Padang Panjang, Khazanah — — Peringatan satu abad Gempa Padang Panjang 1926 dijadikan momentum untuk memperkuat budaya sadar bencana sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi ancaman gempa bumi dan bencana hidrometeorologi yang sewaktu-waktu dapat terjadi.
Komitmen tersebut mengemuka dalam Seminar Internasional bertajuk “Padang Panjang Kota Siaga Bencana” yang dibuka Wali Kota Padang Panjang Hendri Arnis di Gedung DPRD Padang Panjang, Senin (29/6/2026). Seminar menghadirkan akademisi, peneliti, pemerintah, serta pegiat kebencanaan untuk merefleksikan tragedi gempa dahsyat yang melanda kota itu pada 1926 sekaligus merumuskan langkah mitigasi bagi masa depan.
Peristiwa yang diperingati itu merupakan salah satu bencana paling mematikan dalam sejarah Sumatera Barat. Pada 28 Juni 1926, dua gempa besar mengguncang kawasan Padang Panjang dan sekitarnya hanya dalam selang waktu kurang dari tiga jam. Gempa yang dipicu aktivitas Sesar Sumatra, khususnya Segmen Sianok, itu berkekuatan sekitar Magnitudo 6,7 dan 6,4 dengan intensitas mencapai IX MMI (Violent), cukup kuat untuk meruntuhkan bangunan-bangunan permanen di wilayah terdampak.

Catatan sejarah menyebutkan sedikitnya 354 orang meninggal dunia, sementara ribuan lainnya mengalami luka-luka dan kehilangan tempat tinggal. Di Kota Padang Panjang saja, sekitar 2.383 rumah roboh dan 247 warga meninggal dunia. Di wilayah Agam, sedikitnya 472 rumah hancur, 57 orang tewas, dan belasan lainnya mengalami luka berat. Guncangan hebat juga memicu fenomena seiche atau gelombang berdiri di Danau Singkarak yang menyebabkan air danau meluap ke daratan, disertai longsor di sejumlah kawasan perbukitan.
Selain menghancurkan permukiman, gempa juga melumpuhkan infrastruktur penting pada masa Hindia Belanda. Bangunan stasiun kereta api, kantor pos, sekolah, rumah sakit militer, jembatan rel kereta, hingga jaringan telegraf rusak berat sehingga komunikasi dengan Padang sempat terputus. Bantuan baru dapat menjangkau Padang Panjang sehari kemudian karena akses jalan dan jalur kereta tertimbun longsor dan mengalami kerusakan parah. Trauma masyarakat berlangsung berbulan-bulan; banyak warga memilih tinggal di tenda-tenda pengungsian karena gempa susulan terus terjadi selama beberapa hari setelah bencana utama.
Seratus tahun kemudian, ancaman geologi itu masih membayangi. Padang Panjang tetap berada di atas jalur Sesar Sumatra yang aktif, sehingga para ahli menilai pembelajaran dari tragedi 1926 harus menjadi fondasi pembangunan kota yang tangguh bencana. Peringatan seabad gempa bukan sekadar mengenang korban, tetapi juga menghidupkan kembali ingatan kolektif agar pengalaman pahit masa lalu berubah menjadi kekuatan dalam membangun budaya mitigasi, meningkatkan literasi kebencanaan, serta menyiapkan masyarakat yang lebih siap menghadapi bencana di masa depan.
Wali Kota Hendri Arnis menegaskan, secara geologis Padang Panjang berada di kawasan yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap gempa bumi karena dilalui Sesar Sumatra. Selain itu, daerah tersebut juga rentan terhadap bencana hidrometeorologi seperti banjir bandang (galodo).
“Padang Panjang secara geologis berada di kawasan rawan bencana, terutama gempa bumi dan yang terbaru bencana galodo. Itu adalah fakta alam yang tidak bisa kita ubah. Namun, yang bisa kita ubah adalah cara kita menghadapinya,” ujar Hendri.
Menurutnya, kesiapsiagaan tidak cukup diwujudkan melalui pembangunan infrastruktur semata, tetapi harus menjadi budaya yang tumbuh dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Edukasi kebencanaan, latihan evakuasi, serta peningkatan literasi mitigasi dinilai menjadi investasi penting untuk mengurangi risiko korban ketika bencana terjadi.
Ketua DPRD Padang Panjang Imbral menyatakan lembaga legislatif siap mendukung penguatan mitigasi bencana melalui fungsi legislasi, pengawasan, dan penganggaran.
“Bencana memang tidak bisa dicegah, tetapi dampaknya dapat diminimalkan jika mitigasi sudah menjadi budaya sehari-hari. Kami di DPRD berkomitmen mengawal kebijakan dan anggaran yang berpihak pada keselamatan warga,” katanya.
Ia menambahkan, tragedi Gempa Padang Panjang 1926 harus menjadi pengingat sekaligus pelajaran berharga bagi generasi sekarang. Pasalnya, wilayah Padang Panjang hingga kini masih berada tepat di atas jalur patahan aktif yang menjadi penyebab gempa besar seabad silam.
Sementara itu, narasumber seminar dari Universitas Leiden, Belanda, Prof. Suryadi Sunuri, mengingatkan bahwa gempa bumi yang melanda Padang Panjang pada 1926 bukan hanya menghancurkan ribuan bangunan, tetapi juga meninggalkan jejak sejarah tentang ketangguhan masyarakat dalam bangkit dari bencana.
“Sejarah bukan hanya tentang mengingat peristiwa, tetapi juga memahami bagaimana masyarakat masa lalu menghadapi tantangan yang mereka alami. Dari sanalah kita belajar membangun ketangguhan di masa kini,” ujar akademisi kelahiran Sunur, Kabupaten Padang Pariaman, tersebut.
Menurut Suryadi, berbagai manuskrip, arsip, surat kabar lama, dan catatan sejarah menunjukkan bagaimana masyarakat Minangkabau beradaptasi dengan kondisi geologi di sepanjang Sesar Sumatra yang menjadi sumber aktivitas kegempaan di kawasan itu.
Ia menilai ingatan kolektif terhadap bencana harus terus dipelihara agar tidak hilang ditelan zaman. Pembelajaran dari masa lalu, katanya, perlu diterjemahkan menjadi langkah nyata melalui penguatan literasi kebencanaan, pelestarian kearifan lokal, serta pengembangan sistem mitigasi yang memadukan ilmu pengetahuan dengan teknologi modern.
“Ancaman gempa bumi tidak mungkin dihilangkan karena merupakan bagian dari dinamika alam. Namun, risikonya dapat ditekan apabila masyarakat memiliki pengetahuan, kesiapsiagaan, dan budaya sadar bencana yang kuat,” tegasnya. (eko)
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





