Scroll untuk baca artikel
Banner Harian Khazanah
BeritaOpini

Makan Bajamba Tradisi Unik Minangkabau: Wujud Nyata Dari “Duduak Samo Randah Tagak Samo Tinggi

×

Makan Bajamba Tradisi Unik Minangkabau: Wujud Nyata Dari “Duduak Samo Randah Tagak Samo Tinggi

Sebarkan artikel ini
Singkatnya Gini...
  • Makan Bajamba merupakan tradisi makan bersama dari satu wadah khas masyarakat Minangkabau yang menjunjung tinggi filosofi kesetaraan derajat tanpa memandang status sosial, pangkat, maupun usia.
  • Tradisi ini sarat dengan aturan kesopanan dan tata krama turun-temurun, seperti kewajiban memulai dan menyudahi makan secara bersamaan serta saling menghormati demi mempererat tali persaudaraan.
  • Pelestarian Makan Bajamba dinilai krusial di era modern guna menjaga silaturahmi, memperkenalkan struktur sosial adat, serta mewariskan nilai-nilai kebersamaan kepada generasi muda.
Penafian: Poin utama ini diproses menggunakan Kecerdasan Buatan (AI) untuk memudahkan pembaca, dengan tetap di bawah pengawasan redaksi.

Disusun Oleh: Nabila Zaqwa Pelangi Jurusan Sastra Minangkabau, Fakultas lImu Budaya, Universitas Andalas

 

Iklan
Scroll Untuk Baca Artikel

Siapa sih yang tidak mengetahui tradisi makan bajamba ini? Karena secara bahasa, “makan” itu artinya makan, sedangkan “jamba” berarti wadah atau tempat makan. Jadi, Makan Bajamba artinya makan bersama dari satu wadah yang sama. Biasanya dilakukan saat acara penting seperti pesta nikah, sunatan, pertemuan keluarga besar, hari raya, atau upacara adat. Yang menarik, di sini tidak ada perbedaan antara orang kaya dan miskin, pejabat dan rakyat biasa, tua dan muda. Semua duduk sejajar, makan dari hidangan yang sama, dan menikmati suasana kebersamaan yang hangat.

 

Adat inilah yang dikenal dengan sebutan Makan Bajamba. Kata “Bajamba” berasal dari kata “jamba” yang berarti sama atau seimbang. Jadi, secara harfiah, makan bajamba berarti makan bersama-sama secara sama rata, sama rasa, dan sama rata. Makan bajamba adalah salah satu tradisi masyarakat Minangkabau yang biasanya terjadi dalam acara-acara adat, perkawinan, dan seremonial lainnya. Amiruddin Datuak Nan Sati mengatakan: “Tradisi ini tidak hanya sekadar menikmati makanan, tetapi juga merupakan bagian penting dari budaya dan adat Minangkabau.”

 

Selain itu, makan bajamba ini juga mencerminkan pepatah “duduak samo randah, tagak samo tinggi”, karena pada momen ini kita tidak hanya makan dan menikmati hidangan saja, tetapi juga dapat merasakan nilai kebersamaan, dan kesopanan tanpa memandang status, pangkat, dan jabatan.

Baca Juga:  Ini Jadwal Penerapan One Way Selama Mudik Lebaran 2025 di Sumbar

 

Kalau dipikir-pikir, tradisi ini menyimpan banyak pesan baik yang diajarkan ke generasi penerus. Nilai yang paling utama adalah persamaan derajat. Saat kita duduk berdampingan dan mengambil makanan dari tempat yang sama, seolah-olah kita diingatkan bahwa pada dasarnya semua manusia itu sama. Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah dari yang lain. Rasa sombong dan rasa ingin menonjolkan diri pun perlahan hilang, karena kita sadar kita butuh satu sama lain.

 

Selain itu, ini juga ajaran tentang kebersamaan dan persaudaraan. Makan sambil duduk berdekatan, mengobrol santai, dan saling memperhatikan satu sama lain akan membuat hubungan antamanusia makin erat. Ikatan kekeluargaan dan persahabatan jadi makin kuat. Ada juga pesan tentang kesederhanaan. Hidangannya memang makanan rumahan yang lezat, tapi yang paling berharga bukanlah mahal atau mewahnya makanan, melainkan kehangatan suasana dan rasa syukur yang kita rasakan bersama-sama.

 

Biasanya peserta duduk bersila atau bersimpuh di atas tikar, berbaris rapi atau duduk melingkar. Di tengahnya diletakkan makanan di atas tampah atau piring besar yang berisi nasi dan berbagai lauk. Semua orang makan pakai tangan kanan, yang sudah jadi kebiasaan dan dianggap lebih nikmat serta lebih bersih.

 

Ada aturan yang sudah jadi kebiasaan turun-temurun. Kita hanya boleh mengambil makanan yang ada di depan kita, tidak boleh menjulurkan tangan jauh-jauh sampai melangkahi tangan orang lain. Kalau ingin mengambil lauk yang ada di samping atau di depan teman, biasanya kita akan memberi isyarat atau meminta tolong orang di sebelah untuk menyodorkannya. Di sinilah terlihat rasa sopan santun dan rasa menghormati orang lain.

Baca Juga:  Arsip Digital Jadi Fondasi Tata Kelola Modern di Kementerian ATR/BPN

 

Kita juga harus mulai makan dan berhenti makan bersamaan. Tidak boleh ada yang mulai duluan atau berhenti duluan sebelum yang lain selesai. Selain itu, kita diwajibkan menghabiskan makanan yang sudah kita ambil, sebagai bentuk rasa terima kasih kepada Tuhan dan rasa hormat kepada orang yang sudah menyiapkannya. Setelah selesai, kita mencuci tangan secara bergantian dengan air yang disediakan bersama-sama. Semua ini dilakukan dengan sederhana dan penuh rasa kekeluargaan.

 

Menu yang disajikan biasanya makanan khas Minangkabau yang sudah akrab di lidah banyak orang. Isinya umumnya nasi putih hangat, sambal pedas yang menggugah selera, gulai nangka, gulai daging, ikan bakar, rendang, atau ikan masak asam. Semua makanan itu diletakkan bersama-sama di wadah besar, tidak dibagi-bagi per orang. Semua orang bebas mengambil apa saja yang mereka suka, tapi tetap dengan cara yang sopan dan secukupnya saja.

 

Yang penting di sini bukan banyaknya makanan, melainkan cara kita menikmatinya bersama-sama. Makanan yang sama rasanya akan terasa jauh lebih nikmat dan istimewa kalau dimakan dengan suasana yang hangat dan penuh kebahagiaan. Perlu diketahui juga bahwa makan bajamba ini adalah bentuk nyata dari ungkapan “duduak samo randah, tagak samo tinggi.

Baca Juga:  Ditandatangani Nota Persetujuan APBD Perubahan 2025 dan Perubahan Perda Nomor 1 Tahun 2017

 

Singkatnya, makan bajamba bukan sekadar tradisi kuliner, tetapi juga merupakan cerminan struktur sosial masyarakat Minangkabau yang hidup rukun dan berdampingan, menghargai sesama, dan selalu mengutamakan kebersamaan. Di dalam satu wadah makanan itu, tersimpan begitu banyak makna tentang bagaimana kita seharusnya hidup berdampingan: saling menghormati, saling berbagi, dan saling menyayangi.

 

Selama tradisi ini terus dilakukan dan diajarkan ke anak cucu, maka ikatan persaudaraan akan tetap kuat. Kita jadi mengerti, bahwa nikmat yang diberikan Tuhan akan terasa jauh lebih berharga dan manis kalau kita nikmati bersama-sama. Semoga tradisi yang indah ini terus terjaga, menjadi warisan budaya yang membanggakan, dan mengajarkan kita semua untuk selalu hidup damai di tengah perbedaan.

 

Jika diterapkan ke dalam kehidupan saat ini, makan bajamba bukan hanya menunjukkan kesopanan dan kebersamaan, tetapi tradisi ini wajib dilestarikan walaupun zaman sudah berkembang untuk menjalin silaturahmi agar tidak terputus. Apalagi jika bercermin dengan kehidupan zaman sekarang di mana generasinya tidak begitu peduli dengan lingkungan sekitar. Untuk itulah kita perlahan juga harus memperkenalkan makan bajamba ini kepada anak-anak kita. Agar ketika mereka ikut serta, kita juga dapat leluasa memperkenalkan padanya siapa saja orang yang menghadiri dan panggilan apa yang seharusnya dilontarkan pada orang tersebut.(***)

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.