Foto-foto: dari Asahi Shimbun
Nara, Khazanah – Sebuah penjara bersejarah peninggalan Era Meiji (1868–1912) di Kota Nara, Jepang, resmi dibuka kembali sebagai hotel mewah setelah melalui proses restorasi selama beberapa tahun. Berbeda dengan proyek komersial pada umumnya, keuntungan dari operasional hotel ini akan digunakan untuk mendukung pelestarian bangunan cagar budaya tersebut.
Bangunan yang kini bernama Hoshinoya Nara Prison itu mulai menerima tamu pada 25 Juni 2026 di bawah pengelolaan Hoshino Resorts Inc. Proyek pembukaannya sempat tertunda selama dua tahun sebelum akhirnya rampung.
Sel aslinya tetap dipertahankan
Bekas Penjara Nara merupakan salah satu dari lima penjara bergengsi yang dibangun pada Era Meiji dan telah ditetapkan sebagai aset budaya penting nasional Jepang. Transformasi bangunan bersejarah ini menjadi hotel dilakukan dengan prinsip mempertahankan keaslian arsitektur sambil menyesuaikannya dengan fungsi modern.
Bangunan dua lantai berbahan bata merah itu memiliki lima blok sel yang memancar dari sebuah menara pengawas di bagian tengah. Empat blok di antaranya diubah menjadi area hotel, sedangkan satu blok lainnya bersama sejumlah bangunan tambahan difungsikan sebagai Museum Penjara Nara, yang menampilkan sejarah lembaga pemasyarakatan tersebut dan kehidupan para narapidana pada masa lalu.
Hotel ini menyediakan 48 suite, masing-masing merupakan gabungan dari sekitar 10 sel penjara berukuran lima meter persegi yang direnovasi menjadi kamar tidur, ruang tamu, dan kamar mandi. Sementara ruang pertemuan utama dibangun dari bekas aula penjaga dengan langit-langit melengkung setinggi 9,4 meter yang kini menghadirkan suasana elegan layaknya bangunan bersejarah.
Tarif menginap dipatok mulai 147.000 yen atau sekitar US$910 per malam, belum termasuk biaya makan.
Restorasi Mengutamakan Keaslian Bangunan
Proses restorasi dipimpin oleh Shinobu Matsushima, Manajer Umum Departemen Desain Arsitektur Yasui Architects & Engineers Inc. Menurutnya, keputusan mempertahankan sebagian besar struktur asli diambil setelah tim menemukan bahwa kondisi bangunan masih sangat baik meski telah berusia lebih dari satu abad.

“Pemeriksaan menunjukkan tidak ada kerusakan struktural yang serius. Bahkan ketahanan bangunan terhadap gempa jauh lebih baik daripada yang kami perkirakan,” ujar Matsushima.
Ia menjelaskan, kekuatan bangunan berasal dari desain radial yang unik, jumlah bukaan yang relatif sedikit, serta dinding-dinding tebal yang memisahkan setiap sel.
Untuk mempertahankan bentuk aslinya, tim restorasi hanya menambahkan rangka baja sebagai penguat struktur tanpa mengubah karakter utama bangunan. Pembersihan dinding bata pun dilakukan secara manual menggunakan sikat agar tidak merusak material asli.
Selama proses renovasi, tim juga menemukan sejumlah peninggalan sejarah, antara lain sisa cerobong asap yang tidak tercantum dalam gambar rancangan awal serta sebuah lempeng kayu bertuliskan pesan tulisan tangan yang diperkirakan berasal dari masa operasional penjara. Temuan tersebut kembali dikonservasi sebagai bagian dari upaya pelestarian.
Simbol Modernisasi Jepang
Penjara Nara selesai dibangun pada 1908 setelah tujuh tahun pengerjaan. Arsiteknya, Keijiro Yamashita, merancang bangunan tersebut setelah mempelajari sistem penjara di Eropa dan Amerika Utara.
Saat itu, pemerintah Jepang membangun penjara modern sebagai simbol transformasi negara dari sistem feodal menuju negara modern yang menjunjung supremasi hukum sekaligus menunjukkan kemajuan kepada negara-negara Barat.
Mau mencoba tiur dalam penjara ini?
Pada masa awal Era Showa hingga Perang Dunia II, Penjara Nara menjadi tempat penahanan banyak tahanan politik yang dijerat Undang-Undang Pelestarian Perdamaian. Setelah perang berakhir, bangunan tersebut dialihfungsikan menjadi penjara anak hingga akhirnya ditutup pada 2017.
Model Pelestarian Berkelanjutan
Alih fungsi Penjara Nara menjadi hotel mewah merupakan bagian dari kebijakan Jepang untuk memanfaatkan aset budaya sebagai sumber pendanaan konservasi.
Profesor Manajemen Seni Universitas Osaka Seikei, Kiyoshi Tatsumi, mengatakan biaya pemeliharaan bangunan bersejarah terus meningkat sehingga diperlukan model pelestarian yang berkelanjutan.
Menurutnya, sejak diberlakukannya Undang-Undang Promosi Budaya dan Pariwisata pada 2020, pemerintah Jepang mendorong pengelolaan aset budaya agar mampu menghasilkan pendapatan yang kemudian digunakan kembali untuk biaya konservasi.
Setelah penjara ditutup pada 2017, pemerintah tetap mempertahankan kepemilikan bangunan, sementara hak pengelolaan diserahkan kepada Hoshino Resorts untuk melakukan restorasi dan mengoperasikan hotel.
Tatsumi menilai model tersebut dapat menjadi contoh bagaimana pelestarian warisan budaya dapat berjalan seiring dengan keberlanjutan ekonomi.
Ia juga meyakini keberhasilan proyek ini akan memberikan dampak lebih luas bagi pariwisata Nara. Jika pengelolaan berbagai aset budaya di kawasan tersebut berhasil dikembangkan secara terpadu, sinergi antardestinasi diyakini mampu mendorong pertumbuhan ekonomi regional sekaligus memastikan bangunan-bangunan bersejarah tetap lestari bagi generasi mendatang.(Eko/dari Asahi Shimbun)
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.






