Tokyo, Khazanah – Popularitas Putri Aiko, putri tunggal Kaisar Jepang Naruhito dan Permaisuri Masako, terus meningkat di tengah masyarakat. Dukungan publik agar perempuan diizinkan naik takhta pun semakin menguat, seiring kekhawatiran terhadap masa depan monarki Jepang yang kini menghadapi krisis regenerasi akibat minimnya pewaris laki-laki.
Memasuki usia ke-24 pada Desember tahun lalu (1/12), Putri Aiko disebut menjadi simbol harapan bagi banyak warga Jepang yang menginginkan perubahan Undang-Undang Rumah Tangga Kekaisaran. Aturan yang berlaku sejak 1947 itu hanya memperbolehkan laki-laki mewarisi Takhta Krisan, sehingga Aiko tidak memiliki hak menjadi kaisar meski merupakan anak tunggal Kaisar Naruhito.
Dukungan terhadap Aiko semakin terlihat dalam berbagai kunjungan resmi keluarga kekaisaran. Saat mendampingi Kaisar Naruhito dan Permaisuri Masako ke Nagasaki, misalnya, sorak-sorai masyarakat yang memanggil nama Aiko bahkan disebut lebih riuh dibandingkan sambutan untuk kedua orang tuanya.
Pengamat menilai meningkatnya popularitas Aiko tidak lepas dari citranya sebagai sosok yang cerdas, rendah hati, ramah, dan dekat dengan masyarakat sejak resmi menjalankan tugas sebagai anggota keluarga kekaisaran dewasa pada 2021.
Dukungan publik semakin menguat setelah Aiko menjalani kunjungan resmi pertamanya ke luar negeri pada November lalu. Dalam lawatan enam hari ke Laos, ia mewakili Kaisar Naruhito menghadiri berbagai agenda kenegaraan, bertemu pejabat tinggi, mengunjungi situs budaya, serta berinteraksi dengan masyarakat setempat.
Awal tahun ini, Aiko juga mendampingi kedua orang tuanya mengunjungi Nagasaki dan Okinawa untuk mengenang korban Perang Dunia II, meneruskan tradisi Kaisar Naruhito dalam menyampaikan pesan perdamaian kepada generasi muda.
Sejumlah warga mengaku berharap Putri Aiko suatu saat dapat menjadi pemimpin monarki Jepang.
“Saya selalu mendukung Putri Aiko menjadi penguasa Jepang. Saya menyukai semua tentang dirinya, terutama senyumnya yang begitu menenangkan,” kata Setsuko Matsuo (82), penyintas bom atom Nagasaki.
Hal senada disampaikan Mari Maehira (58), warga yang mengikuti kunjungan Aiko di Nagasaki. Menurutnya, masyarakat telah melihat Aiko tumbuh sejak kecil dan kini berharap dapat menyaksikannya menjadi ratu di masa depan.
Monarki Jepang Terancam Krisis Pewaris
Desakan mengubah aturan suksesi juga dipicu kondisi keluarga kekaisaran yang jumlah anggotanya terus menyusut.
Saat ini keluarga kekaisaran Jepang hanya memiliki 16 anggota, jauh berkurang dibanding sekitar 30 orang tiga dekade lalu.
Dalam garis suksesi, hanya terdapat tiga pewaris laki-laki, yakni Putra Mahkota Akishino, adik Kaisar Naruhito, Pangeran Hisahito yang berusia 19 tahun, serta Pangeran Hitachi yang telah berusia 90 tahun.
Situasi itu membuat keberlangsungan monarki Jepang sangat bergantung pada Pangeran Hisahito sebagai satu-satunya pewaris laki-laki dari generasi muda.
Putra Mahkota Akishino sendiri mengakui jumlah anggota keluarga kekaisaran yang terus berkurang menjadi persoalan serius.
“Dalam sistem yang berlaku saat ini, tidak banyak yang bisa dilakukan selain mengurangi tugas-tugas resmi keluarga kekaisaran,” ujarnya menjelang ulang tahunnya yang ke-60.
Profesor Universitas Nagoya sekaligus pakar monarki Jepang, Hideya Kawanishi, menilai kondisi tersebut sudah memasuki tahap kritis.
“Seluruh masa depan monarki kini bergantung pada Pangeran Hisahito dan apakah kelak ia memiliki keturunan laki-laki. Beban yang dipikulnya sangat besar,” katanya.
Perdebatan Aturan Suksesi
Sejumlah akademisi menilai Jepang perlu membuka peluang bagi perempuan untuk naik takhta demi menjaga keberlangsungan monarki yang telah berusia sekitar 1.500 tahun.
Mereka mengingatkan bahwa Jepang sebenarnya pernah memiliki delapan kaisar perempuan sepanjang sejarah, meskipun yang terakhir, Kaisar Gosakuramachi, memerintah pada abad ke-18.
Namun kelompok konservatif, termasuk Perdana Menteri Sanae Takaichi, masih mempertahankan sistem pewarisan berdasarkan garis laki-laki.
Pemerintah Jepang sebenarnya pernah mengusulkan perubahan aturan pada 2005 agar perempuan dapat menjadi penguasa. Namun wacana tersebut meredup setelah lahirnya Pangeran Hisahito pada 2006.
Pada 2022, panel pemerintah kembali merekomendasikan agar sistem pewarisan laki-laki tetap dipertahankan, meski mengusulkan anggota perempuan keluarga kekaisaran tetap diperbolehkan menyandang status kerajaan setelah menikah.
Sementara itu, Komite Hak Perempuan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 2025 mendesak Jepang membuka peluang bagi perempuan menjadi kaisar karena aturan saat ini dinilai bertentangan dengan prinsip kesetaraan gender.
Pemerintah Jepang menolak rekomendasi tersebut dengan alasan sistem suksesi merupakan bagian dari identitas nasional yang tidak dapat diintervensi.
Simbol Generasi Baru
Putri Aiko lahir pada 1 Desember 2001. Ia merupakan lulusan Universitas Gakushuin dan kini aktif menjalankan tugas-tugas resmi keluarga kekaisaran sekaligus bekerja di Palang Merah Jepang.
Meski pernah mengalami perundungan saat sekolah dan ibunya, Permaisuri Masako, sempat mengalami gangguan kesehatan akibat tekanan karena tidak melahirkan anak laki-laki, Aiko tumbuh menjadi salah satu figur publik paling populer di Jepang.
Di tengah kebuntuan politik mengenai perubahan aturan suksesi, popularitas Putri Aiko terus memunculkan perdebatan mengenai masa depan monarki Jepang. Banyak kalangan menilai persoalan utama kini bukan lagi sekadar mempertahankan tradisi pewarisan laki-laki, melainkan memastikan keberlangsungan institusi kekaisaran di tengah jumlah anggota keluarga kerajaan yang terus menyusut. (Eko/dari Asahi Shimbun)
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.






