Scroll untuk baca artikel
Banner Harian Khazanah
OpiniEkonomiHukumKomunitasPilihan RedaksiPolitik

Mulut Bau Solar

×

Mulut Bau Solar

Sebarkan artikel ini

 

Oleh: Novrizal

Iklan
Scroll Untuk Baca Artikel

Di negeri yang kaya minyak, gas, batu bara, nikel, emas, dan segala macam isi perut bumi, ada satu aroma yang lebih kuat daripada wangi bunga melati di pagi hari. Aroma itu bukan berasal dari kilang minyak, bukan pula dari knalpot truk yang sedang mendaki Kelok Sembilan. Aroma itu berasal dari mulut.

Ya, mulut.

Bukan sembarang mulut, melainkan mulut yang sudah lama berbau solar!

Aneh memang, solar sejatinya adalah bahan bakar kendaraan. Ia semestinya menggerakkan truk pengangkut sembako, kapal nelayan yang mencari ikan, mesin pertanian petani, dan kendaraan yang menopang roda perekonomian rakyat. Namun entah sejak kapan, solar berubah menjadi parfum paling mahal bagi sebagian orang. Mereka tidak mengoleskannya ke tubuh, tetapi seolah-olah menghirupnya setiap hari hingga baunya menetap di mulut.

Konon, bau solar ini tidak bisa dihilangkan dengan menyikat gigi tiga kali sehari. Pasta gigi rasa mint menyerah. Obat kumur menyerah. Dokter gigi pun mengangkat tangan. Sebab sumber baunya bukan berasal dari rongga mulut, melainkan dari kebiasaan.

Kebiasaan mengambil yang bukan haknya!

Di SPBU, pemandangan yang paling akrab bukan lagi senyum petugas, melainkan antrean kendaraan diesel yang mengular sejak matahari belum terbit. Sopir truk duduk di balik kemudi sambil menghitung waktu. Nelayan mulai cemas apakah besok bisa melaut. Petani memikirkan biaya mengolah sawah. Semua berharap masih ada beberapa liter solar yang tersisa.

Baca Juga:  Komisi III/Keuangan DPRD Sumbar Terus Kawal Pemprov Optimalkan PAD

Namun, anehnya, selalu saja ada cerita bahwa solar itu habis lebih cepat daripada kesabaran rakyat.

Pertanyaannya sederhana:

Ke mana solar itu pergi? Sebagian orang menjawab permintaan meningkat, sebagian lagi berkata, “Distribusi terganggu.” Yang lain berbisik pelan, mungkin solar sedang merantau, entah merantau ke mana.

Mungkin ia sedang belajar menjadi barang langka atau mungkin ia sedang menempuh pendidikan tinggi di universitas para pengepul.

Yang jelas, ketika rakyat mengantre, selalu ada pihak yang tampaknya tidak pernah kekurangan.

Ironisnya, yang paling sering terlihat justru pedagang kecil yang diseret ke pengadilan. Mereka membeli beberapa jeriken untuk dijual eceran di kampung yang jauh dari SPBU. Tentu, jika melanggar aturan, hukum harus ditegakkan. Namun rakyat tetap bertanya-tanya: mengapa ikan teri begitu mudah tertangkap, sementara paus selalu berhasil menyelam lebih dalam?

Barangkali paus memiliki kemampuan menyelam yang luar biasa atau mungkin jaring kita memang lebih cocok menangkap ikan kecil.

Satire memang kejam. Tetapi kenyataan sering kali lebih kejam daripada satire itu sendiri.

Di negeri ini, ada istilah “mulut bau solar”. Bukan karena orang-orang benar-benar meminum solar. Itu mustahil. Solar bukan minuman. Namun ungkapan itu terasa pas untuk menggambarkan orang-orang yang hidupnya seolah tak pernah jauh dari keuntungan yang berasal dari solar subsidi.

Baca Juga:  Reses di Dapil Sumbar I, Ketua DPRD Sumbar Muhidi Sarankan Pelaku UMKM Membuat Kelompok Usaha

Mereka berbicara tentang kepentingan rakyat tetapi yang keluar dari mulutnya seolah aroma solar.

Mereka berbicara tentang pengabdian namun yang tercium justru bau subsidi.

Mereka mengaku membela masyarakat kecil akan tetapi, masyarakat kecil tetap mengantre berjam-jam.

Anehnya lagi, bau solar itu tampaknya menular. Siapa pun yang terlalu lama berada di sekitar keuntungan yang mudah, lama-kelamaan ikut mengendus aromanya. Mula-mula hanya mencium. Lama-lama menyukai. Setelah itu menganggapnya biasa.

Begitulah bau bekerja, ia tidak selalu menyerang hidung terlebih dahulu, kadang-kadang ia menyerang nurani.

Yang paling menyedihkan bukan ketika solar menjadi langka, yang lebih menyedihkan adalah ketika kelangkaan dianggap biasa. Antrean dianggap pemandangan normal, keluhan dianggap kebisingan.

Sedangkan penyalahgunaan dianggap sekadar isu musiman yang akan hilang setelah berita berganti. Padahal, setiap liter solar subsidi sejatinya adalah uang rakyat.

Ia berasal dari pajak, penerimaan negara, dan berbagai sumber yang akhirnya dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk subsidi. Ketika satu liter solar disalahgunakan, yang hilang bukan hanya bahan bakar.

Yang hilang adalah kesempatan nelayan melaut, kesempatan petani mengolah sawah, kesempatan sopir mencari nafkah, kesempatan ekonomi kecil untuk terus hidup.

Baca Juga:  Tim Ahli DPRD Sumbar: Bank Nagari Agar Mampu Beri Nilai Tambah bagi Pembangunan dan Kesejahteraan Masyarakat

Mungkin karena itu aroma solar terasa begitu menyengat, ia bukan sekadar bau bahan bakar, ia adalah bau kesempatan yang menguap.

Lalu bagaimana cara menghilangkan bau solar di mulut?

Jangan mencari obat kumur, carilah kejujuran. Jangan mencari parfum, carilah integritas, sebab bau solar bukan persoalan hidung, tetapi persoalan moral.

Selama keuntungan dari penyalahgunaan masih lebih besar daripada risikonya, akan selalu ada orang yang rela membuat mulutnya “berbau solar”. Selama pelanggaran kecil lebih mudah ditindak daripada membongkar jaringan yang rumit, rakyat akan terus bertanya mengapa antrean tak kunjung hilang.

Pada akhirnya, esai ini bukan tentang solar, bukan pula tentang SPBU, tetapi ini tentang pilihan.

Apakah kita ingin hidup di negeri yang orang-orangnya berlomba menjaga subsidi agar tepat sasaran, atau di negeri yang berlomba mencari celah untuk mengubah subsidi menjadi keuntungan pribadi?

Semoga suatu hari nanti, ketika seseorang berkata, “Aku mencium bau solar,” yang dimaksud benar-benar berasal dari truk yang sedang mengangkut hasil panen petani, kapal nelayan yang baru pulang membawa ikan, atau mesin yang menggerakkan pembangunan.

Bukan lagi berasal dari mulut mereka yang lupa bahwa subsidi bukanlah warisan pribadi, melainkan amanah yang dititipkan untuk kepentingan seluruh rakyat.

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.



Penulis: NovrizalEditor: Novrizal Sadewa