Scroll untuk baca artikel
Banner Harian Khazanah
Berita

Bagak Nomor Duo

×

Bagak Nomor Duo

Sebarkan artikel ini
Singkatnya Gini...
  • Baduatai digambarkan sebagai sosok pemimpin yang arogan, otoriter, dan melupakan janji-janji publiknya setelah berhasil meraih kekuasaan.
  • Gaya kepemimpinan Baduatai dinilai mengabaikan amanah serta prinsip kearifan lokal yang menekankan ketegasan dan kehati-hatian dalam merayomi rakyat kecil.
  • Melalui figur Malanca, muncul imbauan agar Baduatai menurunkan ego dan kesombongannya demi mencegah dampak buruk yang merugikan masyarakat sekitar.
Penafian: Poin utama ini diproses menggunakan Kecerdasan Buatan (AI) untuk memudahkan pembaca, dengan tetap di bawah pengawasan redaksi.

Serial Kurenah Malanca Oleh Rang Chaniago
‎
‎TERSEBUTLAH di suatu daerah di negeri antah berantah, Baduatai dipercaya menjadi ketua. Tak disebutkan apakah dia ketua partai, ketua pemuda, ketua berburu atau ketua masjid.

Sudahlah, persoalan ketua ini tak perlu diperpanjang. Sebab, diperdebatkan pun tak guna, karena Baduatai telah terlanjur jadi ketua.

Iklan
Scroll Untuk Baca Artikel

Baduatai benar-benar memperlagakkan jabatan ketuanya. Kalau bicara tak lagi di bawah-bawah, mandipun tak mau di hilir-hilir.

Dia hanya mau didengar, dia hanya mau diikuti. Dia tak mau didebat, pun tak mau dipersalahkan. Mungkin ini tabiat orang-orang yang punya kuasa.

Baduatai bak pepatah Minang, “kacak langan lah bak langan, kacak batih lah bak batih“. Yang berlaku hanya apa yang ada dihatinya.

“Barajo di hati” mungkin ini yang cocok disematkan kepadanya. Baduatai benar-benar menikmati jabatan ketuanya, “duduak sarupo rang manjua, tagak sarupo rang mambali“, begitulah keseharian ketua kita ini.

Baca Juga:  Wakil Wali Kota Bukittinggi Ibnu Asis, S.TP Membuka WSFF Tahun 2025

Seluruh janji yang pernah diucapkan saat mengambil hati publik, mulai dilupakan atau mungkin terlupakan. Namun yang menyedihkan, meski urang balai banyak yang kecewa, tapi dubalang dan tukang anjuangnya saat ikut lomba pacu karung tetap mengacungi jempol kepadanya.

Ya, tak bisa dipungkiri, saat layang-layang sedang tegak tali, semua yang terlihat sangat kecil. Bahkan layang-layang mulai tak menganggap siapa yang memegang benangnya.

Walaupun orang banyak mulai menghindar, bahkan mulai meninggalkannya, namun Baduatai tak peduli.

‎Dalam benaknya hanya ada satu kalimat, “Buat apa memikirkan orang lain, yang penting saya orang nomor satu,”.

Namun Ketua Baduatai lupa, sebagai orang nomor satu dia harus sadar kalau jabatan yang dipegangnya adalah amanah. Bak kata pepatah pula, “alu tataruang patah tigo, samuik tapijak indak mati,”. Kalau boleh dijabarkan, pepatah itu mengandung makna:
‎
‎Alu Tataruang Patah Tigo
‎
‎Alu (alat tumbuk padi) yang terbentur keras bisa patah menjadi tiga, melambangkan ketegasan dan kemampuan menghadapi masalah berat atau rumit.
‎
‎Samuik Tapijak Indak Mati
‎
‎Semut yang terinjak tidak sampai mati, melambangkan kehati-hatian yang tinggi agar tidak merugikan atau menyakiti orang yang lemah.
‎
‎Ya, pepatah tinggal pepatah, nasehat tinggal nasehat. Engku Baduatai mungkin lupa, “sabanyak urang nan sayang, sabanyak itu pulo urang nan banci”.
‎
‎Artinya, ketidakmungkinan memuaskan semua orang, di mana pujian selalu berdampingan dengan cacian serta pro dan kontra selalu seimbang dalam hidup.
‎
‎Inilah yang dirasakan oleh Malanca, meski dia tidak ketua, tapi dia merasakan sekali kalau Engku Baduatai mulai melupakan akarnya.
‎
‎Malanca pun sadar, dia bukan pula orang bagak yang kata dan keinginannya akan diikuti orang banyak.
‎
‎Namun di sini pula sikap arif dan bijaksana Malanca muncul. Baginya, kalaupun tak bisa mengalahkan Baduatai sebagai urang bagak nomor satu, biarlah dia memposisikan dirinya sebagai urang bagak nomor dua.
‎
‎Hanya satu yang dia harapkan kepada Engku Baduatai, “Engku, kok buliah pintak jo pinto, tolong turunkan daguak Engku, raso ka tapijak kami nan lalu“.

Baca Juga:  Kebersamaan Modal Pembangunan, Halal Bihalal S3 Sumbar Berlangsung Meriah

Atau kalau dindonesiakan berarti “Tuan, kalau boleh kami meminta, tolong dagu Tuan diturunkan agar tak terinjak kami yang lewat”. **
‎

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.