Padang, Khazminang.id — Media sosial kini ramai dengan promosi aneka produk. Faktanya memang promosi di media sosial itu sangat ampuh mendongkrak pemasaran produk. Tetapi tidak semua pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang mampu mengikuti derasnya arus digitalisasi.
Ada produk yang bagus, bahan bakunya juga berkualitas, bahkan dibuat dari bahan-bahan organik, tetapi pemasarannya masih terbatas. Mereka tetap eksis dengan cara-cara yang terbilang tradisional lewat promosi dari mulut ke mulut atau promosi dengan mengikuti berbagai iven. Konsumen di dunia digital masih sulit untuk dijangkau.
Kondisi itulah yang dirasakan Wahyuni Kasim yang mengembangkan produk dengan nama Lapau Organik. Di tangan wanita yang akrab disapa Yuni ini, bahan-bahan yang selama ini mudah ditemukan di sekitar masyarakat, diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.
Proses pengolahan dilakukan di rumahnya di Korong Kabun Mudik, Nagari Kapalo Koto, Kecamatan Nan Sabaris, Kabupaten Padang Pariaman. Daging kelapa diolah menjadi Virgin Coconut Oil (VCO), air kelapa diolah menjadi kecap, sementara kefir dikembangkan menjadi yogurt. Semua produk tersebut dibuat dengan mengutamakan bahan-bahan organik.
“Kita kemas VCO dalam botol 250 ml dengan harga Rp 70 ribu, kecap 200 ml seharga Rp 15 ribu dan kecap 300 ml harga Rp 20 ribu. Untuk yogurt ada kemasan 250 ml seharga Rp 30 ribu, kemasan 500 ml harga Rp 60 ribu dan kemasan 1 liter harga Rp 120 ribu,” katanya.
Semua jenis produk itu tidak diproduksi setiap hari. Yunu membuat VCO, kecap maupun yogurt berdasarkan pesanan. Apalagi produk organik bila disimpan dalam waktu lama harus dengan perlakuan khusus, seperti menyimpannya di freezer. Sementara hingga saat ini, dia belum memiliki rumah produksi sendiri. Lokasi usaha dan rumah tinggal masih menyatu.

Yuni sebenarnya tidak sepenuhnya tertinggal dari perkembangan pemasaran digital. Ia sudah mencoba memanfaatkan berbagai media sosial untuk memperkenalkan produknya. Status WhatsApp (WA) menjadi salah satu sarana yang paling sering digunakan. Selain itu, ia juga memanfaatkan Facebook dan Instagram untuk mengunggah produk Lapau Organik. Yuni bahkan telah memiliki toko di Shopee dengan nama ummu vinjel.
“Akun digital Lapau Organik sudah ada di media sosial, misalnya di Tik Tok, Facebook atau di Instagram. Bahkan ada toko di Shopee dengan nama ummu vinjel. Tetapi hanya sekali-kali digunakan untuk promosi produk karena harus menunggu anak yang bisa menggunakannya,” terang ibu 2 orang anak ini.
Menurut Yuni, anak perempuannya Swindi Anyelir Princes terbilang aktif di media sosial. Gadis yang akrab disapa Angel itu, punya bisnis online sendiri dengan produk-produknya berupa kerajinan buket pengantin, seserahan maupun hampers. Angel juga aktif sebagai affiliate untuk produk-produk yang ada di Shopee, seperti pakaian gamis, jilbab, rok dan lainnya.
“Angel lebih banyak promosi untuk usaha yang dilakoninya. Mungkin karena produk saya jarang muncul berpromosi di mesia sosial, sehingga saya belum merasakan hasilnya. Pelanggan lebih banyak saya dapatkan dari pameran atau bazar,” jelas perempuan kelahiran 26 Juni 1969 ini.
Ibu dari Stevin dan Angel ini menyadari, dunia digital memiliki cara kerja yang berbeda. Ada teknik membuat foto produk yang menarik, membuat video pendek, menulis keterangan produk, membuat konten secara rutin, hingga memahami bagaimana sebuah unggahan bisa menjangkau lebih banyak orang.Bagi pelaku usaha yang sejak awal terbiasa menjalankan bisnis dengan cara konvensional, semua itu tentu bukan perkara mudah.
Yuni mengakui dirinya belum begitu mahir menggunakan teknologi informasi. Ia bisa menggunakan media sosial untuk mengunggah produk, tetapi belum sepenuhnya memahami bagaimana mengelola media sosial sebagai sebuah mesin pemasaran.
Di sinilah tantangan yang dihadapi Yuni, mungkin juga dirasakan banyak pelaku UMKM perempuan lainnya yang tidak lagi muda. Bagi generasi yang sejak kecil sudah akrab dengan telepon pintar dan media sosial, membuat video, mengedit foto, melakukan siaran langsung atau mengelola toko daring mungkin terasa biasa.

Produk Bagus Saja Tidak Cukup
Perjalanan Lapau Organik memperlihatkan satu persoalan yang kini semakin sering dihadapi UMKM. Memiliki produk berkualitas belum otomatis membuat produk mudah ditemukan konsumen. Di era digital, kemampuan bercerita tentang produk menjadi sama pentingnya dengan kemampuan membuat produk itu sendiri.
VCO dari daging kelapa, misalnya, bukan sekadar minyak kelapa dalam sebuah botol. Ada cerita tentang bagaimana daging kelapa diproses hingga menghasilkan VCO. Kecap dari air kelapa juga memiliki cerita tersendiri. Begitu pula yogurt yang dibuat dari kefir. Semua itu sebenarnya merupakan bahan konten yang menarik jika dikemas dengan cara yang tepat.
Proses produksi dapat dijadikan video. Bahan baku dapat diperkenalkan. Manfaat dan keunikan produk dapat diceritakan. Bahkan, sosok Yuni sendiri bisa menjadi bagian dari cerita pemasaran.
Konsumen hari ini tidak hanya membeli barang. Mereka juga semakin tertarik mengetahui siapa yang membuat produk, bagaimana prosesnya dan apa yang membuat sebuah produk berbeda dari produk lainnya. Di sinilah peluang Lapau Organik sebenarnya terbuka lebar. (*)
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.






