Scroll untuk baca artikel
Banner Harian Khazanah
Ekonomi

201 Km Rel Kereta di Sumbar Menunggu Diaktifkan

×

201 Km Rel Kereta di Sumbar Menunggu Diaktifkan

Sebarkan artikel ini
Singkatnya Gini...
  • KAI Divre II Sumatra Barat mengelola 312,2 kilometer jaringan rel dengan 110,9 kilometer jalur aktif yang berfungsi sebagai penghubung ekonomi, akses transportasi harian, pariwisata, dan distribusi barang.
  • Minat masyarakat terhadap transportasi kereta api di wilayah tersebut mengalami lonjakan signifikan sebesar 81 persen dalam periode 2021 hingga 2025, dengan total pelanggan mencapai hampir 1,98 juta orang pada tahun 2025.
  • Terdapat peluang besar untuk mereaktivasi jalur kereta api nonaktif guna memperkuat konektivitas, menekan biaya logistik, dan mendukung pertumbuhan sektor pariwisata Sumatra Barat yang terus meningkat.
Penafian: Poin utama ini diproses menggunakan Kecerdasan Buatan (AI) untuk memudahkan pembaca, dengan tetap di bawah pengawasan redaksi.

Padang, Khazanah — Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan Sumatera Barat memiliki posisi yang sangat khas dalam sejarah perkeretaapian nasional karena sejak awal rel dibangun untuk menghubungkan kawasan tambang, pelabuhan, kota, dan masyarakat.

“Sumatera Barat menunjukkan bagaimana kereta api sejak awal menjadi penghubung ekonomi, kota, pelabuhan, dan masyarakat. Jejak itu tetap relevan untuk membaca kebutuhan konektivitas Sumatra hari ini,” ujar Anne.

Iklan
Scroll Untuk Baca Artikel

Saat ini Divre II Sumatera Barat mengelola jaringan rel sepanjang sekitar 312,2 kilometer. Dari total tersebut, sekitar 110,9 kilometer masih aktif beroperasi, sedangkan lebih dari 201 kilometer lainnya berstatus nonaktif. Infrastruktur tersebut didukung oleh 20 stasiun dan shelter penumpang serta empat stasiun angkutan barang.

Kereta Semakin Diminati

Layanan kereta api di Sumatera Barat saat ini meliputi KA Pariaman Ekspres, KA Minangkabau Ekspres, KA Lembah Anai, serta KA wisata Mak Itam. Selain melayani perjalanan masyarakat sehari-hari, layanan tersebut juga mendukung akses menuju Bandara Internasional Minangkabau dan destinasi wisata unggulan.

Baca Juga:  Kabupaten Solok Ingin Jadi Sentra Bawang Merah Terbesar di Indonesia

Selama Januari hingga Mei 2026, kereta api penumpang di wilayah Divre II Sumatera Barat melayani 913.674 pelanggan. Sementara untuk angkutan barang, KAI mengangkut 492.220 ton semen dan klinker yang mendukung kelancaran distribusi industri di daerah tersebut.

Dalam lima tahun terakhir, minat masyarakat terhadap transportasi berbasis rel juga terus meningkat. Jumlah pelanggan naik dari sekitar 1,09 juta pada 2021 menjadi hampir 1,98 juta pelanggan pada 2025 atau tumbuh sekitar 81 persen.

KA Pariaman Ekspres menjadi tulang punggung layanan dengan jumlah pelanggan mencapai 1,6 juta orang sepanjang 2025. Sementara KA Lembah Anai juga mencatat peningkatan signifikan setelah dilakukan penyesuaian relasi perjalanan.

Menurut Anne, keberhasilan layanan kereta api di Sumatera Barat tidak lepas dari kedekatannya dengan kebutuhan masyarakat.

“Kereta api di Sumatera Barat dekat dengan kehidupan masyarakat. Ia melayani perjalanan harian, akses bandara, wisata, sekaligus mendukung distribusi barang,” kata Anne.

Peluang Reaktivasi

Selain melayani kebutuhan saat ini, Sumatera Barat juga memiliki peluang besar dalam pengembangan jaringan rel masa depan. Sejumlah jalur nonaktif masih menyimpan potensi untuk direaktivasi, di antaranya Naras–Sungai Limau, Kayu Tanam–Padang Panjang–Bukittinggi–Limbanang, Muarokalaban–Sawahlunto, hingga Solok–Muarokalaban.

Baca Juga:  Muhidi: Agar Lebih Bermanfaat, Dana Abadi PT. Rajawali dari Bentuk Deposito Dialihkan Jadi Penyertaan Modal pada PT. Bank Nagari

Salah satu lintas yang dinilai paling prospektif adalah jalur Kayu Tanam–Padang Panjang–Bukittinggi–Payakumbuh sepanjang sekitar 67 kilometer. Jalur ini berpotensi memperkuat akses menuju kawasan wisata, pusat pendidikan, sentra ekonomi, serta mendukung distribusi logistik di wilayah Minangkabau.

Potensi tersebut semakin relevan seiring pertumbuhan sektor pariwisata Sumatera Barat. Jumlah perjalanan wisatawan nusantara meningkat dari 8,4 juta perjalanan pada 2021 menjadi 20,7 juta perjalanan pada 2025. Destinasi seperti Jam Gadang, Danau Singkarak, Sawahlunto, Padang Panjang, dan Bukittinggi menjadi kawasan yang dapat diperkuat melalui konektivitas kereta api.

Dalam konteks pengembangan jaringan rel Sumatra, keberadaan jalur kereta api dinilai tidak hanya berfungsi sebagai sarana transportasi, tetapi juga instrumen untuk menekan biaya logistik, memperluas akses wisata, serta memperkuat pertumbuhan ekonomi daerah.

“Sejarah rel Sumatera Barat memberi pelajaran penting bahwa konektivitas selain sebagai jalur, juga menjadi akses, pertumbuhan wilayah, dan kesempatan yang lebih merata bagi masyarakat,” kata Anne. (Eko/goodnewsfromindonesia)

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.

Baca Juga:  Ketua DPRD Sumbar Muhidi: Penguatan Bank Nagari akan Memperluas Dukungan bagi Pelaku Usaha Masyarakat