Oleh : Riri Satria*)
Setiap tanggal 2 Mei, kita memperingati Hari Pendidikan Nasional, sebuah momentum yang tidak sekadar hadir sebagai rutinitas seremonial, tetapi menyimpan jejak sejarah yang dalam. Tanggal ini dipilih untuk mengenang hari lahir Ki Hajar Dewantara, sosok yang meletakkan fondasi penting bagi pendidikan di Indonesia.
Ia menghadirkan gagasan bahwa pendidikan adalah jalan membebaskan manusia dari kebodohan, dari ketertinggalan, sekaligus dari cara berpikir yang sempit. Dalam pandangannya, pendidikan bukan hanya soal apa yang diketahui, tetapi bagaimana manusia tumbuh sebagai pribadi yang merdeka, berkarakter, dan bertanggung jawab.
Kesadaran itulah yang membawa kita pada pemahaman bahwa pendidikan memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar proses belajar di ruang kelas. Ia tidak berhenti pada penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga menyentuh wilayah sikap, perilaku, karakter, dan etika.
Pendidikan adalah proses panjang yang membentuk cara kita memandang dunia, merespons perbedaan, serta mengambil keputusan dalam kehidupan. Dalam setiap pengalaman, keberhasilan, bahkan kegagalan, sesungguhnya kita sedang belajar menjadi manusia yang lebih utuh.
Kearifan lokal pun mengajarkan hal serupa. Dalam tradisi Minangkabau, dikenal pepatah “alam takambang jadi guru,” yang mengandung makna bahwa alam semesta adalah sumber pembelajaran yang tak pernah habis. Dari alam kita belajar tentang keseimbangan, ketekunan, kesabaran, dan kebijaksanaan hidup.
Nilai ini mengingatkan kita bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga hadir dalam kehidupan sehari-hari, dalam interaksi sosial, dan dalam hubungan manusia dengan lingkungannya. Dunia yang terus berubah justru menuntut kita untuk semakin peka, tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan bijak dalam bertindak.
Hari Pendidikan Nasional bukan sekadar peringatan, melainkan ajakan untuk terus merefleksikan peran kita dalam memajukan pendidikan. Ia menegaskan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama, keluarga, masyarakat, dan negara, yang tidak pernah selesai dalam satu generasi.
Pendidikan adalah perjalanan panjang yang membentuk masa depan bangsa, perlahan namun pasti, melalui manusia-manusia yang terus belajar dan bertumbuh. (**)
*) Penulis adalah akademisi UI, komisaris di BUMN, seniman dan Ketua komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) Jakarta.
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.






