Scroll untuk baca artikel
Banner Harian Khazanah
HeadlineIptekKomunitasOpiniPilihan RedaksiPolitikSeni & Budaya

Universitas dan Pabrik Buruh Masa Depan

×

Universitas dan Pabrik Buruh Masa Depan

Sebarkan artikel ini
Singkatnya Gini...
  • Pergeseran orientasi pendidikan tinggi dari pusat pengembangan pemikiran kritis menjadi lembaga pencetak tenaga kerja yang sepenuhnya dikendalikan oleh kebutuhan pasar industri.
  • Kebijakan pendidikan yang terlalu menitikberatkan pada efisiensi ekonomi dan keterbatasan fiskal berisiko meminggirkan nilai-nilai humaniora serta melemahkan fondasi peradaban bangsa dalam jangka panjang.
  • Adanya paradoks antara tuntutan dunia kerja terhadap lulusan yang kreatif dan adaptif dengan sistem pendidikan mekanistis yang justru menghambat kemampuan berpikir kritis dan inovatif mahasiswa.
Penafian: Poin utama ini diproses menggunakan Kecerdasan Buatan (AI) untuk memudahkan pembaca, dengan tetap di bawah pengawasan redaksi.

“Bangsa yang terlalu sibuk mencetak pekerja mungkin akan berhasil membangun industri tetapi belum tentu berhasil membangun peradaban.”

Ada sebuah zaman ketika universitas dianggap sebagai tempat lahirnya gagasan besar. Tempat manusia belajar mempertanyakan hidup, membangun peradaban, dan mencari makna pengetahuan. Namun sekarang, perlahan-lahan kampus mulai berubah fungsi. Ia tidak lagi ditanya: “Apa yang dipikirkannya?” melainkan: “Berapa persen lulusannya terserap kerja enam bulan setelah wisuda?”

Iklan
Scroll Untuk Baca Artikel

Dan seperti biasa, angka menjadi lebih penting daripada manusia.

Pemerintah pun mulai sibuk menghitung. Program studi mana yang “relevan”, mana yang “tidak relevan”. Mana yang menghasilkan pekerja, mana yang hanya menghasilkan sarjana yang terlalu banyak berpikir. Kata “oversupply” mendadak terdengar gagah, seolah-olah manusia dapat dihitung seperti stok semen di gudang logistik.

Keguruan menjadi salah satu tersangka utama. Lulusannya terlalu banyak, kata pemerintah. Tidak sesuai kebutuhan pasar kerja. Maka program studi pendidikan mulai dilihat seperti warung yang kebanyakan produksi gorengan: hasilnya menumpuk, pembelinya sedikit.

Tokoh seperti Paulo Freire sejak lama mengkritik pendidikan yang hanya menjadikan manusia sebagai alat produksi. Menurutnya, pendidikan seharusnya membebaskan manusia agar mampu berpikir kritis terhadap realitas sosialnya, bukan hanya menjadi bagian dari mesin ekonomi. Demikian juga Ki Hajar Dewantara menempatkan pendidikan sebagai proses “memanusiakan manusia”, bukan sekadar pelatihan kerja.

Karena itu hubungan dengan dunia kerja memang perlu, tetapi harus proporsional. Universitas tidak bisa sepenuhnya lepas dari realitas ekonomi, sebab lulusan juga harus hidup layak. Namun ketika seluruh arah pendidikan ditentukan oleh pasar, maka ilmu kehilangan idealismenya, kebudayaan tersisih, kreativitas menyempit, dan manusia diukur hanya dari nilai ekonominya.

Baca Juga:  DPRD Sumbar Gelar Rapat Paripurna Penyampaian Jawaban Gubernur Atas Pandangan Umum Fraksi-fraksi

Padahal banyak kemajuan peradaban lahir bukan dari logika pasar jangka pendek. Seni, sastra, filsafat, penelitian dasar, bahkan pendidikan karakter sering tidak langsung menghasilkan keuntungan ekonomi, tetapi justru menjadi fondasi kebudayaan dan kemajuan bangsa dalam jangka panjang.

Ironisnya, dunia industri modern sendiri sekarang mulai mencari manusia yang tidak sekadar “siap kerja”, tetapi juga kreatif, adaptif, mampu berpikir lintas disiplin, komunikatif, dan memiliki empati sosial. Kemampuan seperti itu justru banyak dibentuk oleh pendidikan yang humanistik, bukan pendidikan yang terlalu mekanistis.

Jadi menurut saya, yang dibutuhkan bukan menolak hubungan pendidikan dengan dunia kerja, melainkan menjaga agar pendidikan tetap memiliki ruh kemanusiaan dan kebudayaan. Sebab bangsa yang hanya mengejar efisiensi ekonomi bisa maju secara industri, tetapi belum tentu maju secara peradaban.

 

Lucunya, di saat yang sama, masih ada sekolah-sekolah di pelosok negeri yang kekurangan guru. Ada murid yang belajar dengan meja reyot, ada guru honorer yang digaji lebih rendah dari cicilan sepeda motor, dan ada sekolah yang guru olahraganya mengajar matematika karena memang tidak ada pilihan lain.

Tapi mungkin yang dimaksud “kelebihan guru” bukan kekurangan tenaga pengajar, melainkan kekurangan anggaran untuk menggaji mereka.

Negara tampaknya mulai jujur, meski dengan cara yang tidak diucapkan secara langsung: kebutuhan pendidikan nasional kini harus menyesuaikan kemampuan fiskal. Pendidikan bukan lagi soal mencerdaskan kehidupan bangsa, melainkan soal apakah APBN sedang cukup sehat untuk menanggungnya.

Baca Juga:  Pasca Banjir dan Longsor, Ratusan Jiwa di Bayang Utara Kabupaten Pesisir Selatan Kini dalam Zona Berbahaya

Dan di sinilah universitas mulai diarahkan menjadi pabrik yang lebih efisien.

Kampus diminta menyesuaikan diri dengan kebutuhan industri. Istilahnya keren: link and match. Mahasiswa harus siap kerja. Kurikulum harus adaptif terhadap pasar. Lulusan harus relevan dengan dunia usaha.

Kalimat-kalimat itu terdengar modern, progresif, dan rasional. Sampai kita sadar bahwa yang dimaksud “relevan” sering kali hanyalah: mudah dipakai oleh industri.

Kenyataan ini akan mengakibatkan pendidikan perlahan berubah menjadi proses produksi tenaga kerja. Kampus akan seperti bengkel besar yang tugasnya mencetak manusia sesuai ukuran pasar. Jika industri membutuhkan operator, kampus menyiapkan operator. Jika industri membutuhkan pekerja digital, kampus membuka prodi digital. Jika suatu hari industri membutuhkan manusia yang mampu bekerja 20 jam tanpa tidur, mungkin universitas akan membuka mata kuliah “Teknik Menjadi Robot Level Dasar”.

Sementara itu, filsafat dianggap terlalu banyak bertanya. Sastra dianggap tidak produktif. Seni dianggap tidak menghasilkan. Pendidikan dianggap kelebihan lulusan.

Padahal bangsa yang kehilangan filsafat akan kehilangan arah berpikir. Bangsa yang kehilangan seni akan kehilangan rasa. Bangsa yang meremehkan pendidikan akan kehilangan masa depan.

Tetapi tentu saja, semua itu tidak terlalu penting jika dibandingkan dengan kebutuhan pasar kuartal berikutnya.

Barangkali memang beginilah wajah pendidikan modern: universitas tidak lagi diminta melahirkan manusia merdeka, tetapi tenaga kerja fleksibel yang siap dipindahkan dari satu industri ke industri lain seperti suku cadang.

Baca Juga:  Bukittinggi Open Cup I Tingkat Nasional Diikuti Ratusan Atlet Sepatu Roda

Ironisnya, industri sendiri kini mulai mengeluh. Mereka mencari lulusan yang kreatif, inovatif, mampu berpikir kritis, dan bisa bekerja lintas disiplin. Sesuatu yang sulit lahir dari pendidikan yang terlalu tunduk pada logika pasar.

Sebab kreativitas tidak tumbuh dari kepatuhan mutlak. Pemikiran kritis tidak lahir dari sistem yang hanya mengajarkan cara memenuhi kebutuhan industri. Dan inovasi tidak muncul dari manusia yang sejak awal dididik hanya untuk menjadi roda kecil dalam mesin ekonomi.

Namun rupanya kita memang sedang memasuki era baru: era ketika pendidikan diukur seperti investasi saham. Jika cepat menghasilkan uang, ia dianggap penting. Jika manfaatnya jangka panjang dan sulit dihitung dengan statistik ekonomi, ia mulai dicurigai.

Mungkin suatu hari nanti, universitas akan benar-benar berubah nama. Fakultas Ilmu Budaya diganti menjadi Divisi Konten Kreatif Produktif. Jurusan Pendidikan menjadi Unit Produksi SDM Pembelajaran. Dan wisuda bukan lagi prosesi akademik, melainkan seremoni penyerahan tenaga kerja kepada pasar.

Lalu di sudut ruangan, diam-diam kita bertanya: apakah pendidikan masih tentang manusia?

Atau jangan-jangan manusia sendiri sudah dianggap terlalu mahal untuk diproduksi?

Karena pada akhirnya, bangsa yang terlalu sibuk mencetak pekerja mungkin akan berhasil membangun industri. Tetapi belum tentu berhasil membangun peradaban.

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.



Penulis: Novrizal SadewaEditor: Novrizal Sadewa