Di banyak sungai di Indonesia, termasuk di Sumatera, kita menemukan satu pemandangan yang semakin akrab: dasar sungai yang dipenuhi ikan sapu-sapu (ikan sapu-sapu). Mereka menempel di batu, bergerak lambat, namun pasti, menguasai ruang demi ruang tanpa suara. Tidak ada demonstrasi, tidak ada konflik terbuka, tetapi kehadiran mereka terasa—pelan, konsisten, dan sulit dibendung.
Lalu manusia datang dengan kegelisahan.
Pertanyaan-pertanyaan bermunculan: bagaimana cara mengendalikan mereka? Haruskah kita membuat program penertiban? Perlukah penyuluhan? Bahkan, dalam imajinasi yang lebih liar, muncul gagasan untuk “melibatkan” lembaga negara seperti Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dan Direktorat Jenderal Imigrasi—seolah-olah ikan-ikan ini adalah entitas administratif yang bisa diatur dengan dokumen dan regulasi.
Di titik ini, kita sebenarnya sedang menyaksikan sebuah ironi.
Ikan sapu-sapu tidak pernah mengurus izin tinggal. Mereka tidak pernah melewati loket pemeriksaan. Mereka tidak tahu apa itu hukum, norma, apalagi etika lingkungan. Mereka hidup dalam satu sistem yang sangat sederhana: sistem alam. Dalam sistem itu, yang berlaku hanya satu hukum—bertahan hidup.
Mereka makan jika ada makanan. Mereka berkembang biak jika ada ruang. Mereka menyebar jika tidak ada yang menghentikan. Tidak ada niat jahat, tidak ada ambisi kekuasaan, tidak ada pelanggaran moral. Yang ada hanyalah konsistensi naluri.
Namun anehnya, kita sering memperlakukan masalah ini seolah-olah ikanlah yang harus berubah.
Kita berbicara tentang “mengendalikan” mereka dengan pendekatan yang bahkan tidak relevan. Kita membayangkan intervensi sosial terhadap makhluk yang tidak memiliki kesadaran sosial. Kita ingin menciptakan keteraturan pada sesuatu yang sejak awal tidak pernah berada dalam sistem keteraturan manusia.
Di sinilah letak kekeliruan mendasarnya, Masalah ikan sapu-sapu bukanlah masalah ikan, Masalahnya adalah manusia!.
Kita lupa bahwa ikan-ikan itu tidak datang sendiri. Mereka tidak melakukan migrasi lintas samudra dengan kesadaran penuh. Mereka dibawa—oleh manusia—dalam bentuk komoditas yang tampak tidak berbahaya: ikan hias. Di dalam akuarium, mereka dipuji sebagai “pembersih”. Mereka diberi peran kecil yang fungsional, bahkan dianggap solusi.
Namun seperti banyak solusi instan lainnya, dampaknya tidak berhenti di ruang kaca.
Ketika ikan-ikan itu tumbuh besar, ketika mereka tidak lagi sesuai dengan estetika akuarium, atau ketika pemiliknya kehilangan minat, mereka dilepas. Sungai menjadi tempat pembuangan yang sunyi. Tidak ada berita, tidak ada laporan resmi, tetapi dampaknya nyata.
Kita membuka pintu, lalu terkejut ketika tamu itu tidak mau pergi.
Lebih dari itu, kita juga menyediakan kondisi yang sempurna bagi mereka untuk berkembang, Sungai yang mulai kehilangan keseimbangan, Predator alami yang tidak ada, Sumber makanan yang melimpah .
Dalam situasi seperti itu, ledakan populasi bukanlah anomali. Ia adalah konsekuensi logis.Namun alih-alih melihat ke dalam, kita justru sering melihat ke luar.
Kita bertanya: kenapa ikan ini begitu “bandel”?
Kita bertanya: kenapa mereka tidak bisa dikendalikan?
Padahal pertanyaan yang lebih jujur adalah:
kenapa sistem kita membiarkan ini terjadi?
Di sinilah esai ini ingin menempatkan cermin.
Ikan sapu-sapu adalah refleksi dari cara kita mengelola lingkungan. Ia menunjukkan bahwa kita sering kali lebih sibuk merancang solusi yang rumit daripada menyelesaikan akar masalah yang sederhana.
Kita membayangkan program besar, padahal yang dibutuhkan adalah konsistensi kecil, Edukasi kepada pembeli ikan hias, Pengawasan distribusi spesies tertentu, Larangan tegas terhadap pelepasan ke alam
Hal-hal ini terdengar sepele, bahkan membosankan. Tidak heroik, tidak dramatis. Tetapi justru di situlah letak efektivitasnya.
Sebaliknya, gagasan-gagasan besar yang tidak menyentuh akar masalah sering kali hanya menjadi wacana. Kita merasa telah berpikir jauh, padahal kita hanya berputar di permukaan.
Lebih jauh lagi, fenomena ini juga memperlihatkan kecenderungan lain dalam masyarakat kita: keinginan untuk mengatur segala sesuatu, bahkan yang tidak bisa diatur.
Kita ingin segala sesuatu tunduk pada sistem kita—bahkan alam. Kita lupa bahwa tidak semua hal bisa diselesaikan dengan pendekatan administratif atau sosial. Ada batas di mana manusia harus memahami, bukan mengendalikan.
Namun memahami sering kali lebih sulit daripada mengatur. Memahami berarti mengakui bahwa kita bagian dari masalah. Memahami berarti menerima bahwa kesalahan tidak selalu berada di luar. Dan itu tidak selalu nyaman.
Karena itu, lebih mudah bagi kita untuk “menyalahkan” ikan.
Padahal ikan tidak pernah membuat keputusan untuk merusak ekosistem. Mereka hanya menjalankan perannya sebagai makhluk hidup. Jika ada yang salah, itu bukan pada naluri mereka, melainkan pada konteks yang kita ciptakan.
Dalam konteks lokal, misalnya di Sumatera Barat, persoalan ini bisa menjadi pintu masuk refleksi yang lebih luas. Sungai bukan hanya ruang ekologis, tetapi juga ruang sosial dan budaya. Ketika satu spesies mendominasi, yang terganggu bukan hanya keseimbangan alam, tetapi juga relasi manusia dengan lingkungannya.
Di titik ini, solusi tidak bisa hanya teknis. Ia harus menyentuh kesadaran. Bukan kesadaran ikan—tetapi kesadaran manusia.
Kita perlu menggeser cara pandang: dari “bagaimana mengendalikan ikan” menjadi “bagaimana kita tidak menciptakan masalah baru”.
Pada akhirnya, ikan sapu-sapu bukanlah musuh. Mereka hanyalah konsekuensi. Dan mungkin, pertanyaan paling penting yang perlu kita ajukan bukan lagi tentang mereka, melainkan tentang diri kita sendiri:
Mengapa kita lebih sibuk mengatur makhluk yang tidak memiliki kesadaran,
sementara kita sering lalai menata perilaku kita yang justru memiliki kesadaran?
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.






