Scroll untuk baca artikel
Banner Harian Khazanah
Opini

Gubernur Lemhanas Menabur Nalar Kritis Santun untuk Merawat Kebangsaan

×

Gubernur Lemhanas Menabur Nalar Kritis Santun untuk Merawat Kebangsaan

Sebarkan artikel ini
Gubernur Lemhanas di UIN Imam Bonjo

Oleh: Zaitul Ikhlas Saad Rajo Intan

Wakil Ketua ICMI Orwil Sumbar
Zaitul Ikhlas Saad

Siang menjelang sore di ruang kuliah sering kali menjadi waktu paling menantang. Di saat itu kantuk biasanya mengintai, Aula UIN Imam Bonjol Padang justru bergemuruh oleh tepuk tangan hampir seribu civitas akademika. Magnetnya adalah Dr. TB. Ace Hasan Syadzily, M.Si., Gubernur Lemhannas RI yang baru.

Ace Hasan tidak datang membawa teks pidato yang kaku. Sebagai alumnus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, ia membuka paparannya dengan sebuah jembatan emosional: mengingatkan audiens bahwa rahim akademis Islam (UIN) hari ini dipercaya memimpin lembaga ketahanan strategis negara. Ace Hasan menambahkan, kedepan Mahasiswa da Alumni UIN harus mampu membangun rasa percaya diri. Tidak boleh minder, apalagi menjauh dari upaya perjuangan memelihara keutuhan bangsa dan negara.

Iklan
Scroll Untuk Baca Artikel

Sentuhan awal yang tak hanya mencairkan suasana, tetapi langsung membakar semangat solider para mahasiswa. Dari titik cair itulah, sang singa podium mulai menguliti realitas bangsa kita hari ini.

Tantangan Zaman, Ketika Dunia Berubah Lebih Cepat dari Cara Kita Berpikir

Ace Hasan memetakan lanskap dunia saat ini bukan lagi sekadar berubah, melainkan bergeser secara radikal. Kehadiran teknologi digital dan derasnya arus informasi telah mengubah struktur relasi sosial, kekuasaan, ekonomi, hingga budaya kita.

Namun, ada ironi besar di balik kemudahan era digital ini. Ace Hasan menyoroti tantangan krusial bangsa, di antaranya:

– Fragmentasi Informasi & Polarisasi Sosial: Kita kebanjiran data, namun kelaparan makna. Informasi yang terpecah-pecah memicu polarisasi politik yang tajam.

– Menguatnya Politik Identitas Eksklusif: Menggunakan identitas sebagai senjata pembelah, bukan perekat.

Baca Juga:  Kantor Listrik bak Markas Tentara

– Tumpulnya Analisis Multidimensional: Masyarakat cenderung melihat masalah bangsa dari satu sudut pandang yang sempit. Pertanyaan retoris yang dilemparkannya pun menohok ego kita: Apakah kita hanya akan menjadi pengguna perubahan, atau kita mampu menjadi penentu arah perubahan?. Di sini letak otentisitas analisis Ace Hasan. Menjadi pemimpin masa depan tidak cukup hanya tahu apa yang terjadi, tetapi harus paham mengapa itu terjadi.

Membedah Arsitektur Berpikir: Lompatan ke Critical Strategic Thinking

Menghadapi disrupsi tersebut, Lemhannas menawarkan resolusi intelektual yang konkret melalui transformasi dari sekadar berpikir kritis biasa critical thinking menjadi Critical Strategic Thinking (Berpikir Kritis-Strategis).

Di era luapan informasi hari ini, berpikir kritis saja ternyata sudah tidak cukup. Kita kerap menemui orang yang sangat kritis di media sosial mampu mempertanyakan segala hal dan mendeteksi kejanggalan namun terjebak dalam sinisme tanpa akhir atau gagal melihat gambaran besar. Jika critical thinking adalah kemampuan membedah dan mempertanyakan validitas sebuah informasi hari ini, maka critical strategic thinking adalah kemampuan memproyeksikan implikasi dari informasi tersebut terhadap masa depan bangsa. Ini adalah seni menghubungkan titik-titik diskret antara realitas lokal, dinamika nasional, dan pergeseran geopolitik global.

Untuk memahami bagaimana transformasi pertahanan intelektual ini bekerja, Ace Hasan memaparkan fase sirkular yang terstruktur:

Dari “Melihat” Menjadi “Memahami” Fakta.

Banyak dari kita terjebak pada fase hanya melihat fakta (misal: harga pangan naik atau tren AI meroket). Namun, strategic thinker harus melompat ke fase memahami fakta—mencari tahu struktur makro yang menggerakkannya agar tidak mudah dimanipulasi oleh algoritma clickbait.

Filtrasi Kepentingan dan Uji Informasi

Dunia siber penuh dengan operasi psikologis dan perang informasi. Setiap kali menerima narasi, seorang mahasiswa harus menyaringnya: Siapa yang diuntungkan dari informasi ini? Apa kepentingan di baliknya? Setelah mengidentifikasi kepentingan, barulah dilakukan uji informasi (cross-check data) sebagai tameng agar kita tidak menjadi “pion” dalam polarisasi politik orang lain.

Baca Juga:  Orang Minang Manusia Pembelajar

Proyeksi Masa Depan (Tren & Risiko)

Ini adalah pembeda utama calon negarawan. Setelah informasi teruji, mereka membaca kecenderungan (tren masa depan) lalu melakukan analisis risiko. Setiap pilihan atau pembiaran memiliki konsekuensi biaya sosial dan politik yang harus dihitung secara matang.

Eksekusi Melalui Pilihan Kebijakan.

Ujung dari seluruh proses akademis ini bukanlah perdebatan kusir, melainkan merumuskan pilihan kebijakan yang pragmatis dan dapat dieksekusi. Mahasiswa tidak hanya mengkritik masalah, tetapi mampu membawa draf alternatif solusi.

Tanpa keterampilan berpikir strategis ini, perguruan tinggi hanya akan mencetak “komentator zaman”, bukan “arsitek masa depan”. Kemampuan analitis inilah yang akan mengubah peran pemuda dari sekadar pengguna perubahan yang pasif menjadi penentu arah peradaban.

Geokultural Sumatera Barat: Merawat Adat Basandi Syarak dalam Bingkai Kebangsaan

Salah satu poin paling mengesankan dari kuliah umum ini adalah kepekaan Ace Hasan terhadap lokalitas. Ia mengangkat kearifan lokal Sumatera Barat sebagai contoh nyata dari Kesadaran Geokultural.

Filosofi Minangkabau, “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”, dinilai sebagai contoh kepiawaian bagaimana nilai identitas lokal, adat, dan keagamaan bisa berjalan beriringan tanpa harus kehilangan orientasi kebangsaan. Perspektif geokultur ini mengingatkan kita bahwa ketahanan nasional tidak melulu soal angkat senjata, melainkan bagaimana sejarah, agama, bahasa, dan tradisi lokal mampu membentuk perilaku politik yang kokoh dan menjadi energi integrasi, bukan pemisah.

Lima Pesan untuk Masa Depan: Kompas Menuju Indonesia Emas 2045

Baca Juga:  Jembatan RS Unand Tuntas, Akses Warga Kian Mudah

Sebagai penutup yang solutif, Gubernur Lemhannas menitipkan lima pesan kunci bagi civitas akademika UIN Imam Bonjol sebagai pedoman merawat politik kebangsaan:

  1. Rawat Nalar Kritis Yang Santun: Uji setiap informasi yang masuk. Gunakan kebebasan berpikir yang disertai dengan tanggung jawab kebangsaan.
  2. Bangun Kesadaran Geokultural: Kenali Indonesia bukan sekadar dari garis-garis di peta, tetapi pahami manusia, rasa, dan ragam budayanya.
  3. Jadikan Empat Konsensus Dasar sebagai Kompas Moral: Tempatkan Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai jangkar di tengah badai ideologi global.
  4. Miliki Wawasan Nusantara & Kesadaran Geopolitik; Mampu membaca posisi strategis Indonesia secara mandiri dalam konstalasi regional maupun global.
  5. Jadilah Pemimpin Berwatak Negarawan Pemimpin yang berpikir komprehensif, holistik, adaptif, visioner, dan mampu membangun kolaborasi lintas unsur.

 

Kesimpulan

Gagasan yang dilemparkan Ace Hasan di UIN Imam Bonjol Padang merupakan sebuah ajakan reflektif yang sangat segar. Tantangan terbesar pasca-kuliah umum ini adalah bagaimana menerjemahkan konsep makro Critical Strategic Thinking dan Kesadaran Geokultural tersebut ke dalam kurikulum mikro perguruan tinggi dan aksi nyata mahasiswa sehari-hari.

Pendidikan tinggi, sebagaimana ditekankan Ace Hasan di ujung acaranya kepada Rektor UIN Imam Bonjol beserta jajaran, memegang saham terbesar dalam membentuk watak, kepribadian, dan jiwa nasionalisme generasi muda. Bangsa yang mampu berdiri tegak di tengah badai global bukanlah bangsa yang menutup diri, melainkan bangsa yang memiliki nilai yang kokoh, nalar yang tajam, kepemimpinan yang visioner, dan kesadaran penuh bahwa masa depan Indonesia Emas 2045 adalah tanggung jawab bersama.

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.