Padang, Khazminang.id — Pesan menjaga alam tak selalu disampaikan lewat kata-kata. Di tangan 19 pematung dari berbagai negara, termasuk Indonesia, batu, kayu, dan besi menjadi medium untuk menyuarakan pentingnya merawat lingkungan.
Gagasan itu diangkat dalam The Arby Samah International Sculpture Residency & Exhibition 2026 bertema “Melintas Batas: Abstraksi dan Harmoni Global”, yang resmi ditutup di Galeri Taman Budaya Sumatera Barat, Selasa (13/10/2026).
Plt. Kepala Dinas Kebudayaan Sumatera Barat, Ahmad Zakri, saat menutup kegiatan tersebut mengatakan, keunikan seni patung terletak pada beragamnya makna yang dapat ditangkap oleh setiap orang.
“Dari perbincangan saya dengan para pematung, ternyata sebuah karya patung tidak selalu menyampaikan pesan yang sama kepada semua orang, karena penafsirannya bergantung pada sudut pandang masing-masing,” terang Ahmad Zakri..
Namun, melalui tema yang diusung, kegiatan ini membawa pesan utama tentang pentingnya menjaga dan memelihara alam. Sebab bukan hanya generasi saat ini yang akan menikmatinya tetapi juga generasi yang akan datang. Pesan tersebut diterjemahkan para seniman melalui bentuk, karakter, dan pendekatan artistik yang berbeda-beda.
Selain menjadi ruang pertemuan para pematung lintas negara, kegiatan ini juga membawa harapan bagi perkembangan seni patung di Sumatera Barat, khususnya dalam menyiapkan generasi penerus.
Direktur Program, Anita Dikarina, M.Si., yang juga putri pematung abstrak asal Sumatera Barat, Arby Samah, berupaya menghidupkan kembali nama besar sang ayah. Bukan sekadar mengenang sosoknya, kegiatan ini menjadi upaya meneruskan semangat eksplorasi seni yang telah diwariskan Arby Samah, pelopor seni patung abstrak di Indonesia.
“Ke depan, kita akan upayakan kegiatan serupa yang lebih terencana dengan baik, sehingga mampu menarik minat generasi muda di dunia seni patung ini,” katanya.
Anita juga membangun mimpi untuk hadirnya sebuah galeri patung yang dapat menjadi wadah bagi generasi muda untuk belajar, mengenal, dan mendalami seni patung. Harapan itu bukan semata-mata menghadirkan ruang pamer bagi karya seni, melainkan juga membuka kesempatan bagi anak-anak muda untuk mengenal proses kreatif, mempelajari teknik, dan menemukan potensi mereka sebagai pematung.
“Dari ruang belajar semacam itu, diharapkan suatu saat lahir seniman-seniman muda yang mampu meneruskan semangat dan dedikasi Arby Samah. Bukan sekadar mengikuti jejaknya, tetapi juga mengembangkan kreativitas dan melahirkan karya dengan karakter mereka sendiri,” katanya.

Selama empat hari, sejak Jumat (9/10/2026) hingga Selasa (13/10/2026), para peserta residensi memperlihatkan keterampilan mereka mengolah batu, kayu, dan besi menjadi karya patung. Mereka juga berbagi pengetahuan dan memperagakan proses penciptaan karya, sehingga kegiatan ini menjadi ruang pertukaran pengalaman bagi para seniman maupun pengunjung.
Sejumlah pematung Indonesia yang terlibat antara lain Angga Elpatsa, Ardim, Irwanto, John Hardi, Jon Wahid, dan Lara Forma. Sementara itu, peserta dari luar negeri di antaranya Bettina Vogel dari Jerman, Don Wright dan Totok Basuki dari Australia, Iwano Mashahito dari Jepang, Laxman Bhujel dan Niles Shakya dari Nepal, Noor Nazirah dari Malaysia, Sung Baeg Cho dari Korea Utara, Tsa Yu Han dari Taiwan, serta Ema Kissova dari Slovakia. Kegiatan ini dikuratori oleh Ali Umar.
The Arby Samah International Sculpture Residency & Exhibition 2026 pun tidak hanya menjadi ajang pertemuan seniman dan pameran karya, tetapi juga ruang untuk merawat gagasan tentang lingkungan sekaligus membangun harapan bagi keberlanjutan seni patung.
Sebab, seni tidak hanya hidup melalui karya yang dihasilkan hari ini. Seni juga akan terus tumbuh ketika pengetahuan, pengalaman, dan semangat berkarya diwariskan kepada generasi berikutnya. Dari sanalah harapan untuk melahirkan “Arby Samah muda” menemukan maknanya. (devi)
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.




