Taipei, Khazanah – Kasus COVID-19 di Taiwan menunjukkan tren peningkatan yang mengkhawatirkan. Selama lima pekan berturut-turut, jumlah infeksi terus bertambah hingga mendorong otoritas kesehatan setempat memperingatkan bahwa gelombang epidemi baru berpotensi dimulai paling cepat pada pekan ini.
Pusat Pengendalian Penyakit Taiwan (Centers for Disease Control/CDC) menyatakan lonjakan kasus tersebut menjadi sinyal kuat bahwa penularan virus kembali meningkat di tengah tingginya mobilitas masyarakat dan tren kenaikan kasus di sejumlah negara Asia.
Juru Bicara CDC Taiwan, Tseng Shu-hui, mengungkapkan bahwa pada pekan epidemiologi ke-27, yakni 5–11 Juli 2026, jumlah kunjungan pasien COVID-19 ke layanan rawat jalan maupun instalasi gawat darurat mencapai 2.811 kasus. Angka itu meningkat 34,4 persen dibandingkan pekan sebelumnya.
“Jika tren ini terus berlanjut, Taiwan berpotensi memasuki gelombang epidemi baru dalam waktu dekat,” kata Tseng.
Berdasarkan pemodelan epidemiologi CDC, jumlah kunjungan pasien diperkirakan segera melampaui 5.000 kasus per pekan, yang menjadi indikator resmi dimulainya gelombang baru COVID-19. Puncak penyebaran diprediksi terjadi pada pertengahan hingga akhir Agustus 2026.
Lonjakan kasus di Taiwan juga dipengaruhi oleh meningkatnya penularan COVID-19 di sejumlah negara Asia. Saat ini, Tiongkok, Hong Kong, Jepang, Korea Selatan, dan Singapura sama-sama melaporkan kenaikan jumlah kasus sehingga meningkatkan risiko penyebaran lintas negara.
Meski demikian, CDC memperkirakan gelombang kali ini tidak akan sebesar lonjakan pada tahun lalu. Puncak kunjungan pasien diperkirakan berada di kisaran 50.000 kunjungan per pekan, lebih rendah dibandingkan gelombang sebelumnya.
Libur musim panas yang menyebabkan sekolah-sekolah tutup juga diperkirakan dapat membantu menekan laju penularan di kalangan anak-anak dan remaja.
Paling Rentan
Data pemantauan CDC sejak Oktober 2025 menunjukkan bahwa COVID-19 masih berisiko menyebabkan penyakit berat, terutama pada kelompok rentan.
Dalam periode tersebut tercatat 136 kasus lokal dengan komplikasi berat, termasuk 18 kasus kematian.
Mayoritas pasien bergejala berat merupakan kelompok berisiko tinggi, yakni:
- 72,1 persen berusia 65 tahun ke atas.
- 83,8 persen memiliki penyakit penyerta atau penyakit kronis.
- 94,9 persen belum menerima vaksin COVID-19 untuk musim ini.
Data tersebut menunjukkan bahwa rendahnya cakupan vaksinasi masih menjadi salah satu faktor utama yang meningkatkan risiko perawatan di rumah sakit hingga kematian akibat COVID-19.
CDC Perluas Vaksinasi Gratis
Mengantisipasi meningkatnya kasus, pemerintah Taiwan masih melanjutkan program vaksinasi COVID-19 gratis bagi seluruh penduduk berusia enam bulan ke atas hingga 31 Juli 2026.
Saat ini masih tersedia sekitar 456.000 dosis vaksin, terdiri atas sekitar 450.000 dosis Moderna dan 6.000 dosis Novavax.
CDC secara khusus mengimbau masyarakat lanjut usia berusia di atas 65 tahun, terutama mereka yang belum pernah menerima vaksin musim ini atau telah mendapatkan dosis terakhir lebih dari enam bulan lalu, agar segera memperoleh vaksin penguat.
Menurut CDC, vaksinasi tetap menjadi langkah paling efektif untuk menekan risiko gejala berat, perawatan di rumah sakit, dan kematian di tengah meningkatnya kembali penyebaran COVID-19 di Taiwan. (Eko/rti)
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.



