Jakarta, Khazanah — Indonesia memastikan pengembalian 30.190 unit Koleksi Eugène Dubois dan 20 benda budaya bersejarah dari Belanda melalui penandatanganan dua perjanjian pemindahan atau Transfer Agreements pada Jumat (9/10/2026). Pengembalian ini menjadi salah satu capaian terbesar dalam sejarah repatriasi Indonesia, sekaligus menandai upaya pemulihan warisan budaya yang memiliki nilai sejarah dan ilmiah penting bagi bangsa.
Kesepakatan tersebut memperkuat kerja sama Indonesia dan Belanda dalam restitusi dan repatriasi benda bersejarah. Proses pengembalian juga menjadi bagian dari upaya mengakui asal-usul koleksi, memulihkan hak atas warisan budaya, serta memperkuat kolaborasi ilmiah dan kebudayaan yang berlandaskan kesetaraan.
Penandatanganan dua perjanjian tersebut dilakukan oleh Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon dan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, dan Ilmu Pengetahuan Belanda Rianne Letschert di Indonesia House Amsterdam.

“Kesepakatan repatriasi antara Indonesia dengan Belanda ini merupakan penegasan keadilan sejarah, pemulihan kedaulatan budaya, serta pengakuan atas martabat dan identitas budaya bangsa Indonesia,” kata Fadli Zon.
Menurut Fadli, pengembalian Koleksi Dubois yang berkaitan dengan penemuan manusia purba Homo erectus atau Java Man di Nusantara sekitar 135 tahun lalu merupakan repatriasi terbesar dalam sejarah Indonesia.
Ia menilai koleksi tersebut memiliki nilai ilmiah dan historis yang sangat penting, terutama dalam memahami sejarah evolusi manusia dan perkembangan penelitian paleoantropologi dunia.
Pada 17 Desember 2025, Kementerian Kebudayaan RI telah menerima tahap awal pemulangan empat benda utama dari Koleksi Dubois. Benda-benda tersebut terdiri atas tempurung kepala, gigi geraham, dan tulang paha Homo erectus, serta cangkang kerang bergores. Keempat koleksi itu kini dipamerkan di Museum Nasional Indonesia.
Kesepakatan pertama yang ditandatangani pada 9 Oktober 2026 melanjutkan proses repatriasi tersebut melalui pengembalian tahap kedua sebanyak 30.190 unit Koleksi Dubois dari Naturalis Biodiversity Center di Leiden, Belanda. Koleksi itu terdiri atas 29.763 objek dan 427 unit kerangka leluhur (human remains).
Sementara itu, kesepakatan kedua memastikan pengembalian 20 benda budaya Indonesia yang berasal dari tujuh kelompok koleksi. Benda-benda tersebut meliputi:
Berlian Banjarmasin (1 objek). Berlian seberat sekitar 38 karat yang merupakan bagian dari regalia Kesultanan Banjarmasin dan selama ini disimpan di Rijksmuseum.
Pedang Sikin Panjang (1 objek). Senjata tradisional Aceh yang berkaitan dengan sejarah perlawanan terhadap kolonialisme, berasal dari Rijksmuseum.
Manuskrip Al-Qur’an (1 objek). Naskah yang berkaitan dengan Teuku Umar dan lingkungan keluarganya, berasal dari Wereldmuseum.
Manuskrip Kesultanan Aceh (4 objek). Empat naskah yang merekam tradisi intelektual, keagamaan, dan sejarah Kesultanan Aceh, berasal dari Wereldmuseum.
Gulungan Wayang Beber (6 objek). Peninggalan tradisi seni tutur dan pertunjukan Jawa yang memiliki nilai budaya dan spiritual tinggi, berasal dari Wereldmuseum.
Panel makam Kesultanan Aceh (1 objek). Benda bersejarah yang berkaitan dengan tradisi pemakaman kerajaan Aceh, berasal dari Wereldmuseum.
Nisan Batu Aceh (6 objek). Peninggalan seni kaligrafi dan tradisi pemakaman Islam di Aceh, berasal dari Wereldmuseum.
Pengembalian benda-benda budaya tersebut merupakan hasil serangkaian diskusi dan negosiasi intensif antara Tim Repatriasi Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) dan Cagar Budaya Indonesia di Luar Negeri yang dibentuk Kementerian Kebudayaan RI dengan Colonial Collections Committee (CCC) Belanda.
Proses tersebut didukung penelitian mendalam mengenai asal-usul koleksi (provenance research), penelusuran bukti sejarah, serta dialog berkelanjutan antara kedua pihak.
CCC menyimpulkan bahwa 20 artefak tersebut diambil secara tidak sukarela (involuntary loss) dalam konteks kolonial. Atas dasar itu, artefak-artefak tersebut harus dikembalikan kepada Indonesia sebagai bagian dari pemulihan keadilan sejarah.
Hari Museum Indonesia
Semnentara itu dalam rangka Hari Museum Indonesia yang diperingati setiap 12 Oktober, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mengunjungi Museum Nasional Indonesia di Jakarta. Kunjungan tersebut menjadi bentuk dukungan pemerintah terhadap penguatan fungsi museum sebagai pusat pembelajaran dan pelestarian warisan budaya bangsa.
Didampingi Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Presiden meninjau sejumlah ruang pameran dan berinteraksi langsung dengan para pelajar yang sedang mengikuti kegiatan edukasi museum.
Dalam kesempatan itu, Presiden menekankan pentingnya menanamkan kecintaan terhadap tanah air dan warisan budaya bangsa sejak dini. Ia juga mengapresiasi penyelenggaraan berbagai program edukasi museum yang melibatkan generasi muda.
Presiden berharap museum di seluruh Indonesia terus bertransformasi menjadi pusat pembelajaran yang inspiratif, kreatif, dan menyenangkan bagi para pelajar.
Selain berinteraksi dengan pelajar, Prabowo mengunjungi sejumlah ruang pameran dan menerima penjelasan dari Kepala Museum dan Cagar Budaya, Indira Estiyanti Nurjadin.
Presiden juga meninjau area koleksi prasasti yang kini dilengkapi pengalaman interaktif dan imersif berbasis teknologi digital. Fasilitas tersebut mencakup proyeksi dinding serta visualisasi koleksi, mulai dari tembikar hingga benda-benda dari periode megalitikum. (Eko)
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





