Padang, Khazanah – Patah tumbuh hilang berganti, pepatah Minang ini bermakna sebuah kesinambungan, cocok juga dipakaikan untuk usaha kuliner minang yang terkenal dengan Rumah Makan Padang di Singapura.
Di negera jiran itu sebelum ini sudah lama dikenal sebuah rumah makan Minang bernama ‘Warong Nasi Pariaman’. Tapi setahun belakangan ini pemiliknya mengumumkan bahwa rumah makan mengakhiri usahanya di Singapura.
Tapi para pencinta masakan Minang tidak usah terlalu lema menanti, karena tahun ini Warong Nasi Pariaman sudah ad gantinya yakni Rumah Makan Sederhana. RM Sederhana adalah sebuah jaringan waralaba nasional di Indonesia.
Adalah, pengusaha kuliner Asyraf Rasheed melihat peluang untuk menghadirkan cita rasa Minang autentik di Kampong Glam. Menempati bekas lokasi Warong Nasi Pariaman, ia membuka cabang rumah makan padang Sederhana pertama di Singapura.
Pengusaha berusia 33 tahun itu punya alasan tersendiri untuk memboyong jaringan restoran yang sudah ternama asal Indonesia itu ke Singapura: ia ingin mempertahankan citra rasa asli masakan Minang di Negeri Singa.
RM Sederhana didirikan sejak 1972, dan telah menjadi salah satu jaringan nasi padang terbesar di Indonesia dengan lebih dari 200 gerai, baik di Indonesia, Malaysia dan Australia. Restoran di Kampong Glam ini menjadi gerai pertama merek tersebut di Singapura.
“Kami saat soft launch gerai Sederhana pada 29 Mei, dan antrean panjang sudah terlihat di sejak pukul 11 siang, ketika para pelanggan mulai berdatangan sebelum jam makan siang,” kata Asyraf.
Para staf tampak sibuk mondar-mandir di antara meja sambil membawa piring berisi ayam bakar beraroma asap dan rendang sapi mengilap di restoran yang penuh sesak. Beberapa pelanggan bahkan datang sebelum jam buka.
“Pelanggan pertama kami datang pukul 07.10 pagi,” ujar Asyraf.
Menepati bangunan bekas kedai kopi, gerai Sederhana di Singapura memiliki tata ruang yang lebih modern. Lantai pertama untuk antrean pelanggan yang akan memesan makanan dan membayarnya di kasir sebelum mencari tempat duduk.
Sementara itu, lantai dua kini dilengkapi pendingin udara dan dihias dengan lampu rotan serta lantai kayu.
Meski begitu, menghadirkan raksasa kuliner asal Indonesia ke lokasi bersejarah di Singapura ternyata bukanlah keputusan yang disambut baik oleh semua orang.
Warganet bertanya mengapa merek luar negeri mengambil alih bisnis lokal Singapura, kata Asyraf sebagaimana dilansir oleh CNA. “Tapi kami tidak sedang mencoba mengambil alih warisan siapa pun.”
“Kami tidak berusaha menggantikan siapa pun,” lanjutnya. “Kami hanya ingin meneruskan warisan kuliner Minang Padang autentik di kawasan ini.”
Kuliner Minang berasal dari wilayah Minangkabau di Sumatra Barat, yang dikenal sebagai kampung halaman nasi padang dan berbagai hidangan bersantan dengan cita rasa kaya.
Perasaan itu mungkin terasa lebih pribadi bagi Asyraf karena hingga kurang dari satu dekade lalu, ia bahkan belum berkecimpung di industri F&B.
Lulusan Politeknik Republik tersebut mempelajari ilmu farmasi dan sempat bekerja sebagai ahli bioteknologi selama beberapa tahun sebelum akhirnya memutuskan terjun ke bisnis makanan pada usia 25 tahun.
“Menurut kami, kalau bukan sekarang, kapan lagi?” kenang Asyraf kesepakatan yang ia buat bersama rekan bisnisnya untuk terjun di bisnis kuliner. “Kami beri waktu dua tahun. Kalau tidak berhasil, kami akan kembali ke industri sebelumnya,” tuturnya.
Delapan tahun kemudian, keputusan berani itu tampaknya membuahkan hasil.
Selain Sederhana Singapura, Asyraf juga mengelola sejumlah restoran halal lain seperti The Halal Corner, Smashed, dan The Brunch Club yang berlokasi di sekitar Kampong Glam. Namun, kali ini, bisnis tersebut terasa jauh lebih pribadi.
Mendiang nenek Asyraf lahir dan besar di Jakarta, sehingga makanan Indonesia menjadi bagian rutin dari masa kecilnya.
Asyraf juga mengaku sering makan di berbagai warung nasi padang di sekitar Kampong Glam, termasuk Warong Nasi Pariaman, meski ia tidak pernah mengenal langsung pemiliknya.
Makan nasi padang di Singapura harganya berdasarkan kode warna, bagaimana caranya?
Oleh karena itu, ketika restoran ikonik di Singapura Warong Nasi Pariaman ditutup pada awal tahun ini, Asyraf merasa lokasi bersejarah itu layak diisi oleh konsep autentik Minang lainnya, bukan kuliner yang benar-benar berbeda.
“Karena ini makanan Padang dan kuliner yang lebih autentik, kami memutuskan menjadikan bisnis keluarga sepenuhnya,” katanya.
“Istri saya, adik laki-laki saya, ipar laki-laki saya, dan ipar perempuan saya semuanya membantu di sini,” tuturnya.
Keluarganya juga memiliki saham dalam bisnis tersebut.
Berbeda dengan restoran-restoran lain yang ia miliki, Sederhana bukanlah konsep asli yang diciptakan oleh Asyraf. Dan memang itu yang dia inginkan.
“Saya pikir, semuanya kembali ke soal rasa yang autentik,” jelasnya.
Menariknya, ia mengaku bukan pelanggan tetap RM Sederhana sebelum membawa merek tersebut ke Singapura. Ia baru terhubung dengan jaringan restoran Indonesia itu melalui sejumlah kenalan setelah Warong Nasi Pariaman tutup.
Ia akhirnya berhasil menghubungi pemilik generasi ketiga Sederhana di Indonesia dan bolak-balik melakukan perjalanan selama beberapa bulan berikutnya seiring berjalannya diskusi.
Asyraf mengungkapkan proyek ini “menghabiskan biaya sekitar ratusan ribu dolar Singapura”, termasuk merekomendasikan ruko tua tersebut.
Saat ditanya apakah ia pernah menghubungi pemilik Warong Nasi Pariaman untuk melanjutkan bisnis mereka atau mempelajari resep-resepnya, Asyraf menjawab tidak.
“Kami ingin melakukan sesuatu yang menjadi milik kami sendiri,” jelasnya.
“Kami juga tidak tahu alasan mereka berhenti, jadi kami ingin menghormati keputusan mereka. Mereka menutup satu bab, kami membuka bab yang lain.”
Ia juga menolak anggapan bahwa membawa franchise asing dibandingkan menciptakan konsep lokal Singapura membuatnya menjadi “pengkhianat”.
“Kami sebenarnya bisa saja membuka konsep nasi padang sendiri,” katanya.
“Tapi ketika kita menggantikan brand besar seperti Pariaman, ekspektasinya juga besar. Sederhana sudah menjadi brand yang sangat besar di Indonesia, jadi kami merasa orang-orang akan lebih menghargai autentisitasnya.”
“Kalau Anda tidak bisa menghadirkan cita rasa Minang dengan benar, pada akhirnya rasanya akan menjadi versi yang sudah memengaruhi selera Singapura,” tambahnya.
“Pariaman menyajikan masakan Indonesia autentik, jadi menghadirkan sesuatu yang lebih bergaya lokal justru menghilangkan tujuan utamanya.”
Saat ini, Sederhana Singapore menyajikan sekitar 25 hingga 30 hidangan setiap hari, meski menu tersebut nantinya bisa berkembang hingga sekitar 100 pilihan.
Untuk menjaga keaslian cita rasa, banyak rempah-rempah dan bahan baku yang didatangkan langsung dari Indonesia.
Menariknya lagi, beberapa mantan juru masak Warong Nasi Pariaman (Asyraf menolak menyebutkan siapa dan jumlahnya) kini juga bekerja di Sederhana.
Menurut Asyraf, para juru masak tersebut dikirim ke Jakarta selama dua minggu untuk menjalani pelatihan bersama tim RM Sederhana Indonesia dan mempelajari teknik memasak khas merek tersebut.
Masakan di sini sangat condong ke gaya nasi padang khas Minang yang dikenal melalui kuah santan kaya rasa, racikan rempah yang berani, dan proses memasaknya lambat. Semua karakteristik itu langsung terasa begitu hidangan mulai tersaji di meja. Berikut beberapa menu yang paling mencuri perhatian saat kami berkunjung.
Dibanderol seharga S$6 (Rp84.000), rendang sapi menjadi salah satu hidangan terbaik yang kami cicipi di Sederhana Singapura.
Rendang khas Minang ini dimasak selama empat hingga lima jam, menghasilkan kuah kental yang penuh aroma rempah yang kuat.
Daging sapinya begitu empuk hingga mudah terurai tanpa perlu banyak dikunyah, sementara saus kaya rasa tersebut melapisi setiap serat daging dengan sempurna.
Aromanya sangat harum dengan sentuhan rasa asap yang khas. Ini bukan rendang yang lebih manis dan ringan seperti yang mungkin biasa dinikmati sebagian warga Singapura.
Tanpa diragukan lagi, ini menjadi salah satu hidangan terbaik yang kami cicipi hari itu.
Selain rendang, ada pula ayam bakar dan ayam pop yang masing-masing dijual seharga S$6 (Rp84.000) per porsi, harga yang sama untuk gulai kikil S$6. Sementara gulai nangka dijual seharga S$2 (Rp28.000), harga yang sama untuk kerupuk kulit.
RM Sederhana Singapura terletak di 738 North Bridge Rd, S198706. Restoran ini buka setiap hari pukul 08.00 hingga 20.00 waktu Singapura. (eko/dari cna.id)
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





