Oleh : Devi Diany
Pelabuhan Penyeberangan Bungus, Kota Padang, di sore hari, Rabu, 16 September 2026. Cahaya matahari yang mulai condong ke barat, memantul di permukaan laut yang airnya biru jernih. Sementara perbukitan hijau Bungus Teluk Kabung menjadi latar alami kawasan pelabuhan. Langit juga sangat cerah. Sungguh, suasana pelabuhan yang khas di kala petang.
Dari kejauhan di tengah laut, KMP Ambu-Ambu kian mendekat ke dermaga. Suara mesin kapal terdengar semakin jelas. Kapal jenis Roro (Roll-on/Roll-off) milik ASDP Indonesia Ferry itu, kemudian bergerak perlahan mencari posisi untuk bersandar. Gelombang kecil terbentuk di sekitar haluan kapal. Setelah kapal benar-benar sandar dengan sempurna, pintu akses penumpang mulai dibuka. Satu persatu penumpang turun dan disambut sanak saudara yang datang menjemput.
KMP Ambu-Ambu dengan kapasitas 149 penumpang itu pun bersiap berlayar kembali serta berbagi kisah dengan mengangkut penumpang ke Sikakap, sebuah kecamatan di Pulau Pagai Utara. Kabupaten Mentawai sendiri merupakan pulau terluar yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Ibukotanya Tuapejat di Pulau Sipora. Pulau-pulau utama lainnya di Mentawai selain Sipora adalah Pulau Siberut, Pulau Pagai Utara dan Pulau Pagai Selatan.
“Kapal ferry tersebut tak sekedar menghubungkan dua wilayah Padang dan Mentawai secara geografis, tetapi menjadi semacam jembatan laut bagi Mentawai menuju pusat pemerintahan, perdagangan, pendidikan, kesehatan dan berbagai kebutuhan lainnya di Kota Padang,” ucap General Manager PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Padang, Hari Gunanto saat ditemui di ruang kerjanya.
Menjaga Rantai Pasok Kebutuhan Warga
Petang itu, penumpang mulai bersiap naik ke kapal membawa barang-barang mereka. Darilus adalah satu di antara penumpang yang hendak ke Mentawai petang itu. Dia tinggal di Kota Padang dan mencari penghidupan dengan berdagang sayur mayur ke Sikakap. Di Sikakap, ada putrinya yang telah berkeluarga. Selama berdagang di Sikakap, Darilus tinggal bersama sang anak.
“Saya berdagang kebutuhan harian (sembako) di Sikakap. Dari Padang, saya bawa sayur-sayuran, cabe, bawang dan lainnya menggunakan becak,” ujar Darilus, perempuan tangguh yang ditemui saat mengatur posisi becak miliknya di dalam kapal.
Perempuan 58 tahun itu rutin bolak balik Padang – Sikakap setiap pekan naik KMP Ambu-Ambu yang berukuran 571 Gross Tonnage (GT) itu. Barang kebutuhan pokok sangat laris dijual di Mentawai, sebab nyaris semua keperluan warga di kepulauan itu dipasok dari Kota Padang.
“Saya sangat bersyukur adanya KMP Ambu-Ambu yang melayani rute Padang-Mentawai dan sebaliknya. Kapal ini bisa mengangkut semua barang yang kita butuhkan di sana,” katanya berbangga.
KMP Ambu-Ambu secara rutin melayani masyarakat dengan berbagai rute perjalanan, dari Padang menuju berbagai titik tujuan di Mentawai, masing-masing Tuapejat (Sipora), Siberut dan Sikakap. Perjalanan Padang – Mentawai memakan waktu sekitar 10 jam hingga 12 jam, tergantung pulau yang dituju dan kondisi cuaca di laut.
ASDP Cabang Padang memiliki kapal lain yang juga dioperasikan melayani masyarakat ke Mentawai dan sebaliknya, namanya KMP Gambolo. Saat itu KMP Gambolo yang berukuran 560 GT tidak beroperasi karena sedang docking (naik ke darat untuk perawatan). KMP Gambolo ini melayani rute Padang ke Tuapejat (Sipora), Padang ke Sikakap (Pagai Selatan), Padang tujuan Sikabaluan (Siberut Utara) dan melayani antar pulau di Mentawai, seperti Tuapejat ke Sikakap atau Pokai ke Tuapejat.
“Untuk sementara, layanan transportasi antar pulau di Mentawai akan dilakukan oleh KMP Ambu-Ambu,” terang Hari Gunanto.
Ketergantungan Mentawai cukup tinggi dalam pemenuhan kebutuhan harian dari Kota Padang. Jika kapal ASDP tidak bisa berlayar karena cuaca buruk maka dapat dipastikan akan menyebabkan terganggunya distribusi barang. Kondisi ini tentu akan berdampak pada kenaikan harga sembako dan kebutuhan lainnya di Mentawai. Ini menunjukkan sesuatu yang cukup penting.
Kelancaran kapal ASDP berkaitan langsung dengan kelancaran ekonomi masyarakat Mentawai. Secara tak langsung, kapal-kapal tersebut ikut menjaga rantai pasok kebutuhan pokok di daerah kepulauan tersebut.
“Kebutuhan sembako kami sebagian besar didatangkan dari Padang. Kadang distribusi sering terkendala karena cuaca atau terjadi badai dengan gelombang tinggi di perairan Mentawai. Dampaknya tentu masyarakat yang merasakan,” terang Isa, warga Mentawai yang juga menjadi penumpang KMP Ambu-Ambu.
Isa ke Padang untuk mengurus keperluan sekolah anaknya. Saat kembali ke Mentawai, dia berbelanja berbagai kebutuhan harian untuk keluarga kecilnya. Dia khawatir, cuaca yang sering berubah belakangan ini dapat menyebabkan gangguan distribusi pangan.

Ketika Kapal Angkut Roda Ekonomi
Kontribusi kapal-kapal ferry milik ASDP Cabang Padang, tak perlu diragukan lagi. Beragam apresiasi disampaikan oleh mereka yang pernah berlayar dengan KMP Ambu-Ambu dan KMP Gambolo. Begitu juga apresiasi dari masyarakat di Kepulauan Mentawai sendiri yang merasa sangat bersyukur dengan hadirnya kapal ferry tersebut mengangkut kebutuhan mereka yang dipasok dari Kota Padang.
Ya, selain mengangkut penumpang, KMP Ambu-Ambu juga mengangkut kebutuhan pokok (sembako) dan keperluan rumah tangga lainnya, bahan bakar, bahan bangunan, bahkan mengangkut kendaraan ukuran besar dan kecil untuk mendukung aktivitas perekonomian warga di pulau terluar tersebut. Petang itu, kendaraan yang akan naik ke kapal terlihat berjajar di lapangan parkir, seperti truk, pickup, sepeda motor dan becak barang.
Menurut General Manager PT. ASDP Cabang Padang, Hari Gunanto, kapal ferry ASDP masing-masing KMP Ambu-Ambu dan KMP Gambolo, tak hanya sebagai transportasi laut pengangkut penumpang, tetapi juga mengangkut kebutuhan pokok warga, bahan bangunan dan kendaraan ke berbagai pulau di Mentawai.
“Kendaraan yang kita angkut itu umumnya membawa sembako dan bahan bangunan ke Mentawai dan kembali ke Padang dengan mengangkut hasil bumi dan hasil perikanan dari Mentawai,” terang Hari Gunanto.
Kendaraan tersebut memiliki arti penting bagi masyarakat di daerah kepulauan. Sepeda motor, mobil, maupun kendaraan angkutan bukan sekedar alat transportasi pribadi. Kendaraan juga menjadi sarana membawa hasil pertanian, mengangkut kebutuhan usaha, mendukung aktivitas perdagangan, hingga menunjang pembangunan. Karena itu, kemampuan kapal ferry mengangkut kendaraan sekaligus penumpang memberikan nilai tambah tersendiri.
“Dalam konteks ini, kapal ferry dapat dilihat sebagai jembatan bergerak antara Padang dan Mentawai. Jembatan yang bergerak mengikuti gelombang, menempuh perjalanan laut berjam-jam, dan menghadapi kondisi cuaca yang tidak selalu bersahabat,” katanya.
Sebagai daerah kepulauan, transportasi laut bagi masyarakat Mentawai bukan sekadar pilihan, tetapi merupakan salah satu sarana utama masyarakat untuk bergerak. Karena itu, keberadaan kapal ferry berkapasitas besar yang mampu mengangkut barang dan kendaraan, mempunyai efek ekonomi yang lebih luas di tengah masyarakat. Kontribusinya bukan hanya pada mobilitas, tetapi juga pada efisiensi distribusi barang.

Suka Duka Petugas ASDP Cabang Padang
Supervisi Operasional ASDP Cabang Padang di Pelabuhan Bungus, Hendra Saputra terlihat sedikit sibuk petang itu. Pria yang baru berdinas di ASDP Padang selama 6 bulan itu, terlihat berkomunikasi dengan beberapa orang dan sekaligus memastikan proses bongkar muat muatan kapal berjalan lancar.
“Untuk keberangkatan hari ini, kapal akan mengangkut 145 penumpang berdasarkan tiket yang terjual dan sebanyak 12 unit truk dan pickup,” jelas Hendra yang didampingi rekannya Supervisi Operasional ASDP Cabang Padang di Pelabuhan Mentawai, Sukma Nugraha.
Hendra selalu siaga di pelabuhan setiap kedatangan kapal. Truk yang berangkat hari itu, umumnya mengangkut sembako dan bahan bangunan. Belakangan ini cuaca sering tak bersahabat. Meski demikian, setelah tertunda beberapa jam kapal kembali dapat diberangkatkan setelah ASDP Padang mendapat izin berangkat dari Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Teluk Bayur.
Dia juga memastikan keselamatan selama pelayaran. Pelampung dan sekoci serta properti keamanan lainnya selalu disosialisasikan kepada penumpang. KSOP Teluk Bayur juga tak mengizinkan jika kapal tak layak jalan. Untuk kapasitas kendaraan yang diangkut, menurutnya sangat tergantung dari barang yang dibawa truk itu. Biasanya petugas akan melihat ke dasar kapal bagian luar yang tenggelam, ada beberapa warna dibagian bawah itu, biru dan merah.
“Kalau warna merah itu sudah mulai tenggelam, artinya muatan kapal sudah maksimal,” terangnya.
Hendra mengaku bangga dengan pekerjannya sejalan dengan slogan dan motto yang diusung ASDP Indonesia Ferry, “Bangga Menyatukan Nusantara”.
Rekannya, Sukma Nugraha yang berdinas mengawal kedatangan dan keberangkatan kapal di Mentawai, akan ikut berlayar dengan KMP Ambu-Ambu petang itu. Lelaki kelahiran Batam tersebut, lebih banyak mengawal lalu lintas kapal melintasi pulau-pulau di Mentawai.
Selama bertugas, Sukma menuturkan pengalaman yang paling berkesan baginya, ketika ada penumpang yang harus melahirkan di atas kapal dari Sikakap tujuan Padang. Sang ibu tak kuat lagi menahan bayinya yang ingin segera lahir dan menikmati kehidupannya di dunia. Beruntung ABK juga dilatih keterampilan dasar tentang proses persalinan.
“Sekitar 5 jam lagi sampai di Padang, si Ibu mengaku tak kuat lagi dan ingin melahirkan. Kita langsung bersiap untuk membantu persalinan si Ibu dan kebetulan di antara penumpang ada pula seorang perawat, sehingga persalinannya berjalan lancar,” jelas Sukma.
Peristiwa tersebut menjadi pengalaman yang tak bisa dilupakan Sukma. Kejadiannya juga belum lama, sekitar bulan Agustus 2026 lalu. Setelah sampai di pelabuhan, pihaknya segera merujuk penumpang dan bayinya ke rumah sakit agar mendapat penanganan medis yang sempurna.

Berharap Tambahan Armada
Kontribusi kapal-kapal yang dioperasikan ASDP Cabang Padang mendapat acungan jempol dari Dinas Perhubungan Sumatera Barat. Kedua kapal masing-masing KMP Ambu-Ambu dan KMP Gambolo menjadi pilihan masyarakat sebagai transportasi ke Mentawai dan sebaliknya. Apalagi kapal-kapal tersebut juga berlayar melayani warga dengan menyisir pulau-pulau di sekitarnya.
Menurut Kepala Bidang Pelayaran Dinas Perhubungan, Mustika Budi,SE, MM, kapal ASDP adalah jenis Ro-Ro (Roll-on/Roll-off) dan merupakan satu-satunya kapal yang bisa mengangkut sekaligus, tak hanya penumpang, tetapi juga mengangkut barang kebutuhan masyarakat serta mengangkut kendaraan untuk operasional warga Mentawai.
“Peminat kapal Roro ini banyak ya, disukai masyarakat karena bisa mengangkut barang-barang serta kendaraan sekaligus,” jelas Mustika Budi.
Kebutuhan masyarakat Mentawai sebagian besar didatangkan dari Kota Padang. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, sangat dibutuhkan kapal yang bisa mengangkut dalam jumlah besar. Tetapi saat ini, KMP Gambolo sedang docking, menjalani perawatan tahunan. Hanya KMP Ambu-Ambu yang beroperasi. Biasanya, mobilitas orang dan barang ke Mentawai itu bakal meningkat jelang Batal dan tahun baru.
“Kita sudah koordinasi dengan ASDP, diperkirakan pada 1 Oktober, KMP Gambolo selesai docking dan segera beroperasi menyambangi para penumpang setianya,” jelas Mustika.
Khusus untuk angkutan orang, menurut Mustika, pihaknya masih memiliki pilihan lain dengan adanya Kapal Perintis Sabuk Nusantara 37 dan Sabuk Nusantara 68 yang dioperasikan oleh Pelni. Kapal perintis ini juga bisa mengangkut sembako meski tidak dalam jumlah yang banyak. Selain itu juga ada kapal cepat Mentawai Fast milik PT. Mentawai Anugrah Sejahtera.
“Tetapi untuk angkutan barang dan kendaraan dalam jumlah banyak, hanya bisa dilakukan oleh kapal-kapal ASDP. Jadi kami berharap adanya tambahan armada untuk mengangkut barang ke Mentawai,” katanya. (*)
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.
