Padang, Khazminang.id— Ketika masa Kuliah Kerja Nyata (KKN) berakhir pada 7 Februari 2026, sebagian besar mahasiswa membawa pulang foto bersama, kenangan, dan laporan akhir. Dennis Sukma Adiputra memilih membawa pulang sesuatu yang lain: sebuah naskah setebal 254 halaman.
Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Andalas itu menuliskan ulang hari-harinya selama menjalani KKN di Nagari Paninjauan, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar.
Catatan itu kemudian terbit menjadi buku berjudul 38 Hari di Paninjauan: Memoar KKN 2026, diterbitkan oleh MRI Press, Padang.
Buku tersebut merekam pengalaman Dennis bersama rekan-rekannya sejak hari pertama tiba di nagari pada 1 Januari hingga menutup masa pengabdian pada 7 Februari 2026. Bukan laporan kegiatan yang lazim disusun mahasiswa, melainkan kisah-kisah kecil yang lahir dari kehidupan sehari-hari di posko KKN dan perjumpaan dengan masyarakat.
Ada cerita tentang kebersamaan di rumah Posko, dinamika menyusun program kerja, tawa yang muncul dari kejadian-kejadian tak terduga, hingga rasa haru ketika harus berpamitan dengan warga yang selama lebih dari sebulan menerima mereka sebagai bagian dari keluarga.
Bagi Dennis, pengalaman semacam itu terlalu berharga jika hanya tersimpan dalam ingatan.
“Semoga buku ini menjadi kenangan dan serpihan informasi bagi pembacanya,” kata Dennis.
Ia mengaku sejak awal ingin menjadikan pengalaman KKN sebagai bagian dari dokumentasi perjalanan hidupnya sebagai mahasiswa. Menurutnya, masa pengabdian di tengah masyarakat bukan sekadar memenuhi kewajiban akademik, melainkan fase yang membentuk cara pandang seseorang terhadap kehidupan.
Di dalam buku, Dennis tidak hanya menuliskan kegiatan resmi yang dijalankan kelompok KKN. Ia juga merekam percakapan-percakapan sederhana, kebiasaan masyarakat, kebersamaan dengan teman satu posko, hingga berbagai peristiwa yang kadang luput dicatat dalam laporan akademik.
Pilihan itu membuat memoarnya terasa lebih personal. Pembaca diajak melihat KKN bukan dari balik angka capaian program kerja, melainkan melalui pengalaman manusia yang penuh emosi: cemas ketika menghadapi persoalan di lapangan, bahagia saat kegiatan berjalan lancar, lelah setelah seharian beraktivitas, hingga sedih ketika masa pengabdian berakhir.
Di sela-sela kisah tersebut, Dennis juga menggambarkan kehidupan masyarakat Nagari Paninjauan yang menjadi ruang belajarnya selama 38 hari. Interaksi dengan warga memperlihatkan bagaimana gotong royong, keramahan, dan kehidupan sosial di nagari memberi pengalaman yang tidak diperoleh di ruang kuliah.
Kehadiran buku itu mendapat apresiasi dari Dekan Fakultas Hukum Universitas Andalas, Prof. Dr. Ferdi, S.H., M.H. Dalam kata pengantarnya, ia menilai kemampuan mahasiswa menuangkan pengalaman ke dalam tulisan kini semakin jarang ditemukan.
Karena itu, ia berharap lahirnya buku karya Dennis dapat menjadi pemantik bagi mahasiswa lain untuk mulai membangun tradisi menulis.
“Saya berharap buku Memoar KKN ini menambah koleksi buku karya mahasiswa dan bisa menjadi pemicu bagi mahasiswa lain untuk giat menulis, karena manfaat menulis sangat banyak,” tulis Prof. Ferdi.
Menurutnya, menulis bukan sekadar menghasilkan sebuah buku, tetapi juga melatih kemampuan berpikir kritis, menyusun gagasan, serta mendokumentasikan pengalaman agar dapat dibaca lintas generasi.
Berbeda dengan laporan KKN yang biasanya berisi uraian program, data, dan capaian kegiatan, 38 Hari di Paninjauan menghadirkan sisi lain dari pengabdian mahasiswa. Buku ini menempatkan pengalaman sebagai inti cerita.
Pembaca dapat mengikuti bagaimana kehidupan di posko berlangsung dari pagi hingga malam, bagaimana hubungan antar anggota kelompok terbentuk, serta bagaimana masyarakat menjadi bagian dari cerita yang terus bergerak dari halaman ke halaman.
Penyunting buku, Sukwan Hanafi, mempertahankan gaya bertutur yang ringan agar pengalaman personal penulis tetap terasa dekat dengan pembaca. Hasilnya adalah sebuah memoar yang mengalir seperti seseorang sedang berkisah tentang fase penting dalam hidupnya.
Terbitnya buku ini sekaligus menambah deretan karya mahasiswa Universitas Andalas yang lahir dari pengalaman lapangan. Di tengah kebiasaan mendokumentasikan aktivitas melalui media sosial, Dennis memilih medium yang lebih panjang umur: buku.
Pilihan itu menjadi pengingat bahwa setiap perjalanan, betapapun singkatnya, selalu menyimpan cerita yang layak dituliskan. Sebab, seperti yang diyakini Dennis, kenangan tidak hanya hidup di dalam ingatan. Ia juga bisa tinggal lebih lama di halaman-halaman buku, menunggu untuk dibaca kembali bertahun-tahun kemudian. Hans
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.






