Scroll untuk baca artikel
Banner Harian Khazanah
Opini

Fauzan Haviz Bertekad Membawa PMI Menjadi Lembaga Kemanusiaan Lebih Responsif

×

Fauzan Haviz Bertekad Membawa PMI Menjadi Lembaga Kemanusiaan Lebih Responsif

Sebarkan artikel ini
Fauzan Haviz, S.E., S.H., M.B.A., M.A.L.S., M.M., Ketua PMI Kota Bukittinggi terpilih periode 2026-2031

Bukittinggi, khazminang.id- Fauzan Haviz, S.E., S.H., M.B.A., M.A.L.S., M.M., dikenal luas di Kota Bukittinggi sebagai tokoh publik yang memiliki rekam jejak panjang di bidang akademik, politik, kewirausahaan, olahraga, dan pemberdayaan masyarakat. Setelah resmi terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Bukittinggi periode 2026-2031 dalam Musyawarah Kota (Muskot) PMI Bukittinggi pada tanggal 3 Oktober 2026, Fauzan Haviz mengemban amanah untuk melanjutkan sekaligus memperkuat pelayanan kemanusiaan di Kota tersebut. Ia menggantikan H. Chairunnas, S.E., yang sebelumnya memimpin PMI Kota Bukittinggi.

Kepemimpinan Fauzan Haviz untuk lima tahun ke depan diarahkan pada pembenahan tata kelola organisasi, penguatan kapasitas relawan, jaminan ketersediaan darah, perbaikan komunikasi lintas sektor, serta perluasan kemitraan dengan berbagai elemen masyarakat.

Iklan
Scroll Untuk Baca Artikel

Baginya, PMI bukan sekadar organisasi formal, melainkan lembaga kemanusiaan yang memiliki peran penting dalam membantu masyarakat, terutama ketika menghadapi kondisi darurat, bencana, dan kebutuhan pelayanan darah.

Komitmen tersebut dituangkan dalam rancangan program kerja kemanusiaan sekaligus proposal kemitraan strategis PMI Kota Bukittinggi periode 2026-2031. Dokumen itu menjadi landasan awal untuk membangun kolaborasi bersama instansi pendidikan, komunitas ekonomi, sektor swasta, fasilitas kesehatan, Pemerintah Daerah, dan berbagai kelompok masyarakat.

Fauzan Haviz ketua PMI Kota Bukittinggi terpilih periode 2026-2031 saat memberikan sambutan

Amanah Kepemimpinan dan Arah Baru PMI Kota Bukittinggi

Menakhodai PMI Kota Bukittinggi untuk periode 2026-2031 merupakan amanah besar sekaligus tanggung jawab moral yang menuntut dedikasi penuh. Dalam pandangan Fauzan Haviz, PMI harus hadir sebagai organisasi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara cepat, profesional, terbuka, dan berorientasi pada keselamatan manusia.

Melalui arah kepemimpinan yang disiapkan, Fauzan Haviz menekankan pentingnya membangun kesamaan komitmen seluruh unsur organisasi. Pengurus, staf, relawan, mitra kerja, dan masyarakat diharapkan dapat bergerak dalam satu tujuan, yakni mengabdi untuk kemanusiaan.

Ia merancang empat pilar strategis sebagai fondasi program kerja PMI Kota Bukittinggi selama lima tahun mendatang. Pilar pertama adalah penataan dan transparansi internal organisasi. Tata kelola PMI akan diarahkan agar semakin akuntabel, profesional, dan terbuka. Pembenahan internal tidak hanya menyangkut struktur organisasi dan mekanisme administrasi, tetapi juga peningkatan kapasitas serta kesejahteraan relawan dan staf sebagai ujung tombak pelayanan kemanusiaan.

Pilar kedua adalah jaminan ketersediaan darah. Fauzan Haviz menempatkan pemenuhan kebutuhan darah sebagai salah satu prioritas utama. Ia menginginkan agar masyarakat Kota Bukittinggi tidak lagi menghadapi kesulitan mencari darah ketika anggota keluarga atau pasien membutuhkan pertolongan medis dalam situasi darurat. Untuk mencapai tujuan tersebut, ketersediaan stok darah harus dijaga agar tetap aman, mencukupi, dan memenuhi standar kualitas pelayanan.

Pilar ketiga adalah pembenahan komunikasi lintas sektoral, khususnya dengan rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan. PMI perlu membuka ruang dialog yang luas untuk mengidentifikasi dan mengurai hambatan koordinasi yang pernah terjadi. Komunikasi yang lebih baik diharapkan dapat mempercepat pelayanan kepada pasien serta memperkuat hubungan kerja antarlembaga.

Pilar keempat adalah sinergi berkelanjutan dengan berbagai elemen masyarakat. PMI tidak dapat menjalankan tugas kemanusiaan sendirian. Karena itu, Fauzan berencana merangkul generasi muda melalui Palang Merah Remaja (PMR) di sekolah-sekolah, membangun kolaborasi dengan komunitas pedagang dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), serta memperkuat sinergi dengan Pemerintah Kota Bukittinggi dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Melalui empat pilar tersebut, Fauzan ingin menjadikan PMI Kota Bukittinggi sebagai lembaga kemanusiaan yang lebih responsif, inklusif, transparan, dan dekat dengan masyarakat.

Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menggerakkan kepedulian sosial. Setiap tindakan kemanusiaan, termasuk donor darah dan bantuan sukarela, memiliki arti penting bagi keselamatan orang lain. Setetes darah yang didonorkan dapat menjadi penyambung kehidupan bagi sesama.

Penghargaan juga disampaikan kepada para relawan yang selama ini bekerja tanpa pamrih di lapangan. Dedikasi mereka merupakan bagian penting dari keberlangsungan pelayanan PMI. Ke depan, peran relawan diharapkan semakin diperkuat melalui dukungan organisasi, peningkatan kemampuan, dan kemitraan yang berkelanjutan.

Proposal Kemitraan Strategis untuk Gerakan Kemanusiaan Berkelanjutan

Sebagai bagian dari agenda kepemimpinan periode 2026-2031, PMI Kota Bukittinggi menyiapkan rancangan proposal kemitraan strategis bertajuk “Gerakan Kemanusiaan dan Donor Darah Berkelanjutan PMI Kota Bukittinggi Periode 2026-2031.”

Proposal tersebut berangkat dari pemahaman bahwa PMI merupakan lembaga sosial kemanusiaan yang memiliki peran vital dalam pelayanan kepalangmerahan, penanggulangan bencana, serta pemenuhan kebutuhan darah masyarakat.

Seiring meningkatnya dinamika kebutuhan pelayanan, PMI perlu memperluas jejaring kerja sama dengan berbagai pihak. Kolaborasi tidak hanya diperlukan untuk memenuhi kebutuhan operasional organisasi, tetapi juga untuk membangun budaya kepedulian sosial yang tumbuh secara berkelanjutan di tengah masyarakat.

Melalui kemitraan yang inklusif, PMI Kota Bukittinggi ingin menyatukan potensi lembaga pendidikan, komunitas ekonomi, sektor swasta, Pemerintah, dan fasilitas kesehatan dalam satu gerakan kemanusiaan.

Visi dan Misi Kemitraan

Visi kemitraan PMI Kota Bukittinggi periode 2026-2031 adalah mewujudkan PMI sebagai mitra kemanusiaan yang andal, responsif, dan transparan melalui kolaborasi lintas sektor.

Untuk mewujudkan visi tersebut, sejumlah misi dirancang sebagai pedoman pelaksanaan program. Pertama, membangun kesadaran donor darah sukarela sejak dini di lingkungan pendidikan, mulai dari sekolah menengah atas hingga perguruan tinggi.

Kedua, memperluas jejaring donor darah berbasis komunitas, termasuk komunitas pasar, UMKM, pedagang, dan pekerja informal, sehingga semakin banyak masyarakat memiliki akses untuk berpartisipasi dalam kegiatan donor darah.

Ketiga, memperkuat koordinasi pelayanan darah agar distribusi dan pemenuhan kebutuhan darah bagi rumah sakit di Kota Bukittinggi dapat berlangsung secara cepat, efektif, dan terkoordinasi.

Ketiga misi tersebut diharapkan menjadi fondasi bagi terbentuknya ekosistem kemanusiaan yang melibatkan masyarakat secara aktif, bukan hanya pada saat terjadi keadaan darurat, tetapi juga dalam kegiatan pencegahan, edukasi, dan kesiapsiagaan.

Tiga Program Kemitraan yang Disiapkan

Dalam rancangan kemitraan strategis tersebut, terdapat tiga program utama yang akan dikembangkan sesuai dengan karakteristik dan potensi masing-masing mitra.

  1. Program PMI Goes to School & Campus

Program PMI Goes to School & Campus menyasar sekolah menengah atas, termasuk SMAN 3 Bukittinggi, serta perguruan tinggi di wilayah setempat. Program ini dirancang untuk menanamkan pemahaman mengenai nilai kemanusiaan, kepalangmerahan, dan pentingnya donor darah sukarela kepada generasi muda.

Kegiatannya meliputi pembentukan dan pengaktifan kader Palang Merah Remaja, edukasi mengenai manfaat donor darah, serta pelaksanaan kegiatan donor darah rutin setiap tiga bulan bagi peserta didik atau mahasiswa yang telah memenuhi persyaratan medis dan ketentuan yang berlaku.

Melalui program ini, sekolah dan perguruan tinggi diharapkan menjadi ruang pembelajaran kemanusiaan yang tidak hanya memberikan pengetahuan secara teoritis, tetapi juga mendorong keterlibatan langsung dalam kegiatan sosial.

Edukasi sejak dini juga dipandang penting untuk membentuk generasi yang memiliki kepedulian terhadap kebutuhan orang lain. Para pelajar diharapkan memahami bahwa donor darah merupakan bentuk solidaritas sosial yang dapat memberikan manfaat nyata bagi pasien yang membutuhkan transfusi.

  1. Program Kemitraan Ekonomi Kemanusiaan

Program kedua adalah Kemitraan Ekonomi Kemanusiaan, yang menyasar komunitas pedagang, asosiasi UMKM, perbankan, dan pelaku ekonomi lainnya. Salah satu kelompok yang disebut dalam rancangan program adalah komunitas Pedagang Pasar Bawah Bersatu. Komunitas tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari perluasan jaringan donor darah di lingkungan ekonomi kerakyatan.

Baca Juga:  Dampak Global Proteksionisme Trump: Ancaman bagi Stabilitas Ekonomi Dunia

Bentuk kegiatan yang direncanakan adalah fasilitasi gerai donor darah bergerak atau mobile blood donation di pusat-pusat keramaian ekonomi dan pasar tradisional.

Melalui pendekatan ini, masyarakat dapat memperoleh akses yang lebih mudah untuk berpartisipasi dalam kegiatan donor darah secara berkala. Lokasi kegiatan yang dekat dengan aktivitas sehari-hari diharapkan dapat memperluas partisipasi pedagang, pekerja, pengunjung pasar, dan masyarakat umum.

Kemitraan tersebut sekaligus membuka ruang bagi komunitas ekonomi untuk berkontribusi dalam kegiatan sosial. Aktivitas perdagangan dan kewirausahaan tidak hanya menjadi penggerak ekonomi, tetapi juga dapat menjadi bagian dari gerakan kemanusiaan yang memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

  1. Program Sinergi Kesiapsiagaan Bencana Terpadu

Program ketiga adalah Sinergi Kesiapsiagaan Bencana Terpadu, dengan sasaran Pemerintah Kota Bukittinggi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan lembaga sosial lainnya.

Program ini diarahkan untuk memperkuat kemampuan berbagai pihak dalam menghadapi potensi bencana serta meningkatkan kesiapan relawan dalam memberikan pertolongan kepada masyarakat.

Kegiatan yang direncanakan meliputi pelatihan dan simulasi bencana bersama relawan PMI, penguatan koordinasi lintas lembaga, serta penyediaan posko kesehatan bersama sesuai kebutuhan dan kesepakatan para pihak.

Kesiapsiagaan bencana memerlukan pembagian peran yang jelas, komunikasi yang efektif, dan kemampuan untuk bergerak secara terkoordinasi. Oleh karena itu, sinergi antara PMI, Pemerintah Daerah, BPBD, fasilitas kesehatan, dan lembaga sosial menjadi bagian penting dari agenda kemanusiaan lima tahun mendatang.

Manfaat Kemitraan bagi Para Pihak

Kemitraan strategis PMI Kota Bukittinggi dirancang untuk memberikan manfaat yang dapat dirasakan oleh masyarakat maupun lembaga yang terlibat.

Manfaat pertama adalah kontribusi nyata dalam penyelamatan nyawa. Melalui dukungan terhadap gerakan donor darah, mitra dapat membantu menjaga ketersediaan darah bagi pasien yang membutuhkan.

Manfaat kedua adalah penguatan citra sosial institusi dan komunitas. Bagi perusahaan, perbankan, maupun pelaku usaha, keterlibatan dalam program kemanusiaan dapat menjadi wujud pelaksanaan tanggung jawab sosial atau Corporate Social Responsibility (CSR). Bagi komunitas masyarakat, partisipasi tersebut memperlihatkan kepedulian terhadap kebutuhan sosial di lingkungan sekitarnya.

Manfaat ketiga adalah edukasi kesehatan bagi peserta kegiatan donor darah. Dalam rancangan program, peserta dari lembaga mitra direncanakan memperoleh akses terhadap pemeriksaan kesehatan dasar, seperti pemeriksaan tekanan darah dan hemoglobin (Hb), serta pemeriksaan atau skrining tertentu sesuai protokol, fasilitas, dan ketentuan pelayanan kesehatan yang berlaku.

Melalui berbagai manfaat tersebut, kemitraan diharapkan tidak hanya menjadi hubungan formal antarlembaga, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkuat kepedulian sosial.

Hubungan harmonis antara PMI dan para pemangku kepentingan akan menjadi salah satu fondasi bagi terciptanya masyarakat yang lebih tangguh dalam menghadapi bencana dan semakin mandiri dalam mendukung pemenuhan kebutuhan darah. Karena itu, PMI Kota Bukittinggi membuka ruang partisipasi bagi berbagai pihak untuk bergabung dalam gerakan kemanusiaan yang berkelanjutan.

Lima Agenda Strategis Kepemimpinan Fauzan Haviz

Selain empat pilar utama program kerja, visi dan agenda strategis Fauzan Haviz untuk PMI Kota Bukittinggi periode 2026-2031 juga menekankan lima bidang perhatian.

Pertama, pendekatan humanis. Fauzan Haviz bertekad membawa PMI menjadi lembaga kemanusiaan yang lebih responsif dan ramah dalam pelayanan kebencanaan maupun pelayanan sosial. Pendekatan humanis berarti menempatkan kebutuhan dan keselamatan masyarakat sebagai perhatian utama dalam setiap kegiatan organisasi.

Kedua, transparansi dan pembenahan internal. Agenda ini mencakup penguatan kapasitas relawan, peningkatan profesionalisme staf, serta perbaikan tata kelola kelembagaan agar lebih transparan dan akuntabel.

Ketiga, jaminan ketersediaan darah. Pemenuhan kebutuhan dan pengamanan stok darah bagi masyarakat Bukittinggi ditempatkan sebagai prioritas pelayanan. Upaya ini membutuhkan penguatan jaringan pendonor sukarela, edukasi masyarakat, serta koordinasi yang berkelanjutan dengan fasilitas kesehatan.

Keempat, komunikasi efektif dengan rumah sakit. Fauzan berkomitmen mendalami dan mengurai berbagai hambatan koordinasi yang sempat terjadi antara PMI dan rumah sakit setempat. Dialog langsung dan komunikasi terbuka diharapkan menjadi jalan untuk menemukan solusi yang mendukung pelayanan kepada pasien.

Kelima, sinergi lintas elemen. Agenda ini meliputi upaya merangkul pelajar melalui PMR, relawan sukarela, tokoh senior PMI, tokoh masyarakat, unsur birokrasi, serta memperkuat kemitraan strategis dengan Pemerintah Kota Bukittinggi.

Kelima agenda tersebut dirancang untuk saling melengkapi. Pembenahan internal diharapkan memperkuat kapasitas pelayanan, sementara ketersediaan darah, komunikasi lintas sektor, dan kemitraan masyarakat menjadi bagian dari upaya meningkatkan jangkauan serta efektivitas kerja kemanusiaan.

Fauzan Haviz foto bersama kepala SMA Negeri 3 Bukittinggi, Eli Noverma

Konsolidasi Organisasi dan Penjajakan Kerja Sama Pendidikan

Pasca-penetapannya sebagai ketua terpilih pada 3 Oktober 2026, Fauzan Haviz mulai menyiapkan sejumlah langkah konsolidasi organisasi dan pendekatan kepada calon mitra.

Salah satu agenda yang direncanakan dan disebut dalam rangkaian aktivitasnya adalah penjajakan kerja sama dengan SMAN 3 Kota Bukittinggi. Dalam kunjungan tersebut, Fauzan Haviz bertemu dengan Kepala SMAN 3 Bukittinggi, Dra. Eli Noverma, M.Si.

Pertemuan itu diarahkan untuk membangun komunikasi mengenai peluang kolaborasi dalam edukasi kemanusiaan dan pengembangan gerakan donor darah sukarela di lingkungan pendidikan.

SMAN 3 Bukittinggi memiliki arti tersendiri dalam perjalanan pendidikan Fauzan Haviz, karena merupakan almamaternya. Melalui pendekatan kepada sekolah tersebut, Ia ingin mendorong keterlibatan generasi muda dalam gerakan kepalangmerahan sekaligus menanamkan pemahaman mengenai pentingnya membantu sesama.

Kampanye donor darah sejak dini menjadi salah satu perhatian dalam program tersebut. Para pelajar diharapkan dapat mengenal kegiatan PMI, memahami peran Palang Merah Remaja, serta mempersiapkan diri untuk berpartisipasi dalam kegiatan donor darah ketika telah memenuhi persyaratan usia dan kesehatan.

Pendekatan pendidikan dipandang penting karena pembentukan budaya donor darah sukarela membutuhkan proses edukasi yang berkelanjutan. Dengan melibatkan sekolah dan perguruan tinggi, PMI diharapkan dapat memperluas basis relawan serta membangun generasi muda yang memiliki kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan.

Penataan Pengurus dan Penguatan Kapasitas Relawan

Agenda konsolidasi lainnya adalah penyusunan kepengurusan baru PMI Kota Bukittinggi untuk periode 2026-2031.

Proses tersebut menjadi bagian penting dalam mempersiapkan organisasi agar dapat menjalankan program secara terarah. Struktur kepengurusan yang disusun diharapkan mampu mengakomodasi kebutuhan pelayanan, penguatan administrasi, koordinasi lintas sektor, pengelolaan relawan, serta pengembangan kemitraan.

Fauzan Haviz juga menempatkan peningkatan kapasitas sumber daya manusia sebagai perhatian utama pada awal kepemimpinannya. Relawan merupakan unsur penting dalam pelaksanaan kegiatan PMI, mulai dari pelayanan sosial hingga respons terhadap keadaan darurat.

Karena itu, peningkatan profesionalisme, pembinaan kemampuan, dan dukungan terhadap kesejahteraan relawan menjadi bagian dari rancangan pembenahan organisasi.

Di sisi lain, transparansi tata kelola diperlukan untuk memperkuat kepercayaan masyarakat dan para mitra. Organisasi yang memiliki mekanisme kerja jelas serta komunikasi terbuka diharapkan lebih mudah membangun kolaborasi dan mempertanggungjawabkan pelaksanaan programnya.

Pengamanan Stok Darah dan Dialog dengan Rumah Sakit

Persoalan ketersediaan darah menjadi salah satu agenda yang mendapat perhatian dalam rancangan kepemimpinan Fauzan Haviz. Ia menargetkan agar kebutuhan darah masyarakat Kota Bukittinggi dapat dipenuhi melalui sistem pelayanan yang lebih terkoordinasi. Dalam kondisi darurat, pasien dan keluarga tidak seharusnya menghadapi kesulitan berkepanjangan untuk memperoleh informasi mengenai ketersediaan darah yang dibutuhkan.

Untuk mendukung tujuan tersebut, PMI perlu memperkuat kegiatan donor darah sukarela, memperluas jejaring pendonor, meningkatkan edukasi masyarakat, dan menjaga komunikasi dengan fasilitas kesehatan.

Koordinasi dengan rumah sakit juga menjadi bagian penting dari agenda pembenahan. Fauzan Haviz berkomitmen membuka dialog langsung guna mendalami berbagai hambatan komunikasi yang mungkin mempengaruhi kelancaran pelayanan darah.

Baca Juga:  Pemimpin Cerdas, Bukan Sekadar Pintar: Merajut Jalan Tengah Antara Teori dan Aksi

Pendekatan dialogis diharapkan dapat membantu para pihak mengidentifikasi persoalan, menyamakan pemahaman mengenai prosedur pelayanan, dan merumuskan langkah perbaikan berdasarkan kebutuhan masing-masing lembaga.

Dengan koordinasi yang lebih baik, pelayanan darah diharapkan dapat berlangsung secara efektif, sementara masyarakat memperoleh informasi dan pelayanan sesuai kebutuhan medis.

Fauzan Haviz foto bersama pengurus pedagang pasar bawah donor darah pedagang pasar bawah bersatu

Merangkul Komunitas Pedagang dan Memperluas Gerakan Donor Darah

Di luar lingkungan pendidikan dan fasilitas kesehatan, Fauzan Haviz juga memasukkan komunitas ekonomi ke dalam jaringan kemitraan PMI Kota Bukittinggi. Komunitas Pedagang Pasar Bawah Bersatu menjadi salah satu kelompok yang disebut dalam rencana perluasan gerakan donor darah. Keterlibatan komunitas pasar dipandang dapat membantu menjangkau kelompok masyarakat yang memiliki aktivitas ekonomi sehari-hari dan mungkin membutuhkan akses kegiatan donor darah yang lebih dekat.

Melalui kegiatan donor darah massal dan gerai donor darah bergerak, PMI dapat memperluas kesempatan bagi masyarakat untuk berpartisipasi. Kolaborasi dengan pedagang dan UMKM juga memiliki dimensi sosial yang lebih luas. Selain mendukung ketersediaan darah, kegiatan tersebut dapat menumbuhkan semangat gotong royong dan memperkuat hubungan antara organisasi kemanusiaan dengan masyarakat.

Kiri – Fauzan Haviz bersama Drs H Aristo Munandar Ketua PMI Sumatera Barat dan kanan – bersama bersama pak Drs H Djufri

Fauzan Haviz juga berupaya membangun jejaring dengan tokoh masyarakat, unsur senior PMI, serta komunitas relawan. Pengalaman dan pengetahuan para tokoh senior diharapkan dapat menjadi bagian dari proses konsolidasi organisasi, sedangkan keterlibatan relawan dan generasi muda menjadi modal penting dalam memperluas kegiatan kemanusiaan.

Sinergi dengan Pemerintah Kota Bukittinggi turut menjadi agenda penting untuk menyelaraskan program pelayanan sosial dan kesiapsiagaan bencana. Melalui kerja sama lintas lembaga, PMI diharapkan dapat memperkuat koordinasi ketika masyarakat menghadapi situasi darurat.

Fauzan Haviz, Tokoh Publik dengan Rekam Jejak Multidisiplin

Di balik amanah barunya sebagai Ketua PMI Kota Bukittinggi, Fauzan Haviz memiliki perjalanan panjang di bidang pendidikan, kewirausahaan, politik, organisasi kemasyarakatan, dan olahraga.

Ia dikenal sebagai akademisi sekaligus praktisi yang aktif dalam pendidikan, pengembangan usaha, dan industri berbasis potensi lokal. Pengalamannya mencakup pengelolaan institusi pendidikan, kepemimpinan usaha, serta keterlibatan dalam pengembangan ekosistem bisnis yang berorientasi pada keberlanjutan dan pemberdayaan masyarakat.

Latar belakang multidisiplin tersebut tercermin dalam perjalanan pendidikan dan aktivitas profesionalnya yang berlangsung selama beberapa dekade.

Perjalanan Pendidikan dari Bukittinggi hingga Amerika Serikat

Fauzan Haviz menempuh pendidikan menengah atas di SMA Negeri 3 Kota Bukittinggi dan tamat pada 1991. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan tinggi ke Jakarta dengan mengambil bidang ekonomi dan keuangan. Pada 1997, Fauzan Haviz meraih gelar Sarjana Ekonomi (S.E.) dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Keuangan dan Perbankan Indonesia (STEKPI) Jakarta.

Perjalanan akademiknya kemudian berlanjut ke Amerika Serikat. Pada 1999, Ia menempuh pendidikan pascasarjana di South Eastern University, Washington, D.C., dan meraih gelar Master of Business Administration (M.B.A.).

Tidak berhenti di bidang ekonomi dan administrasi bisnis, Fauzan Haviz kembali mengikuti pendidikan di Georgetown University, Washington, D.C., pada 2002. Di perguruan tinggi tersebut, Ia mengambil program Master of Arts in Liberal Studies (M.A.L.S.).

Program M.A.L.S. merupakan pendidikan pascasarjana yang menekankan pembelajaran lintas disiplin, pengembangan pemikiran kritis, pemecahan masalah secara kreatif, serta pemahaman terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan kebudayaan.

Sepulang dari Amerika Serikat, Fauzan Haviz melanjutkan pendidikan di Kota Bukittinggi dengan mengambil program Magister Manajemen di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Haji Agus Salim dan meraih gelar M.M. Institusi tersebut kemudian bertransformasi menjadi Institut Teknologi dan Bisnis Haji Agus Salim (ITBHAS) Bukittinggi sejak 21 April 2021.

Pada 2025, Fauzan Haviz memperluas bidang keilmuannya dengan mengikuti pendidikan di fakultas hukum untuk meraih gelar Sarjana Hukum (S.H.) dan melanjutkan pendidikan magister hukum di Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (UMSB), kampus Bukittinggi, sebagaimana tercantum dalam riwayat pendidikan yang disampaikan.

Dengan perjalanan pendidikan tersebut, Fauzan memiliki latar belakang akademik yang mencakup ekonomi, hukum, administrasi bisnis, studi liberal, dan manajemen. Ia juga sedang mengikuti program pendidikan doktoral (S3) Studi Islam di Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek (UIN SMDD) Bukittinggi.

Rangkaian pendidikan itu menunjukkan minatnya untuk terus memperluas pengetahuan di berbagai bidang ilmu. Bekal akademik multidisiplin tersebut menjadi bagian dari profil dirinya sebagai tokoh yang terlibat dalam dunia usaha, organisasi, pemerintahan, olahraga, dan kini kepemimpinan lembaga kemanusiaan.

Fauzan Haviz bersama keluarga

Kiprah di Dunia Usaha dan Kewirausahaan

Dalam bidang pekerjaan dan kewirausahaan, Fauzan Haviz menjalankan sejumlah usaha yang bergerak pada sektor perdagangan, peternakan dan industri kuda, otomotif, serta kuliner.

Ia tercatat sebagai pimpinan Toko Buku IRAMA Bukittinggi, pimpinan Biaro Farm Bukittinggi yang bergerak dalam industri kuda, pimpinan Biaro Auto Center di bidang otomotif, serta pemilik TAKEYA Japanese Restaurant di Biaro.

Keterlibatannya dalam beberapa bidang usaha tersebut memperlihatkan luasnya ruang aktivitas profesional yang dijalani. Sektor perdagangan, otomotif, kuliner, dan industri kuda memiliki karakteristik serta kebutuhan pengelolaan yang berbeda, sehingga memberikan pengalaman dalam menjalankan kegiatan usaha dengan lingkungan operasional yang beragam.

Selain mengelola usaha, Fauzan Haviz juga aktif dalam organisasi yang berkaitan dengan pengembangan pengusaha mikro, kecil, dan menengah. Pada 2021-2025, Ia dipercaya sebagai Wakil Ketua Himpunan Pengusaha Mikro Kecil dan Menengah Indonesia (HIPMIKINDO) Wilayah Sumatera Barat. Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari perjalanan organisasinya di bidang ekonomi kerakyatan dan pengembangan usaha.

Perjalanan Politik dan Pengabdian di Legislatif

Fauzan Haviz juga memiliki pengalaman dalam dunia politik dan Pemerintahan Daerah. Ia pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bukittinggi selama dua periode, yakni 2009-2014 dan 2014-2019. Pengalaman di lembaga legislatif tersebut menjadi bagian dari perjalanan pengabdiannya dalam kehidupan politik dan Pemerintahan Daerah.

Dalam organisasi politik, Fauzan Haviz pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Amanat Nasional (PAN) Kota Bukittinggi pada 2011-2016 dan kembali menjalankan jabatan tersebut pada 2016-2018, sesuai riwayat organisasi yang disampaikan. Selanjutnya, pada 2021-2026, Ia menjabat sebagai Ketua DPD Partai Ummat Kota Bukittinggi.

Pengalaman politik dan legislatif itu melengkapi aktivitasnya di bidang usaha, pendidikan, dan organisasi kemasyarakatan. Dalam perjalanan kariernya, Ia terlibat dalam berbagai lingkungan kelembagaan dengan tugas dan tanggung jawab yang berbeda.

Terpilihnya Fauzan Haviz sebagai Ketua PMI Kota Bukittinggi periode 2026-2031 menandai babak baru dalam perjalanan pengabdiannya, kali ini melalui lembaga yang berfokus pada pelayanan kemanusiaan.

Fauzan Haviz menandatatangani penerimaan alumni Itbhas

Aktif dalam Organisasi Alumni dan Pendidikan

Selain menjalankan kegiatan usaha dan politik, Fauzan Haviz memiliki rekam jejak panjang dalam organisasi alumni. Pada 2008-2011, Ia menjabat sebagai Ketua Umum HIMASMA, yakni Himpunan Alumni SMA 3 Bukittinggi. Setelah itu, pada 2012-2015, Ia dipercaya menjadi Dewan Penasihat HIMASMA 3 Teladan Bukittinggi.

Dalam lingkup alumni sekolah menengah pertama, Ia menjabat sebagai Ketua Alumni SMP 1 Bukittinggi Wilayah Sumatera Barat pada 2015-2018. Pada 2021-2025, Fauzan Haviz juga dipercaya menjadi Ketua Alumni Bukittinggi ’91. Selanjutnya, pada 2022-2025, Ia menjabat sebagai Ketua Alumni MM ITBHAS.

Pada 2025-2028, Ia tercatat sebagai Ketua Alumni ITBHAS dan juga dipercaya memimpin Ikatan Keluarga Alumni ITBHAS (IKAITBHAS) Bukittinggi sebagai ketua umum.

Aktivitas tersebut memperlihatkan keterlibatannya dalam menjaga hubungan antarlulusan dan membangun jaringan alumni. Organisasi alumni dapat menjadi ruang komunikasi, pertukaran pengalaman, serta pengembangan kerja sama yang menghubungkan dunia pendidikan dengan kehidupan profesional dan masyarakat.

Baca Juga:  Membangun Generasi Emas (Insan Kamil)

Bagi Fauzan Haviz, pengalaman berorganisasi di lingkungan pendidikan merupakan bagian dari perjalanan panjang yang berawal dari hubungan dengan almamater dan berkembang menjadi kegiatan pengabdian melalui jaringan alumni.

Keterlibatan dalam Seminar Nasional dan Pengembangan Olahraga

Bidang olahraga merupakan bagian lain dari perjalanan Fauzan Haviz. Pada 2008, Ia dipercaya sebagai Ketua Pelaksana Seminar Nasional Keolahragaan bersama Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) yang diselenggarakan di Perpustakaan Nasional Bung Hatta, Kota Bukittinggi. Kegiatan tersebut menjadi salah satu pengalaman organisasinya dalam penyelenggaraan kegiatan olahraga berskala nasional.

Selain itu, Fauzan Haviz terlibat dalam berbagai organisasi olahraga, baik di tingkat Kota, Provinsi, maupun Nasional. Bidang yang menjadi perhatian utamanya antara lain olahraga berkuda, bola basket, taekwondo, dan pembinaan olahraga masyarakat.

Pengalaman tersebut mencakup kepengurusan organisasi, pelaksanaan kegiatan olahraga, pembinaan atlet, serta penyelenggaraan berbagai agenda kompetisi.

Fauzan Haviz dan kuda pacu

Peran dalam Olahraga Berkuda dan Pacuan Kuda

Fauzan Haviz memiliki hobi berkuda dan menjalankan aktivitas usaha melalui Biaro Farm Bukittinggi yang bergerak dalam industri kuda. Keterlibatannya dalam olahraga berkuda tidak hanya berkaitan dengan hobi, tetapi juga mencakup peran sebagai pengelola kegiatan, pengurus organisasi, dan penggagas sejumlah agenda pacuan kuda.

Pada 2004, Ia tercatat sebagai konsultan independen dalam pembangunan Gelanggang Kandih Sawahlunto. Sejak 2006, Ia juga dikenal sebagai inisiator Sawahlunto Derby. Dalam organisasi olahraga berkuda, Fauzan Haviz pernah menjabat sebagai Ketua Bidang Pacuan PORDASI Kota Bukittinggi pada 2003-2007.

Pada 2009-2013, Ia menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Provinsi Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (PORDASI) Sumatera Barat. Pada 2010, Ia juga berperan sebagai pengarah Kejuaraan Nasional (Kejurnas) PORDASI di Sawahlunto.

Di luar Sumatera Barat, Fauzan Haviz menjadi inisiator Minang Derby yang diselenggarakan di Pulo Mas, Jakarta, pada 2010, 2011, 2012, dan 2013. Ia juga tercatat sebagai Ketua Pelaksana Bukittinggi Marathon 10-K pada 2009, 2010, 2011, dan 2012.

Pada tingkat Nasional, Fauzan Haviz pernah menjabat sebagai Dewan Pengawas Pengurus Pusat PORDASI pada 2011-2015. Selanjutnya, pada 2020-2024, Ia menjadi Ketua Bidang Pacu Pengurus Pusat PORDASI. Pada 2024, Ia dipercaya sebagai Technical Delegate cabang olahraga berkuda pacu pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI Aceh-Sumatera Utara.

Dalam riwayat organisasi yang disampaikan, Fauzan Haviz juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum II Pengurus Pusat PORDASI Pacu untuk periode 2024-2028 serta tercatat sebagai Ketua Pelaksana cabang olahraga berkuda pacu untuk PON XXII NTB-NTT tahun 2028.

Deretan aktivitas tersebut memperlihatkan keterlibatannya dalam berbagai aspek olahraga berkuda, mulai dari pengembangan fasilitas, pengorganisasian kompetisi, pembinaan, hingga pengelolaan kegiatan pada tingkat nasional.

Pengalaman di dunia olahraga turut melengkapi perjalanan organisasinya sebelum mengemban tugas di PMI Kota Bukittinggi.

Kiprah dalam Bola Basket, Taekwondo, dan Olahraga Disabilitas

Selain berkuda, Fauzan Haviz memiliki minat terhadap bola basket. Ia telah mengenal olahraga tersebut sejak duduk di bangku SMA. Ketertarikan itu kemudian berkembang menjadi keterlibatan dalam organisasi olahraga. Pada 2005-2009, Ia tercatat sebagai unsur pembinaan dan prestasi atau Binpres Pengprov Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (PERBASI) Sumatera Barat. Pada periode yang sama, Ia juga menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Cabang PERBASI Kota Bukittinggi.

Keterlibatannya dalam olahraga bela diri juga tercatat melalui Pengurus Provinsi Taekwondo Indonesia Sumatera Barat. Pada periode yang disebutkan, Fauzan bertugas di bidang dana, kemudian menjabat sebagai Ketua Harian Pengprov Taekwondo Indonesia Sumatera Barat pada 2011-2015.

Di bidang olahraga lainnya, Fauzan Haviz pernah menjadi unsur bidang dana Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Agam pada 2004-2008. Ia juga menjabat sebagai Ketua Harian Pengurus Cabang Special Olympics Indonesia (SOINA) Kota Bukittinggi pada 2008-2012.

Special Olympics Indonesia merupakan bagian dari gerakan olahraga yang menyediakan kesempatan bagi penyandang disabilitas intelektual untuk berlatih dan berkompetisi. Kegiatan organisasi tersebut berhubungan dengan pembinaan, pelatihan, serta penyelenggaraan kompetisi olahraga yang inklusif.

Keterlibatan Fauzan Haviz dalam organisasi tersebut menjadi bagian dari rekam jejaknya di bidang olahraga yang mencakup beragam kelompok masyarakat.

Dua Periode Memimpin KONI Kota Bukittinggi

Pengalaman Fauzan dalam organisasi olahraga juga mencakup kepemimpinan di Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Bukittinggi. Ia tercatat menjabat sebagai Ketua KONI Kota Bukittinggi pada periode 2009-2013 dan kembali memimpin organisasi tersebut pada 2013-2017.

Dalam lingkup Provinsi, pada 2013-2017 dan 2021-2025, Fauzan Haviz juga tercatat menjalankan tugas pada bidang antar-lembaga Pengurus KONI Sumatera Barat. Pengalaman tersebut memperluas keterlibatannya dalam koordinasi organisasi olahraga di tingkat daerah dan provinsi.

Melalui berbagai jabatan yang pernah dijalani, Fauzan Haviz berhubungan dengan kegiatan pembinaan, pengembangan organisasi, koordinasi antarlembaga, serta penyelenggaraan kegiatan olahraga. Rekam jejak itu menjadi bagian dari profilnya sebagai tokoh publik yang aktif dalam beragam sektor kehidupan masyarakat Kota Bukittinggi.

PMI Bukittinggi dan Tantangan Pelayanan Kemanusiaan Lima Tahun ke Depan

Dengan terpilihnya Fauzan Haviz sebagai Ketua PMI Kota Bukittinggi periode 2026-2031, perhatian kini tertuju pada bagaimana rancangan program kerja tersebut diterjemahkan menjadi pelayanan yang dapat dirasakan masyarakat.

Ketersediaan darah, penguatan relawan, komunikasi dengan rumah sakit, kesiapsiagaan bencana, serta perluasan jaringan donor darah merupakan sejumlah bidang yang memerlukan koordinasi berkelanjutan.

Pelaksanaan program tersebut membutuhkan dukungan dari pengurus, staf, relawan, Pemerintah Daerah, fasilitas kesehatan, sekolah, perguruan tinggi, komunitas pedagang, pelaku UMKM, sektor swasta, dan masyarakat luas.

Rencana kemitraan yang disiapkan membuka ruang bagi setiap unsur untuk mengambil peran sesuai dengan kapasitas dan sumber daya masing-masing. Sekolah dapat menjadi pusat edukasi kemanusiaan, komunitas ekonomi dapat membantu memperluas jaringan pendonor, sedangkan Pemerintah dan lembaga terkait dapat memperkuat koordinasi dalam kesiapsiagaan bencana.

Di sisi internal, transparansi organisasi dan penguatan kapasitas relawan menjadi bagian penting untuk mendukung pelaksanaan program. Sementara itu, komunikasi dengan rumah sakit perlu diarahkan pada pemenuhan kebutuhan pasien serta kelancaran pelayanan darah.

Keberhasilan agenda tersebut pada akhirnya akan bergantung pada pelaksanaan program, konsistensi koordinasi, dukungan para mitra, dan partisipasi masyarakat. Bagi Fauzan Haviz, kepemimpinan di PMI merupakan amanah yang menempatkan nilai kemanusiaan sebagai orientasi utama. Pengalaman panjangnya di dunia pendidikan, usaha, politik, dan olahraga menjadi bagian dari perjalanan yang kini berlanjut melalui organisasi pelayanan kemanusiaan.

Ia ingin mengajak seluruh unsur masyarakat untuk membangun gerakan yang tidak hanya hadir ketika bencana terjadi, tetapi juga tumbuh melalui kegiatan sosial, edukasi, donor darah sukarela, dan kepedulian terhadap sesama.

Dengan semangat kolaborasi, PMI Kota Bukittinggi diharapkan dapat memperkuat perannya sebagai lembaga kemanusiaan yang responsif, inklusif, transparan, dan dekat dengan masyarakat.

Setiap relawan yang bergerak, setiap mitra yang berkolaborasi, dan setiap warga yang mendonorkan darah memiliki arti dalam upaya menyelamatkan kehidupan.

Pada akhirnya, pesan utama yang ingin ditegaskan melalui agenda kepemimpinan PMI Kota Bukittinggi periode 2026-2031 adalah bahwa gerakan kemanusiaan merupakan tanggung jawab bersama. Organisasi dapat menjadi penggerak, tetapi keberlanjutan gerakan tersebut membutuhkan kepedulian dan partisipasi seluruh elemen masyarakat. (Iwin SB)

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.



Opini

Prof. Elfindri/FEB Unand Selama ini riset yang lagi intensif dalam political economics salah satunya adalah munculnya fenomena Political Dynasti. Sebuah…