Padang, Khazanah— Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Minangkabau masih memantau arah pergerakan asap dan kondisi atmosfer untuk mengetahui perkembangan sebaran kabut asap di sejumlah wilayah Sumatera Barat (Sumbar).
Kabut asap mulai terpantau di sejumlah daerah di Sumbar. Kondisi tersebut menyebabkan jarak pandang pada pagi hari berada pada kisaran 4 hingga 5 kilometer.
Koordinator Observasi dan Informasi BMKG Minangkabau, Yudha Nugraha, mengatakan kondisi tersebut diduga merupakan haze atau kabut asap yang berasal dari kebakaran lahan dan bercampur dengan embun.
Berdasarkan hasil pemantauan, sebaran asap terdeteksi melalui analisis citra satelit pada Minggu (23/8/2026) sekitar pukul 16.00 WIB. Sebagian wilayah Sumbar saat itu telah terdeteksi diliputi asap.
Yudha mengatakan, sebaran asap masih berpotensi meluas. BMKG Minangkabau terus melakukan pemantauan dan menunggu pembaruan hasil analisis untuk mengetahui perkembangan kondisi atmosfer serta arah pergerakan asap.
“Ada kemungkinan sebarannya meluas untuk saat ini, menunggu update analisis kembali,” katanya.
Munculnya kabut asap tersebut terjadi ketika sebagian wilayah Sumbar masih berada dalam periode kemarau. BMKG sebelumnya menyebut sebagian besar wilayah Indonesia tengah didominasi kondisi kering. Pada periode 21–27 Agustus 2026, kondisi kemarau masih mendominasi seiring dengan menguatnya fenomena El Niño.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sumatera Barat, Tasliatul Fuadi, mengatakan kualitas udara di Sumbar masih relatif terkendali berdasarkan hasil pemantauan yang tersedia.
Menurutnya, konsentrasi partikulat halus atau PM2,5 yang menjadi salah satu indikator penting kualitas udara masih berada pada level rendah. Hal serupa juga terlihat pada konsentrasi PM10.
“Secara umum kualitas udara masih dalam kondisi terkendali. Dari hasil pemantauan yang tersedia, partikulat PM10 dan PM2,5 masih relatif rendah,” ujarnya.
Karhutla di Sejumlah Provinsi
Kekhawatiran terhadap memburuknya kualitas udara di Sumbar tidak terlepas dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah provinsi tetangga. Kebakaran tersebut berpotensi memengaruhi kualitas udara di wilayah sekitar dan bahkan berdampak hingga negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.
Pemerintah pusat pun terus memperkuat penanganan karhutla, khususnya di wilayah yang menjadi prioritas.
Presiden Prabowo Subianto, Senin (24/8/2026), meninjau langsung operasional posko penanganan karhutla di Lanud Roesmin Nurjadin, Kota Pekanbaru, Riau. Dalam kesempatan tersebut, Presiden mengikuti rapat koordinasi bersama jajaran pemerintah daerah serta unsur TNI dan Polri untuk menyinkronkan strategi penanganan dan mitigasi karhutla.
Kinerja Satuan Tugas (Satgas) Karhutla Provinsi Riau mendapat perhatian dari pemerintah pusat. Kendati demikian, Prabowo menegaskan bahwa pemerintah akan memberikan sanksi tegas kepada korporasi yang terbukti lalai atau terlibat dalam pembakaran lahan.
“Siapa pun, korporasi apa pun, jika sedikit saja mereka terindikasi menyuruh membakar-bakar, cabut izinnya. Siapa perusahaan yang tidak mau ikut menjaga, kami cabut izinnya. Itu, kan, sumber pendapatan mereka juga,” tegasnya.
Prabowo juga menekankan pentingnya keterlibatan perusahaan dalam menjaga kawasan konsesinya, terutama di wilayah yang rawan terjadi kebakaran. Menurutnya, pencegahan harus dilakukan sejak dini agar kebakaran tidak berkembang menjadi bencana kabut asap lintas wilayah.
BNPB Perkuat Operasi Udara dan Darat
Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperkuat penanganan karhutla melalui operasi udara dan darat di enam provinsi prioritas, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat.
Penanganan dilakukan secara terpadu melalui pengerahan satgas darat dan udara di bawah koordinasi pos komando serta penguatan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.
Operasi udara didukung oleh operasi modifikasi cuaca (OMC), pemadaman menggunakan water bombing, serta patroli udara. Dalam pengendalian karhutla, BNPB juga menekankan pentingnya langkah pencegahan dan pemberdayaan masyarakat.
Secara keseluruhan, terdapat 39 unsur udara yang dikerahkan untuk mendukung pemantauan dan penanganan karhutla di enam provinsi tersebut. Unsur yang digunakan meliputi helikopter patroli, pesawat untuk operasi modifikasi cuaca, dan helikopter water bombing.
Di Riau, satgas udara terdiri atas satu helikopter patroli, satu armada OMC, dan lima unit water bombing. Di Jambi dikerahkan satu helikopter patroli, satu armada OMC, dan dua unit water bombing.
Sementara di Sumatera Selatan, BNPB mengerahkan satu helikopter patroli, satu armada OMC, dan tujuh unit water bombing. Untuk Kalimantan Selatan, dikerahkan satu helikopter patroli, satu armada OMC, dan tiga unit water bombing.
Di Kalimantan Tengah terdapat satu helikopter patroli, satu armada OMC, dan empat unit water bombing. Sedangkan di Kalimantan Barat, satgas udara diperkuat dua helikopter patroli, satu armada OMC, dan lima unit water bombing.
Pengerahan unsur udara tersebut dilakukan untuk memperkuat pemantauan, mendeteksi titik api, membantu proses pemadaman, serta mendukung penanganan karhutla di wilayah yang membutuhkan intervensi dari udara.
Patroli udara digunakan untuk memantau perkembangan kondisi lapangan. Sementara water bombing dikerahkan untuk membantu pemadaman di lokasi yang sulit dijangkau melalui jalur darat atau membutuhkan dukungan udara. Adapun OMC dilaksanakan dengan mempertimbangkan kondisi pertumbuhan awan dan kebutuhan penanganan di wilayah prioritas.
Di Kalimantan Selatan, salah satu unsur yang digunakan untuk mendukung patroli udara adalah pesawat Cessna Caravan 208 dengan registrasi PK-SNK. Sementara operasi water bombing didukung helikopter Sikorsky Black Hawk dengan registrasi N711BF.
Dengan kondisi kemarau yang masih berlangsung, BMKG mengimbau seluruh pihak tetap mewaspadai potensi penurunan kualitas udara dan perkembangan titik panas. Pemantauan terhadap arah pergerakan asap terus dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan meluasnya sebaran kabut asap di Sumbar. (Eko/berbagai sumber)
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.



