Scroll untuk baca artikel
Banner Harian Khazanah
BeritaOpini

Jangan Sampai Kita Menjadi Korban Berikutnya

×

Jangan Sampai Kita Menjadi Korban Berikutnya

Sebarkan artikel ini

Oleh: Riri Satria

Hari ini dua orang sahabat saya, pribadi-pribadi yang saya kenal cerdas, teliti, dan tidak mudah percaya, justru menjadi korban penipuan di dunia siber atau intenet. Kerugiannya puluhan juta rupiah. Peristiwa itu membuat saya terdiam cukup lama. Ada rasa marah, sedih, sekaligus cemas.

Iklan
Scroll Untuk Baca Artikel

Marah karena masih ada orang yang dengan sengaja menjadikan kepercayaan sebagai alat untuk memangsa sesama manusia. Sedih karena korban bukan sekadar kehilangan uang, melainkan juga kehilangan rasa aman. Cemas karena kejadian ini terasa begitu dekat hingga saya sadar bahwa siapa pun di antara kita bisa menjadi korban berikutnya.

Dunia siber atau internet yang semula kita sambut sebagai ruang kemudahan, pengetahuan, dan konektivitas, kini juga menjelma menjadi ruang yang penuh jebakan. Penipuan digital semakin marak, semakin halus, dan semakin canggih.

Pelaku memanfaatkan pesan singkat, panggilan telepon, media sosial, hingga teknologi kecerdasan buatan atau AI untuk menipu korbannya. Mereka dapat meniru suara, membuat pesan yang sangat meyakinkan, bahkan menciptakan identitas palsu yang tampak begitu nyata. Jelaslah bahwa kewaspadaan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan dalam kehidupan digital kita sehari-hari.

Baca Juga:  Mulai Agustus 2026, ATR/BPN Terapkan Pengukuran Tanah Terjadwal dengan Batas Layanan 12 Hari

Bentuk penipuan yang paling sederhana biasanya dimulai dari sesuatu yang tampak sepele, yaitu sebuah pesan WhatsApp, SMS, email, atau tautan yang dikirim dengan nada mendesak. “Akun Anda akan diblokir.” “Paket Anda tertahan.” “Segera klik untuk verifikasi.”

Modus seperti ini dikenal sebagai “phishing”, yaitu upaya memancing korban agar memberikan data pribadi seperti kata sandi, PIN, OTP, atau nomor kartu. Sederhana tetapi sangat efektif karena bermain dengan rasa panik dan kegagapan.

Ada pula penipuan yang menyerang sisi emosional, seperti “love scam” atau penipuan asmara. Pelaku membangun kedekatan selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Mereka hadir sebagai sosok yang perhatian, romantis, dan tampak tulus. Namun di balik semua itu, tersimpan tujuan finansial.

Setelah korban terikat secara emosional, mulailah muncul kisah tentang musibah, bisnis yang membutuhkan bantuan dana, atau investasi yang diklaim sangat menguntungkan. Nah, yang dirampas bukan hanya uang, tetapi juga perasaan dan kepercayaan.

Modus lain yang semakin sering terjadi adalah penipuan investasi dan kripto. Korban diperlihatkan tampilan keuntungan palsu, grafik yang terus naik, serta testimoni yang tampak meyakinkan.

Mula-mula korban diberi keuntungan kecil agar percaya, lalu diminta menaruh dana dalam jumlah lebih besar. Setelah uang terkumpul, akun mendadak dibekukan dengan berbagai alasan, seperti pajak, biaya administrasi, atau verifikasi tambahan.

Baca Juga:  Warga Tanah Hitam Padang Panjang Dapat Bantuan Bedah Rumah dari Pemprov Sumbar

Bentuk yang lebih canggih lagi adalah penyamaran identitas berbasis kecerdasan buatan atau AI. Suara anggota keluarga dapat ditiru, video call dapat dipalsukan, dan pesan dapat dibuat seolah-olah berasal dari atasan kantor atau pihak resmi. Inilah wajah baru kejahatan digital, yaitu kebohongan yang tidak lagi sekadar berupa kata-kata, tetapi juga simulasi realitas.

Apa yang harus kita lakukan sebagai pengguna awam? Pertama, jangan pernah mengambil keputusan saat sedang panik. Penipu selalu berusaha menciptakan rasa mendesak agar kita tidak sempat berpikir jernih.

Kedua, jangan pernah memberikan OTP, PIN, kata sandi, atau kode verifikasi kepada siapa pun, termasuk pihak yang mengaku dari bank atau lembaga resmi.

Ketiga, selalu lakukan verifikasi melalui jalur resmi. Jika ada pesan mencurigakan dari bank atau marketplace, hubungi layanan pelanggan resmi, bukan nomor yang tertera dalam pesan tersebut.

Keempat, waspadai segala janji yang terlalu indah, hadiah undian, keuntungan besar tanpa risiko, cinta yang datang terlalu cepat, atau tawaran kerja yang meminta biaya pendaftaran. Kelima, aktifkan autentikasi dua faktor untuk semua akun penting.

Baca Juga:  Pemerintah Kota Bukittinggi Gelar Musrenbang RKPD Tahun 2027

Bagi saya, kejadian yang menimpa dua sahabat hari ini bukan sekadar cerita tentang uang yang hilang. Ini adalah cermin zaman kita. Di era digital, kejahatan tidak selalu datang dengan wajah garang; kadang ia hadir dengan bahasa yang sopan, foto profil yang menarik, bahkan suara yang terdengar akrab. Kita hidup pada masa ketika kewaspadaan menjadi bentuk baru dari kecerdasan.

Saya menulis ini dengan perasaan yang jujur, ada kegelisahan yang sulit disembunyikan. Sebab saya sadar, penipuan digital tidak memilih korban berdasarkan tingkat pendidikan, usia, atau latar belakang sosial. Semua orang bisa terjebak. Justu yang membedakan hanyalah seberapa cepat kita mengenali modusnya.

Maka pesan saya untuk sahabat semua, waspadalah, hati-hatilah, dan pelajarilah berbagai bentuk penipuan di dunia siber. Jangan sampai kita menjadi korban berikutnya. (***)

*) Penulis adalah Dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia (UI), pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital (PSD).

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.