar Batu Baraguang diharapkan dapat menggunakan fasilitas yang diberikan untuk melanjutkan pengembangan karya secara mandiri.

Bagi tim pengabdian, penyerahan aset juga menjadi bagian dari strategi membangun keberlanjutan. Mitra tidak ditempatkan semata-mata sebagai penerima program, tetapi sebagai pihak yang memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan dan memanfaatkan hasil inovasi yang telah dibangun bersama.

Menjaga Tradisi, Membuka Peluang Ekonomi

Program PISN 2026 menargetkan sejumlah luaran, antara lain tersusunnya model pelatihan adaptasi lagu daerah Minangkabau, meningkatnya kompetensi anggota sanggar, terciptanya karya inovatif berbasis lagu tradisional, serta terselenggaranya pertunjukan yang dapat mendukung wisata budaya.

Selain itu, program juga diarahkan menghasilkan modul pelatihan, dokumentasi audiovisual, publikasi ilmiah dan media massa, serta hak kekayaan intelektual atas produk inovasi yang dihasilkan.

Lebih jauh, program ini diharapkan membuka peluang pemanfaatan seni tradisi sebagai bagian dari ekonomi kreatif masyarakat.

Bagi Nagari Sawah Tanggah, pengembangan Sanggar Batu Baraguang tidak hanya berkaitan dengan keberlangsungan sebuah kelompok seni. Ia juga menjadi bagian dari upaya membangun identitas budaya sekaligus menciptakan atraksi yang dapat memperkaya pengalaman wisatawan.

Melalui kolaborasi antara akademisi, pemerintah nagari, seniman, mahasiswa, dan masyarakat, PISN 2026 diharapkan menjadi model pengembangan seni tradisi yang tidak terjebak pada romantisme masa lalu. Dengan demikian, tradisi tetap dipertahankan, tetapi cara menyajikannya terus diperbarui.

Dari sanggar, lagu-lagu Minangkabau diharapkan dapat bergerak ke panggung wisata—membawa identitas budaya lokal sekaligus membuka ruang baru bagi kreativitas, regenerasi seniman, dan penguatan ekonomi masyarakat.

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.



Penulis: Novrizal SadewaEditor: Novrizal Sadewa