Scroll untuk baca artikel
Banner Harian Khazanah
OlahragaPolitikSeni & Budaya

Melestarikan Budaya Minangkabau, Festival “Sipak Rago” Perebutkan Piala Bergilir Evi Yandri Kembali Digelar

×

Melestarikan Budaya Minangkabau, Festival “Sipak Rago” Perebutkan Piala Bergilir Evi Yandri Kembali Digelar

Sebarkan artikel ini
Evi Yandri Rajo Budiman
Singkatnya Gini...
  • Wakil Ketua DPRD Sumatra Barat, Evi Yandri Rajo Budiman, membuka Festival Sipak Rago se-Sumbar 2026 di Padang yang diikuti oleh 28 tim sebagai upaya melestarikan permainan tradisional anak nagari.
  • Penyelenggaraan festival tahun kelima dengan dukungan dana pokok pikiran (pokir) APBD ini bertujuan menjaga eksistensi sipak rago yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) nasional.
  • Pemerintah Provinsi Sumatra Barat mengapresiasi festival dengan total hadiah Rp29,5 juta tersebut karena dinilai efektif menjaga identitas budaya, nilai gotong royong, dan sejarah lokal di tengah gempuran modernisasi.
Penafian: Poin utama ini diproses menggunakan Kecerdasan Buatan (AI) untuk memudahkan pembaca, dengan tetap di bawah pengawasan redaksi.

Padang, Khazminang.id — Warisan tradisi masyarakat Minangkabau terus dilestarikan dan digalakkan, salah satunya dengan menggelar Festival “Sipak Rago” se-Sumatera Barat memperebutkan Piala Bergilir Wakil Ketua DPRD Sumbar, Evi Yandri Rajo Budiman, Sabtu–Minggu (11–12/7/2026).

Sebanyak 28 tim dari berbagai daerah turut ambil bagian dalam festival yang mengusung tema “Lestarikan Budaya dengan Permainan Anak Nagari Sipak Rago” ini. 

Iklan
Scroll Untuk Baca Artikel

Festival tersebut dibuka langsung oleh Wakil Ketua DPRD Sumbar Evi Yandri Rajo Budiman di Gedung Rohana Kudus, Kota Padang, Sabtu (11/7/2026).

Dikatakan, penyelenggaraan tahun 2026 merupakan kali kelima festival ini digelar menggunakan dukungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) melalui dana pokok pikiran (pokir) Evi Yandri sendiri.

“Sebenarnya sejak 2015 sudah kita gelar kegiatan ini dengan dana seadanya. Namun, dengan sokongan APBD, ini menjadi tahun kelima pelaksanaannya secara resmi,” ujar Evi Yandri.

Ia menekankan pentingnya menjaga eksistensi sipak rago yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) secara nasional sejak beberapa tahun lalu agar tidak punah dan tetap diwariskan ke generasi muda.

Baca Juga:  Sah! DPRD Sumbar Setujui Ranperda Perubahan APBD Tahun 2025 Menjadi Perda

Evi menjelaskan, sipak rago merupakan cikal bakal sepak takraw, tetapi memiliki filosofi permainan yang sangat berbeda. Berbeda dengan sepak takraw yang mengutamakan kompetisi untuk mengalahkan lawan, sipak rago justru menonjolkan kerja sama dan kolaborasi antarpemain.

“Jika sepak takraw dimainkan berhadapan untuk saling mengalahkan, sipak rago justru menuntut kerja sama agar bola tetap bertahan di udara selama mungkin. Di sini tercermin nilai kekompakan, ketangkasan, gotong royong, dan tidak ada rasa ingin balas dendam,” jelasnya.

Nilai luhur tersebut mengajarkan setiap pemain untuk selalu memberikan umpan terbaik kepada rekannya, meskipun mereka menerima bola dalam posisi yang sulit atau kurang ideal.

Selain nilai budaya, sipak rago memiliki catatan sejarah yang unik. Pada masa penjajahan Belanda, permainan ini menjadi kedok bagi pemuda Minangkabau untuk melatih ketangkasan fisik dan bela diri secara sembunyi-sembunyi.

“Dulu Belanda melarang orang Minang latihan bela diri. Melalui permainan ini mereka terkecoh, dikiranya kita sekadar bermain bola, padahal sekaligus berlatih bela diri (silat),” ungkap Evi.

Baca Juga:  Buku "Politik Kebhinekaan" Multivitamin untuk Ibu Pertiwi

Upaya pelestarian ini mendapat apresiasi positif dari Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Kepala Dinas Kebudayaan Sumbar yang diwakili Kepala Museum Adityawarman, Tuti Alawiyah menyatakan, sipak rago bukan sekadar olahraga tradisional, melainkan identitas budaya yang kaya akan nilai sejarah, sportivitas, dan disiplin.

“Penyelenggaraan festival ini sangat penting agar permainan tradisional tetap dikenal dan diminati generasi muda,” tutur Tuti. Pihaknya juga berterima kasih atas komitmen pengalokasian dana pokir dari DPRD untuk pemajuan kebudayaan lokal.

Apresiasi senada disampaikan Camat Kuranji, Rozaldi Rosman. Ia menilai festival ini memberikan ruang representatif bagi anak nagari untuk menjaga nilai-nilai adat Minangkabau di tengah gempuran modernisasi.

Festival Sipak Rago se-Sumatera Barat ini memperebutkan total hadiah uang tunai sebesar Rp29,5 juta. 

Prosesi pembukaan acara ditandai dengan tendangan bola pertama oleh Evi Yandri Rajo Budiman didampingi unsur Forkopimda, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), Babinsa, serta para tamu undangan. (*)

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.

Baca Juga:  Komisi I DPRD Sumbar Kaget, Provinsi Riau Mampu Tingkatkan Derajat Desa Lebih Mandiri Melalui Program BKK