Scroll untuk baca artikel
Banner Harian Khazanah
OpiniBeritaGaya HidupHukumPilihan Redaksi

Negeri Brankas: Ketika Emas Lebih Berkilau daripada Integritas

×

Negeri Brankas: Ketika Emas Lebih Berkilau daripada Integritas

Sebarkan artikel ini
Singkatnya Gini...
  • Penemuan barang bukti berupa uang tunai senilai hampir setengah triliun rupiah dan 74 kilogram emas di kediaman seorang oknum Jampidsus memicu kontroversi serta sorotan tajam dari masyarakat.
  • Dalih kepemilikan harta bernilai fantastis tersebut sebagai barang "titipan" dinilai mengaburkan esensi hukum dan menunjukkan kemunduran integritas di kalangan elite penegak hukum.
  • Kasus ini memperparah krisis kepercayaan publik terhadap institusi kejaksaan dan sistem pemberantasan korupsi di Indonesia.
Penafian: Poin utama ini diproses menggunakan Kecerdasan Buatan (AI) untuk memudahkan pembaca, dengan tetap di bawah pengawasan redaksi.

 

Oleh: Novrizal

Iklan
Scroll Untuk Baca Artikel

Konon di republik yang berdiri di atas Pancasila, hukum, dan cita-cita kemerdekaan, ternyata ada satu ideologi baru yang diam-diam berkembang pesat. Nama ideologi itu bukan kapitalisme, bukan pula sosialisme, apalagi nasionalisme.

Namanya adalah Brankasisme. penganutnya percaya bahwa semakin besar brankas, semakin tinggi pula derajat seseorang. Isi brankas bukan lagi sekadar dokumen penting, tetapi emas puluhan kilogram, Mark Jerman, dan entah mata uang planet mana lagi.

Rakyat kecil membuka brankas untuk mengambil ijazah atau sertifikat tanah. Sementara di negeri para pembesar, brankas rupanya menjadi habitat alami bagi emas batangan dan uang yang nilainya sanggup membuat mesin penghitung uang meminta cuti.

Dan konon lagi, beberapa waktu lalu seorang Jampidsus yang memang khusus menangani masalah korupsi pernah bercerita di hadapan DPR bahwa anak buahnya hampir pingsan melihat uang hasil penggeledahan perkara korupsi. Cerita itu disampaikan dengan nada prihatin, seolah ingin mengatakan bahwa korupsi telah mencapai stadium yang sulit dibayangkan.

Tetapi takdir memang punya selera humor yang tinggi.

Beberapa waktu kemudian, publik justru menyaksikan kisah baru, kali ini bukan rumah orang lain yang menjadi sorotan, melainkan rumah sang Jampidsus pencerita sendiri. Bukan lagi sekadar lemari pakaian atau gudang, tetapi brankas yang menyimpan harta dalam jumlah yang membuat rakyat kembali belajar berhitung.

Hampir setengah triliun rupiah, tujuh puluh empat kilogram emas, Dolar Amerika, Dolar Singapura, Mark Jerman, dan  berbagai mata uang lain yang seolah sedang mengadakan konferensi internasional di dalam sebuah koper.

Baca Juga:  Kejati Sumbar Sita Satu Unit Dump Truck dari Kasus Korupsi Perumda PSM

Sungguh indah bukan?

Kalau biasanya Indonesia mengadakan KTT internasional di Bali, kali ini berbagai mata uang dunia memilih berkumpul di dalam sebuah brankas.

Yang lebih menarik lagi adalah penjelasan sang Jampidsus, rumah diakui miliknya, brankas diakui miliknya, tetapi emas dan pecahan uang asing yang hampir setengah triliun itu tidak!

“Itu bukan milik saya.”

Kalimat itu seketika menjadi kandidat slogan nasional mungkin kelak setiap rumah mewah di republik ini akan memasang papan bertuliskan:

“Apabila ditemukan emas, uang tunai, atau berlian, harap jangan diasumsikan milik pemilik rumah.”

Rakyat sederhana tentu bingung, mereka bahkan kesulitan menitipkan sepeda motor kepada tetangga karena takut lecet. Namun di republik para elite, rupanya menitipkan emas puluhan kilogram dan uang ratusan miliar adalah sesuatu yang tidak terlalu mengherankan.

Betapa luasnya rasa saling percaya di antara mereka.

Ironisnya, rakyat yang kehilangan sandal di masjid pun harus menjelaskan berkali-kali kepada polisi. Tetapi ketika emas puluhan kilogram ditemukan di rumah seseorang, masyarakat diminta memahami bahwa mungkin saja itu hanyalah titipan.

Kalau begitu, republik ini tampaknya bukan lagi negara hukum melainkan negara penitipan. Di sini bukan hanya anak yang dititipkan, uang pun dititipkan, emas dititipkan, dan mungkin suatu hari nanti kapal pesiar juga hanya dititipkan.

Korupsi di republik ini tampaknya telah berevolusi.

Dulu orang mencuri ayam lalu mencuri sapi, kini yang dicuri adalah masa depan, korupsi tidak lagi sekadar kejahatan. Ia telah menjadi budaya birokrasi bagi sebagian orang, budaya yang diwariskan bukan lewat buku, melainkan lewat bisikan.

Baca Juga:  Berlaga di Nasional, Arisal Aziz Akan Biayai PSLA Sicincin

“Kalau bisa dipersulit, kenapa dipermudah?”, “Kalau bisa mendapat komisi, kenapa gratis?”, “Kalau bisa disimpan dalam emas, kenapa hanya rekening?”

Lama-kelamaan korupsi tidak lagi membuat orang malu, yang malu justru mereka yang masih jujur. Orang jujur dianggap aneh, tidak pandai mencari peluang, kurang luwes, dan tidak mengerti “cara bermain”.

Sementara mereka yang pandai memainkan sistem justru dielu-elukan sebagai orang hebat.

Lalu datanglah babak yang membuat satire semakin sulit dibedakan dari kenyataan ketika aparat lain melakukan penggeledahan, tiba-tiba muncul aparat berseragam loreng.

Rakyat pun bertanya-tanya.

“Kenapa tentara ikut datang?”

Jawabannya bermacam-macam, ada yang mengatakan pengamanan, ada yang menyebut prosedur, ada yang menjelaskan dasar hukumnya, semuanya mungkin benar namun persepsi publik memiliki logikanya sendiri.

Di negeri yang terlalu sering dikecewakan, setiap kebetulan terlihat seperti pola setiap kehadiran tampak seperti pesan. Setiap penjelasan dianggap terlambat, bukan karena rakyat gemar berprasangka melainkan karena terlalu banyak kisah yang berakhir mengecewakan.

Kepercayaan publik ibarat kaca, sekali retak, pantulannya tidak pernah sama lagi.

Yang paling menyedihkan sebenarnya bukan emasnya bukan pula uangnya melainkan kenyataan bahwa masyarakat kini semakin sulit percaya kepada siapa pun.

Kalau yang menangkap koruptor dicurigai, kalau yang mengadili koruptor pernah tersandung, kalau yang mengawasi pengawas ikut diawasi, lalu kepada siapa rakyat harus menitipkan harapan?

Baca Juga:  Pengurus PTMSI Kota Bukittinggi Bersama Wakil Wali Kota Bukittinggi Bahas Masa Depan Olahraga Tenis Meja

Republik ini seolah memasuki lingkaran yang aneh semua mengaku bersih tetapi yang ditemukan justru semakin banyak kotoran. Mungkin korupsi memang bukan lagi sekadar penyakit.

Ia telah menjadi ekosistem, ada predator, ada mangsa, ada pemelihara, ada penikmat, bahkan mungkin ada ahli konservasinya.

Namun, di balik seluruh ironi ini, masih ada satu harapan, bukan harapan agar tidak ada lagi brankas. Brankas tidak pernah bersalah, yang perlu dijaga adalah agar brankas tidak lebih dihormati daripada integritas.

Rakyat sebenarnya tidak menuntut pejabat hidup miskin mereka hanya ingin pejabat dapat menjelaskan kekayaannya secara masuk akal. Mereka tidak anti terhadap orang kaya.

Mereka hanya ingin kekayaan itu lahir dari jalan yang benar karena ketika hukum kehilangan wibawa, uang menjadi bahasa.

Ketika integritas kehilangan harga, emas menjadi ukuran kehormatan. Dan ketika kepercayaan rakyat habis, republik ini akan memiliki gedung-gedung megah, mobil-mobil dinas baru, seragam-seragam gagah, bahkan brankas-brankas terbesar di Asia. Sayangnya, satu hal yang paling mahal justru tidak dapat disimpan di dalam brankas.

Namanya adalah kepercayaan publik.

Dan bila kepercayaan itu telah hilang, bahkan setengah triliun rupiah dan puluhan kilogram emas pun tidak akan pernah mampu membelinya kembali.

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.