Buya Mas’oed Abidin, salah seorang ulama sepuh Sumatera Barat, menyampaikan kerisauannya melihat kondisi kehidupan bangsa saat ini. Renungan itu muncul ketika ia menanggapi keluh-kesah dan perbincangan sejumlah anggota sebuah grup WhatsApp yang beranggotakan warga Minangkabau dari berbagai generasi, latar belakang profesi, dan pengalaman kehidupan.
Percakapan yang semula berkembang sebagai kegelisahan bersama mengenai perubahan sosial, kehidupan beragama, pendidikan, politik, serta semakin berkurangnya keteladanan di tengah masyarakat, mendapat tanggapan mendalam dari Buya Mas’oed Abidin.
Sebagai ulama yang telah melewati berbagai fase perjalanan bangsa, Buya memandang persoalan tersebut bukan sekadar gejala yang muncul hari ini. Menurut pandangannya, kondisi yang dirasakan masyarakat sekarang merupakan bagian dari proses panjang perubahan kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama sejak Indonesia memasuki era Reformasi.
Ada kerisauan yang dalam ketika melihat perjalanan bangsa Indonesia dalam beberapa dasawarsa terakhir. Kerisauan itu bukan semata-mata tentang perubahan politik, pergantian kekuasaan, ataupun hiruk-pikuk demokrasi, melainkan tentang sesuatu yang jauh lebih mendasar, yaitu semakin memudarnya nilai agama, akhlak, budi pekerti, dan moralitas dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat.
Pengasuh Masjid Al-Munawarah, Siteba, Kota Padang, ini melihat salah satu titik penting perubahan tersebut terjadi setelah berakhirnya era Orde Baru. Reformasi membawa semangat kebebasan, keterbukaan, dan demokratisasi. Banyak sekat yang sebelumnya membatasi kehidupan politik dan sosial kemudian dibuka.
Namun, dalam pandangan Buya, kebebasan yang datang begitu luas itu tidak seluruhnya diikuti oleh penguatan tanggung jawab moral. Pagar-pagar kehidupan berbangsa yang dahulu dibangun untuk menjaga nilai, disiplin, etika, serta rasa kebersamaan perlahan ikut mengalami perubahan. Reformasi menyentuh hampir seluruh sendi kehidupan, mulai dari sistem politik, pemerintahan, hukum, hingga pendidikan.
Amandemen Undang-Undang Dasar 1945 membawa perubahan besar dalam tata negara Indonesia. Demikian pula berbagai perubahan dalam dunia pendidikan. Pendidikan moral Pancasila, penataran P4, serta berbagai instrumen pembentukan karakter yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan pendidikan dan birokrasi kemudian berubah atau tidak lagi memperoleh tempat seperti sebelumnya.
Bagi Buya, persoalan utamanya bukan sekadar apakah sistem lama harus dipertahankan atau ditinggalkan. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah; nilai apa yang kemudian menggantikannya?
Jika sebuah sistem diubah, sementara nilai moral yang menjadi penyangganya tidak diperkuat melalui cara yang lebih baik, maka akan muncul ruang kosong dalam proses pembentukan watak generasi berikutnya. Di situlah salah satu sumber kegelisahan Buya.
Agama Jangan Berhenti pada Ritual
Buya melihat kehidupan keagamaan masyarakat hari ini masih tampak semarak. Masjid berdiri megah. Azan berkumandang. Pengajian, ceramah, dan berbagai kegiatan keagamaan tetap berlangsung. Namun pertanyaannya, sejauh mana agama benar-benar hadir dalam perilaku sehari-hari?
Agama semestinya tidak berhenti pada rutinitas ibadah. Shalat, puasa, zikir, pengajian, dan berbagai bentuk ibadah harus bermuara kepada terbentuknya akhlak. Orang yang semakin dekat kepada Allah semestinya semakin jujur, semakin rendah hati, semakin amanah, semakin takut mengambil hak orang lain, serta semakin peduli terhadap sesama. Tetapi kenyataan sosial terkadang memperlihatkan paradoks.
Masjid dibangun semakin besar, tetapi pada waktu Subuh, Zuhur, Asar, bahkan Isya, saf-safnya tidak selalu terisi. Azan berkumandang melalui pengeras suara, tetapi panggilan itu seperti semakin sulit mengetuk hati sebagian masyarakat.
Lebih mengkhawatirkan lagi apabila nilai agama hanya menjadi simbol, sementara dalam kehidupan nyata berkembang kebohongan, manipulasi, penyalahgunaan kewenangan, ketidakpedulian, serta berbagai perilaku yang dahulu dianggap tabu tetapi perlahan dipandang sebagai sesuatu yang biasa.
Keteladanan yang Semakin Langka
Kegelisahan Buya juga tertuju pada masalah keteladanan.
Pemegang kekuasaan mempunyai tanggung jawab yang lebih besar daripada sekadar menjalankan administrasi pemerintahan. Mereka juga menjadi figur yang perilakunya dilihat dan dinilai masyarakat.
Karena itu, ketika orang-orang yang berada dalam lingkar kekuasaan justru terseret dalam berbagai persoalan moral, penyalahgunaan kewenangan, atau perebutan kepentingan, masyarakat dapat kehilangan pegangan.
Demikian pula para pemuka agama. Ulama mempunyai kedudukan terhormat karena masyarakat berharap mereka menjadi penjaga nilai, penyampai kebenaran, serta penuntun moral umat. Oleh sebab itu, ulama harus mampu menjaga independensi moralnya ketika berhadapan dengan kekuasaan dan kepentingan politik.
Keterlibatan ulama dalam kehidupan publik tentu bukan sesuatu yang dengan sendirinya keliru. Namun Buya mengingatkan bahwa nilai-nilai agama jangan sampai dikorbankan demi jabatan, kekuasaan, uang, ataupun kepentingan politik sesaat.
Di sinilah hubungan antara ulama dan umara menjadi sangat penting.
Umara membutuhkan nasihat dan tuntunan moral dari ulama. Sebaliknya, ulama harus tetap memiliki keberanian untuk mengingatkan penguasa ketika terjadi penyimpangan.
Jika keduanya sama-sama terjebak dalam kepentingan duniawi, masyarakat akan kehilangan figur yang seharusnya menjadi suluh.
Kita Sedang Menuai Apa yang Pernah Ditanam
Keadaan yang disaksikan hari ini, dalam pandangan Buya, tidak muncul dalam satu malam. Ini merupakan akumulasi perjalanan panjang. Apa yang ditanam puluhan tahun lalu, sekarang mulai dipanen.
Jika pendidikan karakter diabaikan, jika keteladanan semakin langka, dan jika agama hanya diajarkan sebagai pengetahuan tanpa diwujudkan menjadi akhlak, generasi berikutnya berisiko tumbuh dalam kebingungan nilai.
Kebebasan tanpa tanggung jawab dapat berubah menjadi kebablasan.
Demokrasi tanpa etika dapat berubah menjadi arena perebutan kepentingan.
Kekuasaan tanpa moral dapat menjadi alat untuk memenuhi kepentingan pribadi dan kelompok. Dan, agama tanpa akhlak hanya akan menjadi simbol yang kehilangan ruhnya.
Namun kerisauan tersebut bukanlah ajakan untuk berputus asa. Justru kegelisahan itu harus menjadi panggilan untuk melakukan perbaikan.
Kembali kepada Jalan Nilai
Bangsa Indonesia mempunyai akar moral dan kebudayaan yang kuat. Para pendahulu bangsa memahami bahwa Indonesia tidak hanya dibangun dengan kekuatan politik dan ekonomi, tetapi juga dengan nilai agama, kebudayaan, gotong royong, rasa malu, tanggung jawab, serta penghormatan kepada sesama.
Nilai-nilai itulah yang menurut Buya harus kembali diperkuat. Pendidikan harus kembali menempatkan pembentukan karakter sebagai salah satu tujuan utamanya, bukan semata-mata mengejar angka dan kemampuan akademis.
Keluarga harus kembali menjadi tempat pertama pembentukan akhlak.
Masjid harus menjadi pusat pembinaan umat, bukan hanya tempat pelaksanaan ritual. Ulama harus tetap menjadi penjaga moral masyarakat. Sementara para pemegang kekuasaan harus menyadari bahwa jabatan adalah amanah yang kelak dipertanggungjawabkan, bukan hanya kepada rakyat, tetapi juga kepada Allah SWT.
Kerisauan Buya Mas’oed Abidin yang disampaikan di tengah perbincangan warga Minangkabau lintas generasi itu pada akhirnya bukan sekadar kritik terhadap keadaan. Di balik kegelisahan tersebut tersimpan sebuah harapan.
Harapan agar bangsa ini tidak kehilangan arah. Harapan agar agama kembali hidup dalam akhlak. Harapan agar ulama tetap menjadi suluh umat dan umara mampu menjadi teladan dalam menjalankan amanah.
Dan, harapan agar Indonesia tetap berjalan menuju cita-cita para pendahulunya. Bangsa yang merdeka dalam kehidupan politik, maju dalam pembangunan, tetapi tetap kokoh dalam iman, moral, akhlak, dan budi pekerti.(Syaf AL)
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.






