Oleh : Onzukrisno,SH.,M.Si *)
Ada luka yang tidak pernah berdarah, ada air mata yang tidak pernah jatuh dihadapan siapapun, tetapi dengan diam-diam membasahi sudut hati, meruntuhkan seluruh kekuatan seseorang. Dan ada ketulusan yang begitu besar, begitu indah dipersembahkan, tetapi pada akhirnya semua berjalan sia-sia karena jatuh dihadapan orang yang tidak pernah tahu bagaimana cara menghargai. Begitulah perjalanan kehidupan mengajarkan kita tentang suatu kenyataan pahit, sebagaimana yang penulis buat dengan judul ”Jangan Pernah Menjadi Pelangi Dihadapan Mata Yang Buta Warna”. Ini adalah tentang ketulusan yang tidak pernah dihargai, pengorbanan yang tidak pernah dipahami, dan hati yang perlahan-lahan menjadi lelah karena terus berharap tanpa ada kepastian.
Ada sebuah kesedihan yang paling sunyi, yaitu ketika keindahanmu tidak pernah dianggap sebagai keindahan. Bukan karena kamu tidak indah, tapi karena mata yang menatapmu memang tidak pernah diciptakan untuk mengenal warna. Pada hal, pelangi selalu hadir setelah hujan, ia membawa warna, menawarkan keindahan dan menjadi pertanda bahwa badai tidak akan selamanya berkuasa. Sangat disayangkan dan betapa menyedihkan, ketika seluruh warna itu hadir dihadapan mata yang tidak mampu mengenal dan membedakan warna-warna itu, karena sudah menjadi ketetapan Allah SWT. Namun pelangi akan tetap indah, walaupun keindahannya tidak pernah sampai kepada mereka yang tidak mampu melihat keindahan itu sebagaimana mestinya. Padahal mata yang buta warna akan tetap buta warna, sekeras apapun pelangi itu berusaha menjelaskan tentang merah, jingga, dan ungu. Jangan pernah jadi pelangi di hadapan mata yang buta warna. Karena pengorbananmu untuk tetap bersinar setelah badai, hanya akan dilihatnya sebagai cuaca yang biasa-biasa saja.
Kita telah melewati hujan yang begitu lebat untuk bisa membentuk dirimu. Kita bisa menjadi orang paling tulus, paling setia, paling sabar dan orang paling banyak berkorban. Kita menghabiskan waktu untuk membantu orang lain berdiri ketika dia jatuh, dan kita bisa menjadi tempat mereka pulang, ketika dunia terasa begitu kejam, dan malahan kita rela menyembunyikan kesedihan sendiri supaya orang lain tidak perlu menanggung kesedihan itu. Namun apa yang terjadi, ketika kamu muncul, dia hanya mendongak sebentar, lalu berkata, “Langitnya mendung ya?” Dia tidak melihat usahamu. Dia tidak melihat keajaibanmu. Inilah luka yang paling sering kita rawat sendiri. Kita memberikan versi terbaik dari diri kita kepada orang yang tidak memiliki kemampuan untuk menghargainya. Kamu menceritakan lukamu dengan jujur, kamu menunjukkan patahmu dengan berani, kamu menawarkan kasihmu dengan tulus. Kamu pikir itu akan membuatnya mengerti. Nyatanya tidak. Di mata, merahnya perjuanganmu terlihat abu-abu. Birunya kesetiaanmu terlihat pucat. Semua warnamu disamaratakan menjadi hampa. Ini adalah suatu kenyataan yang lebih menyedihkan daripada hujan yang tak kunjung reda, di saat pelangi telah mengerahkan seluruh keindahannya, ternyata yang berdiri di depan sepasang mata tidak mampu membedakan warna.
Lalu kamu mulai bertanya pada dirimu sendiri, apakah aku kurang terang..? Apakah aku kurang indah..? Apakah pelangi ku tidak cukup melengkung..? Padahal yang salah bukan pelanginya. Yang salah adalah tempatnya bersinar. Pelangi tidak pernah salah karena berwarna. Namun dihadapan hati yang tidak tahu berterima kasih, semuanya itu mungkin hanya dianggap sebagai kewajiban. Di hadapan fikiran yang dipenuhi prasangka, ketulusan bisa dicurigai sebagai kepentingan, dihadapan seseorang yang telah terbiasa menerima tanpa pernah belajar menghargai, walaupun pengorbanan sebesar gunung sekalipun. Menyakitkan sungguh, bukan karena kita tidak memiliki sesuatu yang berharga untuk diberikan, akan tetapi karena kita terlalu lama memberikannya kepada orang yang tidak pernah benar-benar ingin memahami nilainya.
Pantas saja kiranya, ketika ketulusan yang diberikan berubah menjadi luka. Disaat kita begitu percaya bahwa kebaikan akan menemukan jalannya sendiri. Kita bertahan ketika orang memilih pergi, kita memaafkan ketika orang lain berulang kali melukai, kita tetap mengulurkan tangan, walaupun akhirnya tangan kita sendiri gemetar akibat menahan kekecewaan. Tapi kita tetap yakin dan berkata pada diri sendiri, barang kali mereka sedang lelah, belum memahami, dan suatu hari nanti mereka akan memahami dan menyadari bahwa tidak semua orang datang membawa kepentingan, dan tidak semua kebaikan menyimpan maksud tersembunyi. Oleh karena itu, tetaplah menjadi manusia yang baik, belajarlah menempatkan kebaikan pada tempat yang tepat. Tetaplah menjadi hati yang lembut, tetapi jangan biarkan kelembutan itu menjadikan alasan bagi siapapun untuk terus menyakitimu. Tetaplah menjadi penolong, tetapi harus memahami bahwa menyelamatkan orang lain tidak harus menenggelamkan diri sendiri, sebab ketulusan tidak menuntut untuk mengorbankan seluruh kebahagiaan demi mendapatkan pengakuan dari orang lain.
Pelangi yang paling malang adalah pelangi yang memohon untuk dilihat. Padahal kodrat pelangi adalah ditunggu, bukan menunggu. Jika kamu harus terus meyakinkan seseorang bahwa kamu berharga, maka sesungguhnya kamu sedang berada di hadapan mata yang buta warna. Cinta yang sehat tidak butuh presentasi panjang tentang siapa dirimu. Ia langsung mengenalimu, bahkan sebelum kamu sempat menjelaskan artinya. Orang yang tepat akan melihatmu dan langsung tahu, ini merahnya keberanian, ini hijaunya keteduhan, dan ini kuningnya kebahagiaan. Dia tidak akan membuatmu merasa berlebihan. Dia tidak akan membuatmu merasa terlalu banyak, terlalu sensitif, terlalu berwarna, justru di matanya, keberlebihan warnamu adalah anugerah.
Jangan pernah kecilkan spektrummu hanya agar bisa diterima oleh mata yang sempit. Jangan pernah pudar hanya agar nyaman dipandang oleh mata yang buta. Ketika kamu memudarkan dirimu, kamu mengkhianati semua badai yang telah kamu lewati. Kamu mengkhianati hujan yang telah membentukmu. Hal perlu di ingat adalah, kita tidak diciptakan untuk semua mata. Tetapi kita diciptakan adalah untuk mata yang mampu bersyukur atas kekuasaan-Nya. Ada kesedihan lain yang lebih dalam, yaitu ketika kamu akhirnya menyadari, selama ini kamu telah menjadi pelangi bagi seseorang yang bahkan tidak pernah menengadah ke langit. Dia sibuk menunduk, menghitung langkahnya sendiri, sibuk dengan dunianya sendiri. Sementara kamu di atas sana, menahan diri untuk tidak hilang. Betapa sepinya menjadi indah sendirian.
Maka pelajaran paling berharga dari hidup adalah tentang merelakan, mengikhlaskan. Merelakan bahwa tidak semua orang harus bisa melihatmu. Merelakan bahwa ada mata yang memang ditakdirkan tidak pernah bisa jatuh cinta pada warna seperti milikmu. Dan itu tidak apa-apa. Itu bukan kegagalanmu. Pergilah. Cari langit lain, yaitu langit ketika kamu muncul, ada yang berlari keluar rumah hanya untuk melihatmu. Ada yang mengabadikanmu. Ada yang berdoa karena melihatmu. Langit yang menyambutmu dengan decak kagum, bukan dengan tatapan kosong. Karena pada akhirnya, kamu akan mengerti bahwa tugas pelangi bukan membuat mata yang buta warna menjadi sembuh akan tetapi tugas pelangi hanyalah tetap menjadi pelangi. Tetap berwarna, tetap jujur, tetap indah pada muncul pada waktunya. Biarkan mata yang buta warna melanjutkan perjalanannya dengan dunianya yang abu-abu. Itu pilihannya, itu takdirnya. Sedangkan kamu, tetaplah menjadi pelangi. Pergilah ke tempat di mana warnamu akhirnya disebut sebagai keajaiban, bukan sebagai kebetulan.
Jangan pernah mengira, jika kita bersabar sedikit lebih lama, seseorang akhirnya akan mengerti,. Jika kita berkorban lebih banyak, ia akan belajar menghargai. Jika kita tretap setia padanya dunia akan berpaling darinya, dan suatu hari akan disadarinya bahwa tidak semua orang bersedia tinggal disaat keadaan tidak baik-baik saja. Namun yakinlah bahwa hidup tidak akan selalu menuliskan cerita dengan akhir yang kita harapkan. Ada orang yang baru menyadari, hangatnya mata hari setelah kehilangan siang, ada pula yang baru mengenang akan ketulusan seseorang disaat tidak ada lagi melakukan hal-hal kecil yang dahulunya dianggap biasa saja. Oleh karena itu, jangan terlalu sibuk menyinari jalan orang lain, sementara kita membiarkan hidup sendiri terbenam dalam gelap, sebab tidak semua yang kita perjuangkan ditakdirkan untuk menjadi milik kita.
Biarlah kelak waktu yang akan menjawab semua ini, apakah kepergian akan dirindukan. Biarkanlah kenangan yang akan menjelaskan betapa berharganya kehadiran yang dahulu dianggap biasa, sebab tidak semua kehilangan harus dibalas dengan penyesalan dan tidak semua luka harus dijelaskan kepada orang-orang yang pernah menjadi penyebabnya. Sebab dengan cara diam adalah cara terbaik dan bermartabat untuk mengakhiri sebuah perjuangan yang terlalu lama menyakiti. Oleh karena itu tetaplah jadi pelangi tetapi jangan kehilangan harga diri hanya karena seseorang tidak mampu melihat warnamu. Tetaplah baik tetapi harus belajar bisa membedakan antara kebaikan yang menumbuhkan dengan kebaikan yang perlahan bisa menghancurkan diri sendiri. Tetaplah tulus, tetapi jangan menjadikan ketulusan sebagai alasan untuk membiarkan dirimu terus-menerus terluka, sebab dunia ini terlalu luas untuk menghabiskan seluruh usia dihadapan sepasang mata yang tidak pernah menghargai keindahan yang dimiliki.
Oleh karena itu, tetaplah jadi pelangi, namun kali ini jadilah pelangi yang tahu dan memahami kapan harus hadir, kapan harus pergi, karena kita dilahirkan bukan hanya untuk dikenang oleh seseorang dan mungkin akan dikenang oleh banyak orang. Sebab orang yang merelakan masa lalu punya lebih banyak waktu untuk mempersiapkan masa depan..! (***)
*) Penulis adalah Dosen Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Univesitas Eka Sakti (Unes) Padang.
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.






