Scroll untuk baca artikel
Banner Harian Khazanah
BeritaEkonomiHeadlineInternasionalWisata

Gubernur Sumbar ‘Jual’ Mandeh di Forum Monthly Economic Diplomatic Breakfast KADIN

×

Gubernur Sumbar ‘Jual’ Mandeh di Forum Monthly Economic Diplomatic Breakfast KADIN

Sebarkan artikel ini

JAKARTA, KHAZMINANG.ID — Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah “menjual” potensi kawasan Mandeh bersama sejumlah destinasi unggulan Sumbar di hadapan kalangan pengusaha, investor, serta perwakilan negara sahabat dalam forum Monthly Economic Diplomatic Breakfast yang diselenggarakan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia di Gedung Sapta Pesona, Kementerian Pariwisata, Jumat (10/9/2026).

Di forum diplomasi ekonomi tersebut, Mahyeldi memaparkan peluang investasi pariwisata Sumatera Barat yang dikelompokkan dalam tiga klaster utama. Mandeh menjadi salah satu kawasan yang ditawarkan sebagai pusat pengembangan wisata bahari sekaligus kegiatan Meeting, Incentive, Convention and Exhibition (MICE).

Iklan
Scroll Untuk Baca Artikel

Selain Padang dan Mandeh, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat juga menawarkan Mentawai dengan daya tarik selancar kelas dunia serta Sawahlunto yang memiliki kekuatan pada wisata sejarah dan budaya.

Mahyeldi mengatakan perkembangan sektor pariwisata Sumatera Barat menunjukkan tren positif. Sepanjang Januari hingga Juli 2026, jumlah kunjungan wisatawan nusantara ke Sumbar telah mencapai 14,9 juta kunjungan.

Pada saat yang sama, sektor akomodasi serta makanan dan minuman di daerah ini tumbuh sebesar 17,57 persen.

Potensi tersebut, menurut Mahyeldi, menjadi peluang besar bagi dunia usaha untuk masuk dan mengembangkan investasi pariwisata di Sumatera Barat.

“Kami mengajak para investor dan industri untuk datang dan melihat langsung potensi pengembangan pariwisata di Sumatra Barat, termasuk hadir pada Indian Ocean High-Level Forum pada tahun depan sebagai bagian dari jejaring strategis kerja sama kawasan Samudra Hindia,” ujar Mahyeldi.

Baca Juga:  Kantah Pasaman Barat Matangkan Sosialisasi PTSL 2026, Ajak Warga Aktif Daftarkan Tanah

Kehadiran Sumatera Barat dalam forum yang mempertemukan pemerintah, dunia usaha dan korps diplomatik itu sejalan dengan upaya pemerintah pusat mendorong pemerataan investasi pariwisata ke luar Jakarta dan Bali.

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan realisasi investasi pariwisata Indonesia pada 2025 mencapai rekor Rp73,56 triliun. Namun, sekitar 76,5 persen dari investasi tersebut masih terkonsentrasi di Jakarta dan Bali.

Dari jumlah tersebut, sekitar 75 persen investasi juga masih didominasi pembangunan hotel dan restoran.

“Saat ini sekitar 76,5 persen investasi pariwisata berada di Jakarta dan Bali, dengan 75 persen di antaranya berupa pembangunan hotel dan restoran. Karenanya kami saat ini melakukan diversifikasi investasi di destinasi prioritas lainnya di luar Bali dan Jakarta,” kata Widiyanti.

Pemerintah, katanya, ingin investasi pariwisata tidak hanya menyebar secara geografis, tetapi juga masuk ke jenis usaha yang lebih beragam.

Investasi diarahkan ke 13 Destinasi Prioritas dan 10 Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata, termasuk untuk pembangunan infrastruktur pendukung aksesibilitas, marina kapal pesiar, hingga pengembangan daya tarik wisata baru.

Pemerintah juga menawarkan sejumlah insentif kepada investor, mulai dari tax allowance, insentif bagi industri padat karya hingga pembebasan bea masuk untuk peralatan wisata dan yacht.

Widiyanti mengatakan peluang investasi di luar Jawa dan Bali semakin terbuka menyusul perubahan pola perjalanan wisatawan.

Pada awal 2026, kunjungan wisatawan ke Danau Toba tercatat tumbuh lebih dari 106 persen. Sementara Lombok–Gili Tramena meningkat 72,1 persen dan Labuan Bajo juga terus mencatat pertumbuhan.

Baca Juga:  Pemko Bukittinggi Terima Kunjungan Perwakilan Homestay Teluk Ketapang Trengganu Malaysia

Kinerja ekonomi pariwisata nasional juga terus meningkat. Kontribusi produk domestik bruto sektor pariwisata naik dari Rp729,1 triliun pada 2022 menjadi Rp1,14 kuadriliun pada 2025 dan ditargetkan mencapai Rp1,19 kuadriliun pada akhir 2026.

Duta Besar Singapura untuk Indonesia Kwok Fook Seng melihat forum tersebut dapat memperkuat kerja sama yang tidak hanya berlangsung antarpemerintah, tetapi juga langsung melibatkan sektor swasta kedua negara.

Menurut Kwok, Indonesia dan Singapura telah memiliki rekam jejak panjang dalam kerja sama pariwisata. Salah satu contohnya adalah konektivitas penerbangan Singapore Airlines yang telah menghubungkan Singapura dengan 18 titik di Indonesia.

“Peningkatan konektivitas ini telah mendatangkan lalu lintas wisatawan. Semuanya dimulai dari skala kecil, sebelum akhirnya berkembang,” katanya.

Ia menilai keberadaan KADIN dengan jaringan pengusaha dan berbagai keahlian yang dimiliki anggotanya dapat menjadi penghubung untuk mendorong investor melihat lebih banyak peluang di daerah-daerah Indonesia.

“Saya rasa peran pemerintah yang sebenarnya adalah bagaimana kita membangun ekosistem agar sektor swasta dapat berhasil,” ujar Kwok.

Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Luar Negeri KADIN Indonesia James Riady mengatakan pariwisata merupakan salah satu sektor yang memiliki peluang pertumbuhan besar di tengah tekanan terhadap perekonomian.

Menurut James, Indonesia sesungguhnya telah memiliki modal dasar pariwisata yang sangat kuat berupa pantai, laut, kawasan penyelaman, hutan hingga kekayaan budaya.

Baca Juga:  Tiga Orang Atlet Pelajar SLB Negeri 1 Kota Bukittinggi Bawa Pulang 3 Medali

Tantangannya sekarang adalah mengubah seluruh potensi tersebut menjadi nilai ekonomi nyata.
“Bukan lagi soal potensi, melainkan konversi,” kata James.

Konversi yang dimaksud, antara lain meningkatkan jumlah kedatangan wisatawan, memperpanjang lama tinggal atau length of stay, meningkatkan belanja wisatawan, menarik investasi, menciptakan lapangan kerja dan mendorong wisatawan melakukan kunjungan berulang.

James menilai pariwisata layak mendapat porsi lebih besar dalam strategi pertumbuhan nasional karena investasi di sektor tersebut memiliki dampak langsung terhadap masyarakat dan penciptaan lapangan kerja.

“Setiap investasi menciptakan lapangan kerja. Itulah mengapa kami percaya bahwa pariwisata layak mendapatkan porsi yang jauh lebih besar dalam strategi pertumbuhan Indonesia,” katanya.

Secara terpisah, Ketua Kadinda Sumatera Barat, Bukchari Bachter dalam penjelasannya kepada Khazminang.id, menjelaskan Monthly Economic Diplomatic Breakfast merupakan forum rutin bulanan KADIN Indonesia yang mempertemukan kalangan pengusaha dengan para duta besar dan perwakilan negara sahabat.

Forum tersebut menjadi ruang diplomasi ekonomi sekaligus jembatan komunikasi antara pemerintah, dunia usaha dan korps diplomatik untuk membuka peluang perdagangan serta investasi di Indonesia.

Bagi Sumatera Barat, kata Ai –panggilan akrab Buchari–forum tersebut menjadi kesempatan untuk membawa berbagai potensi pariwisata Mandeh, Mentawai dan Sawahlunto lebih dekat ke radar investor nasional maupun internasional. (sa)

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.