Singapura, Khazanah — Asia Tenggara menghadapi salah satu episode kabut asap lintas batas terburuk akibat kebakaran di Indonesia. Direktur Kantor Regional Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) untuk Asia dan Pasifik, Ben Churchill, memperingatkan bahwa krisis ini dapat berlangsung selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, hingga perubahan arah angin dan datangnya hujan membantu memadamkan api.
Dikutip dari The Straits Times, Churchill mengatakan fenomena El Nino yang sedang berlangsung berpotensi menjadi salah satu yang terkuat yang pernah diamati. Fenomena ini membawa cuaca lebih panas dan kering ke kawasan khatulistiwa ASEAN, bertepatan dengan musim kemarau sehingga menciptakan kondisi ideal bagi kebakaran hutan dan lahan untuk terus meluas.
Praktik pembukaan lahan dengan cara tebang bakar turut memperburuk keadaan. Churchill memperkirakan kualitas udara tidak sehat akan terus terjadi, seiring semakin seringnya muncul hari-hari dengan tingkat polusi tinggi.
Singapura telah mengalami 13 hari berturut-turut dengan Indeks Standar Polutan (PSI) pada tingkat tidak sehat. Periode ini menjadi yang terpanjang sejak krisis kabut asap 2015. Kualitas udara dikategorikan tidak sehat apabila pembacaan PSI di suatu titik di Singapura melebihi angka 100 dalam sehari.
Pada 17 Oktober, seluruh fasilitas olahraga luar ruangan dan tanpa pendingin udara ActiveSG kembali beroperasi setelah ditutup sementara sehari sebelumnya akibat kabut asap. Namun, Pusat Olahraga Air di The Kallang menangguhkan operasional mulai pukul 11.00 hingga pemberitahuan lebih lanjut karena jarak pandang yang terbatas.
Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Hidup Singapura, Grace Fu, sebelumnya memperingatkan bahwa negaranya harus bersiap menghadapi kabut asap berkepanjangan, dengan kemungkinan kualitas udara mencapai tingkat berbahaya. Perbaikan diperkirakan baru terjadi ketika angin melemah dan berubah arah dalam tiga hingga empat minggu mendatang. Menjelang akhir tahun, angin yang berembus dari utara diharapkan dapat membawa kabut asap menjauh dari Singapura.
Churchill mengungkapkan, sekitar separuh emisi kabut asap dunia selama tujuh hari sejak 8 Oktober berasal dari Indonesia. Angka tersebut merujuk pada data Fire Emissions Watch, layanan pemantauan kebakaran yang dijalankan melalui program Copernicus Uni Eropa dengan memanfaatkan satelit dan sumber data lainnya.
Untuk mengatasi krisis ini, Churchill mendorong negara-negara ASEAN memperkuat kerja sama dalam sistem peringatan dini, prakiraan cuaca, dan penanggulangan kebakaran. Ia mengusulkan penggabungan sumber daya pemadam kebakaran antarnegara, termasuk investasi peralatan bersama, pertukaran keahlian teknis, serta mekanisme pengerahan tim pemadam kebakaran lintas batas secara cepat.
Ia mencontohkan kerja sama Australia dengan Selandia Baru, Amerika Serikat, dan Kanada dalam penanggulangan bencana. Melalui pengaturan timbal balik, personel dan peralatan dapat segera dikerahkan dan diintegrasikan untuk mempercepat pemadaman kebakaran.
Grace Fu mengatakan dirinya telah berkomunikasi dengan Menteri Lingkungan Hidup Indonesia, Jumhur Hidayat, untuk menawarkan bantuan sipil bagi pemadaman kebakaran dan pelaksanaan penyemaian awan.
Menurut Churchill, kedatangan hujan monsun pada akhir tahun menjadi harapan penting untuk memadamkan api. Fase basah monsun timur laut biasanya membawa curah hujan lebih tinggi ke Asia Tenggara sekitar Desember. Namun, waktu peralihan musim masih belum pasti karena El Nino kuat dapat mengganggu pola perubahan musim. Transisi diperkirakan berlangsung pada akhir Oktober atau November, dan prakiraan terbaru akan dibahas dalam Forum Prakiraan Iklim ASEAN pada akhir Oktober.
WMO sendiri telah memperingatkan pada Juni bahwa El Nino kuat berpotensi terjadi pada 2026. Churchill menekankan pentingnya menyampaikan informasi dini kepada seluruh lapisan masyarakat, mulai dari pembuat kebijakan dan sektor pertanian hingga komunitas dan individu, agar langkah pencegahan dapat dilakukan sebelum bencana memburuk.
Ia juga mengingatkan bahwa perubahan iklim akibat aktivitas manusia meningkatkan suhu global dan berpotensi membuat fenomena El Nino serta kabut asap lintas batas yang parah semakin sering dan intens.
Karena itu, Churchill menilai negara-negara ASEAN perlu memperbaiki praktik pengelolaan lahan, memperketat peraturan, serta memberikan edukasi kepada petani dan perusahaan yang bertanggung jawab atas kebakaran.
Menurutnya, tindakan kolektif dan pencegahan sejak dini merupakan kunci untuk melindungi keselamatan, keamanan, dan kesejahteraan masyarakat di kawasan Asia Tenggara. (eko/stimes)
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





