Scroll untuk baca artikel
Banner Harian Khazanah
Opini

Menolak AI adalah Kenaifan, Mendewakannya adalah Kebodohan

×

Menolak AI adalah Kenaifan, Mendewakannya adalah Kebodohan

Sebarkan artikel ini
Raihan Al Karim.

Oleh: Raihan Al Karim*

Histeria selalu datang lebih dulu ketimbang pemahaman setiap kali teknologi baru lahir. Hari ini, narasi bahwa Artificial Intelligence (AI) adalah ancaman yang akan menyingkirkan peran manusia, atau bahkan skenario kiamat layaknya fiksi ilmiah, terus berdengung. Namun, benarkah semengerikan itu?

Iklan
Scroll Untuk Baca Artikel

Mari kita meminjam analogi klasik: api. Di tangan yang gegabah, ia bisa membakar habis sebuah kota. Namun di tangan yang mahir, api menjadi alat untuk memasak, menghangatkan tubuh, hingga memicu mesin uap yang melahirkan revolusi industri. AI pun persis demikian. Ia adalah pedang bermata dua; instrumen yang sepenuhnya netral. Ia bisa melesatkan produktivitas jika dikemudikan dengan benar, namun bisa menjadi bumerang yang menghancurkan kredibilitas jika kita menelan mentah-mentah semua hasilnya.

Batas Demarkasi di Ruang Redaksi

Mari kita bedah realitas ini dari meja redaksi. Jika seorang penulis mengandalkan AI seratus persen untuk memproduksi konten dari nol hingga tayang, itu adalah sebuah bunuh diri jurnalistik. Mesin tak punya empati, nir-etika, dan tak bisa turun ke lapangan mencecap nuansa lokal sebuah liputan.

Baca Juga:  Memberi Makan Agar Orang Bisa Berpikir atawa Memberi Makan sebagai Pengganti Berpikir

Namun, menolak AI sepenuhnya juga sebuah kenaifan. Menjadikannya asisten bayangan adalah langkah rasional. Ketika writer’s block (kebuntuan ide) melanda, AI sigap membantu menyusun kerangka tulisan, merangkum data riset, hingga mengoptimasi SEO. Batasannya mutlak: AI hanyalah alat bantu, bukan pemimpin redaksi. Membiarkan algoritma mengeksekusi dan menerbitkan tulisan tanpa kurasi editor manusia sama dengan menebar karpet merah bagi penyebaran disinformasi.

Revolusi di Dapur Pemrograman

Transisi yang sama radikalnya terjadi di industri IT. Menolak AI di dapur pemrograman berarti menolak bekerja efisien. Dulu, merancang sistem digital—katakanlah aplikasi administrasi atau sistem kasir—membuat klien harus frustrasi menunggu berbulan-bulan akibat panjangnya proses perancangan database, penulisan kode, hingga debugging.

Kini, boilerplate (baris kode dasar) bisa disajikan dalam hitungan menit. AI dengan cepat menemukan letak error dan menyodorkan referensi logika struktur. Apakah programmer akan kehilangan pekerjaan? Tentu tidak. Mesin tidak memahami business logic yang unik dari setiap klien. Celah dan bug kompleks akan selalu menuntut nalar programmer sungguhan. AI hanya mengambil alih beban kerja kasar, membiarkan manusia fokus pada pemecahan masalah inti.

Sekretaris Cerdas dan Bot “Dua Otak”

Di luar urusan teknis, AI telah menjelma bak sekretaris cerdas yang bekerja 24/7 tanpa menuntut slip gaji. Bagi mereka yang didera jadwal padat, menyortir puluhan email panjang, merancang draf surat penawaran, hingga menyusun detail itinerary perjalanan keluarga kini tuntas dalam hitungan detik.

Baca Juga:  Rencana di Awak, Tanah di Urang

Kecanggihan ini kian telanjang di pasar keuangan dan kripto. AI kini lumrah dimanfaatkan sebagai bot trading tanpa lelah yang seolah memiliki “dua otak”. Otak pertama bekerja murni sebagai screener analitis—memindai pergerakan pasar, membaca sentimen global, dan menelaah koin secara serentak, sesuatu yang mustahil dilakukan mata telanjang.

Otak kedua bertindak sebagai algojo eksekusi. Ketika otak pertama memberi sinyal hijau, otak kedua otomatis melancarkan transaksi jual-beli, ketat mengikuti target Take Profit (keuntungan) dan batas Stop Loss (kerugian) yang sudah dipatok penggunanya. Sistem ini meriset dan mengeksekusi nonstop, kebal terhadap virus emosi, kelelahan, maupun keserakahan manusia.

Bayangkan, saat Anda sedang terlelap tidur, atau sedang menikmati waktu liburan berkualitas bersama keluarga, ada “orang” (sistem AI) yang terus bekerja memantau peluang, membeli, dan menjual aset untuk Anda. Ini adalah realitas teknologi hari ini. Pekerjaan analitis yang menguras fisik kini telah resmi didelegasikan, memberi kita kemewahan waktu yang tidak ternilai.

Namun perlu dicatat, ini bukan tentang uang yang jatuh dari langit secara ajaib. Ini adalah tentang efisiensi yang bisa kita delegasikan selama kita paham cara mengendalikan kemudinya.

Baca Juga:  Zeynita Gibbons, Perempuan Langit yang ada di Bumi

Kekuatan Berada pada Instruksi

Lantas, jika mesin kian mahir, untuk apa manusia?

Jawabannya kembali ke esensi awal interaksi manusia dan komputer: instruksi atau prompt. Kecerdasan mesin pemikir ini sangat bergantung pada manusia di baliknya. Semakin detail dan tajam prompt yang diberikan, semakin presisi hasilnya. Sebaliknya, instruksi yang malas dan ambigu hanya akan melahirkan teks halusinasi yang terkesan asal-asalan.

Kitalah yang memegang kendali. Pada akhirnya, kecerdasan buatan tak akan pernah secara utuh menggantikan manusia. Namun, manusia yang menolak beradaptasilah yang kelak akan tergeser oleh mereka yang fasih memerintahkan AI.

(Penulis merupakan jurnalis bersertifikasi Wartawan Madya yang juga aktif bergelut sebagai Praktisi IT dan menaruh minat besar pada perkembangan teknologi finansial, khususnya tren aset kripto dan blockchain.)

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.



Gaya Hidup

  Oleh: NovrizalIklan Scroll Untuk Baca Artikel Di negeri yang sangat mencintai bunyi “tot-tot-tot”, jalan raya telah berkembang menjadi panggung…