Oleh: Indra Syarif
(Anggota FKPPI & Pemerhati Masalah Sosial)
Setiap tanggal 12 September, Keluarga Besar Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan dan Putra-Putri TNI-Polri (FK-PPI) memperingati hari kelahirannya. Penanggalan ini persis sama dengan Hari Ulang Tahun PEPABRI. Persamaan ini bukanlah sebuah kebetulan matematis dalam kalender organisasi, melainkan sebuah jejak sejarah yang menyimppan riwayat panjang.
Selama ini, narasi populer yang mengakar kuat menyebutkan bahwa FK-PPI didirikan murni oleh konsensus 7 (tujuh) orang putra-putri ABRI yang kini tinggal Pak Surya Paloh sebagai satu-satunya pelaku sejarah yang masih hidup dari lingkar utama tersebut.
Namun, apakah postulat pendiri FK-PPI tersebut sudah menjadi kebenaran mutlak yang tertutup dari kajian ulang?
Sejarah tidak pernah ditulis dalam ruang hampa. Di balik fakta yang selama ini diyakini umum, ada durasi dan rantai peristiwa yang perlahan terlupakan.
Melalui kesaksian langsung tokoh penting Orde Baru, Prof. Dr. Mayjen (Purn) Suhardiman, SE, Ketua Bidang Kepemudaan DPP PEPABRI masa bakti 1978–1983 sekaligus Ketua Umum Depinas SOKSI—pintu penyempurnaan sejarah FK-PPI menemukan jalurnya yang terang.
Hubungan penulis dengan Pak Suhardiman terbangun erat pada kurun waktu 1983–1990. Sebagai alumni Pendidikan Politik Kader Bangsa SOKSI ke-2 di Medan (1981) dan Kader Andalan SOKSI-Lemhannas (1987), penulis sering mendampingi Ketua Depidar SOKSI Sumbar menghadap Depinas SOKSI di Jakarta. Kedekatan tersebut makin rekat lewat hobi yang sama: bermain catur hingga larut malam. Di atas papan catur itulah, wacana-wacana politik kebangsaan dan ingatan sejarah kerap mengalir jujur tanpa sekat formalitas.
Salah satu momen krusial terjadi sesudah Pemilu 1987. Dalam Rapimnas SOKSI di Jakarta, suasana sempat memanas saat DPD-DPD SOKSI dari berbagai daerah menyampaikan pandangan umum. Banyak daerah melemparkan kritik tajam dan tudingan kecemburuan terhadap FK-PPI. Sebagai organisasi yang tergolong baru, kader-kader FK-PPI dinilai terlampau cepat melesat dan meloloskan banyak kadernya ke DPRD Tingkat I dan II, menyaingi dominasi kader Golkar lainnya.
Menariknya, saat menyampaikan jawaban atas pandangan umum tersebut, Pak Suhardiman bersikap dingin. Beliau sama sekali tidak menyebut atau merespons kritikan daerah mengenai FK-PPI. Beliau justru melompati dinamika internal itu dan berfokus memaparkan analisis Indonesia Post-Soeharto, potensi power struggle di tubuh Golkar, serta ancaman ATHG (Ancaman, Tantangan, Hambatan, dan Gangguan). Analisis politik beliau terbukti sangat akurat di kemudian hari.
Rasa penasaran membawa penulis membeberkan pertanyaan saat mendampingi beliau bermain catur seusai acara: “Kenapa Bapak tidak menggubris atau no comment atas tudingan daerah terhadap FK-PPI?”
Pak Suhardiman tertawa kecil lalu menjawab singkat namun mendalam, “Wass, FK-PPI itu saya ikut mendirikan. Gimana saya mau komen? Sekarang organisasi itu sudah besar, lupa sama pendirinya.”
Dari dialog lepas di meja catur itulah, Pak Suhardiman membeberkan konstruksi sejarah yang sebenarnya. Menurut beliau, Yoseano Waas dan rekan-rekan pemuda purnawirawan dari Medan maupun Jakarta adalah pembawa ide atau gagasan awal. Namun, ide tersebut tidak serta-merta menjelmakan FK-PPI tanpa adanya eksekusi legal-formal dari institusi induknya.
Eksekusi sejarah itu terjadi pada tahun 1978. Salah satu keputusan penting Munas/Rapimnas PEPABRI tahun 1978 adalah mendirikan dan membentuk “Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan Indonesia” (disingkat FK-PPI). Keputusan penetapan berdirinya FK-PPI dibacakan pada malam puncak peringatan HUT PEPABRI tanggal 12 September 1978. Hal inilah yang menjadi alasan mendasar mengapa tanggal kelahiran FK-PPI dan PEPABRI jatuh pada hari dan tanggal yang sama.
Untuk menindaklanjuti keputusan tersebut, DPP PEPABRI mengandalkan DPD PEPABRI di seluruh Indonesia sebagai pemegang mandat pembentukan pengurus di daerah. Sekitar satu bulan setelah SK diterbitkan, Pak Suhardiman selaku Ketua Bidang Kepemudaan DPP PEPABRI mengumpulkan para pemuda pembawa gagasan serta utusan daerah di Villa Evergreen, Cisarua. Di Cisarua inilah dirumuskan instrumen dasar organisasi: AD/ART, Ikrar FK-PPI, Program Umum, dan susunan Pengurus Pusat.
Namun, langkah FK-PPI tidak mulus secara administratif. Menpora Abdul Gafur saat itu sempat menolak memberikan pengakuan resmi karena menganggap FK-PPI sebagai organisasi yang eksklusif. Tak hilang akal, Pak Suhardiman melakukan terobosan politik. Pada triwulan pertama tahun 1979 (sekitar Februari), ketika FK-PPI Pengurus Daerah Bali siap dilantik, Pak Suhardiman menghubungi Menteri Penerangan Letjen Ali Murtopo yang sedang bertugas di Bali. Pak Ali Murtopo bersedia hadir dan meresmikan pelantikan PD FK-PPI Bali. Kehadiran Ali Murtopo yang dikenal sebagai king maker politik Orde Baru seketika mengunci penolakan Menpora dan mempercepat konsolidasi FK-PPI di tingkat nasional.
Berdasarkan kesaksian dan fakta sejarah tersebut, dapat ditarik beberapa pokok kesimpulan bahwa berdirinya FK-PPI berlandaskan Surat Keputusan DPP PEPABRI tanggal 12 September 1978. Kesamaan tanggal HUT FK-PPI dan PEPABRI menegaskan hubungan historis antara “anak dan orang tua”. Pembentukan FK-PPI di daerah pada awalnya ditugaskan penuh kepada DPD PEPABRI di seluruh Indonesia. Peran Prof. Suhardiman dan DPP PEPABRI adalah fasilitator, eksekutor legal, dan pembina utama yang menjembatani gagasan para pemuda (Yoseano Waas dkk.) hingga menjadi wadah keorganisasian yang sah. Kepanjangan awal sebagaimana tercantum dalam AD/ART pertama adalah Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan Indonesia (sebelum meleburkan nomenklatur ABRI/TNI-Polri di masa-masa berikutnya).
Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mengerdilkan peran para tokoh pemuda pendiri FK-PPI, melainkan mendudukkan proses sejarah sebagaimana adanya (das Sein), bukan sekadar sebagaimana mestinya (das Sollen). Meluruskan titian sejarah adalah tanggung jawab moral seluruh anggota FK-PPI agar generasi penerus tidak kehilangan akar, serta senantiasa menghargai setiap tangan yang pernah membidani kelahirannya. (**)
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





