lubLuukbasung, Khazanah – Ketika sorotan terhadap bencana mulai mereda dan bantuan darurat berangsur berkurang, Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Sumatera Barat memastikan pendampingan terhadap masyarakat terdampak tetap berlanjut. Berbulan-bulan setelah banjir bandang dan longsor melanda sejumlah wilayah di Sumbar, PMI masih hadir melalui berbagai program pemulihan untuk membantu warga bangkit dari dampak bencana.
Komitmen tersebut ditunjukkan dengan penyerahan bantuan berupa sumur bor dan bibit pohon kepada masyarakat terdampak di Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Kamis (23/7). Bantuan diserahkan langsung oleh Ketua PMI Sumbar, Aristo Munandar Dt. Bagindo Kayo, didampingi Wakil Sekretaris PMI Sumbar, Edi Hasymi.

Penyerahan bantuan berlangsung di Kantor Wali Nagari Sungai Batang dan disaksikan Sekretaris Daerah Kabupaten Agam Muhammad Lutfi, Camat Tanjung Raya, Wali Nagari dan Wali Jorong, tokoh masyarakat, relawan Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT), serta warga setempat.
Ketua PMI Sumbar Aristo Munandar mengatakan, tugas kemanusiaan tidak berhenti ketika masa tanggap darurat berakhir. Menurutnya, fase transisi pemulihan merupakan tahapan yang sangat penting agar masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan secara normal.
“PMI tetap hadir mendampingi masyarakat pada masa transisi pemulihan pascabencana. Kami ingin memastikan masyarakat tidak ditinggalkan setelah bencana berlalu,” kata Aristo.
Ia menjelaskan, PMI Sumbar menjalankan berbagai program pemulihan di sejumlah daerah terdampak banjir bandang dan longsor di Sumatera Barat. Program tersebut meliputi pembangunan sumur bor, pendalaman sumur, pipanisasi, distribusi air bersih, layanan kesehatan, bantuan non-tunai, penyediaan *school kit* bagi anak-anak, hingga pengurangan risiko bencana melalui simulasi kebencanaan dan penghijauan.
Khusus di Kabupaten Agam, PMI memfokuskan program pada pembangunan sarana air bersih, distribusi air, layanan kesehatan, serta rehabilitasi lingkungan melalui penanaman pohon.
Aristo menyebutkan, PMI Sumbar telah membangun tiga unit sumur bor di Kabupaten Agam, masing-masing di Kecamatan Palembayan, Kecamatan Tiku Limo Jorong, dan Kecamatan Tanjung Raya. Seluruh fasilitas tersebut kini telah berfungsi dan menyediakan akses air bersih bagi masyarakat yang sebelumnya mengalami kesulitan akibat rusaknya sumber air pascabencana.
“Alhamdulillah seluruh pembangunan telah selesai dan kini masyarakat sudah dapat memanfaatkan air bersih yang sebelumnya sangat terbatas,” ujarnya.
Selain itu, PMI Sumbar juga melakukan penanaman 500 bibit pohon di kawasan terdampak bencana di Kecamatan Tanjung Raya. Bibit yang ditanam terdiri atas alpukat, durian, cengkeh, serta pohon mahoni yang merupakan dukungan dari Dinas Kehutanan. Program penghijauan ini diharapkan dapat membantu memulihkan kondisi lingkungan sekaligus mengurangi risiko bencana di masa mendatang.
Mewakili Bupati Agam, Sekretaris Daerah Kabupaten Agam Muhammad Lutfi mengapresiasi konsistensi PMI Sumbar yang terus mendampingi masyarakat meskipun masa tanggap darurat telah berakhir.
Menurutnya, berbagai program yang dijalankan PMI sangat membantu pemerintah daerah dalam mempercepat proses pemulihan kehidupan warga.
“Pemerintah masih terus berupaya memulihkan kondisi masyarakat secara bertahap. Kehadiran PMI dengan berbagai program pemulihan sangat membantu percepatan proses tersebut. Terima kasih karena PMI masih peduli dan terus hadir mendampingi masyarakat kami,” katanya.
Senada dengan itu, Wali Nagari Sungai Batang Ahsin mengaku keberadaan sumur bor yang dibangun PMI menjadi solusi atas krisis air bersih yang masih dirasakan warga sejak bencana melanda.
Bahkan, kata dia, wilayahnya kembali diterjang banjir bandang pada Sabtu (19/7), sehingga masyarakat masih menghadapi ancaman bencana berulang.
“Kami benar-benar putus asa menghadapi kondisi ini, tetapi untungnya PMI masih datang membantu kami,” ungkapnya.
Selain memberikan bantuan fisik, PMI juga memperkuat kapasitas masyarakat melalui pelatihan bagi Kelompok Siaga Bencana (KSB). Menurut Ahsin, pelatihan tersebut sangat penting karena nagari memiliki relawan, namun belum memiliki kemampuan menyelenggarakan pelatihan secara mandiri.
“Kami sangat berterima kasih kepada PMI yang tidak hanya memberikan bantuan, tetapi juga membekali masyarakat agar lebih siap menghadapi bencana di masa depan,” ujarnya.
Melalui berbagai program tersebut, PMI Sumatera Barat menegaskan bahwa kerja kemanusiaan tidak berhenti pada saat bencana terjadi. Pendampingan yang berkelanjutan pada masa pemulihan menjadi bagian penting untuk memastikan masyarakat terdampak dapat kembali bangkit, memiliki akses terhadap kebutuhan dasar, sekaligus lebih tangguh menghadapi ancaman bencana yang dapat datang sewaktu-waktu.(Devi)
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.






