Scroll untuk baca artikel
Banner Harian Khazanah
Berita

Waspada, Sumbar Masih di Puncak Musim Hujan

×

Waspada, Sumbar Masih di Puncak Musim Hujan

Sebarkan artikel ini

Padang, Khazminang.id – Kepala Stasiun Meteorologi Minangkabau, Desindra Deddy Kurniawan, menyampaikan ex-siklon tropis senyar yang menyebabkan bencana banjir dan longsor di Sumatera Barat, kini telah menjauh dari wilayah Indonesia. Namun, wilayah Sumatera Barat masih berada dalam puncak musim hujan hingga Desember.

“Dinamika atmosfer seperti IOD, suhu muka laut, dan konvergensi angin masih aktif menyuplai uap air, sehingga memicu pertumbuhan awan hujan dalam sepekan ke depan,” ujarnya.

Iklan
Scroll Untuk Baca Artikel

BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem, memperhatikan kondisi lingkungan, dan mulai kembali ke rumah secara bertahap dari posko pengungsian.

Daerah terdampak yang diminta untuk meningkatkan kewaspadaan meliputi 16 kabupaten/kota, antara lain Kepulauan Mentawai, Pasaman Barat, Agam, Bukittinggi, Tanah Datar, Padang Panjang, Padang Pariaman, Pariaman, Padang, Pesisir Selatan, Pasaman, Lima Puluh Kota, Payakumbuh, Sawahlunto, Kabupaten Solok, Kota Solok, dan Solok Selatan.

“Penting bagi seluruh pihak untuk meningkatkan kesiapsiagaan agar risiko bencana hidrometeorologi dapat ditekan seminimal mungkin,” terangnya.

Baca Juga:  Shabirin Rachmat: Support Giat Remaja Masjid Muslimin Puhun Pintu Kabun

Sumbar Mulai Pulih

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno mengatakan, Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan seluruh instansi pemerintah terkait diminta untuk memprioritaskan penanganan bencana banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah daerah secara maksimal, salah satunya di Sumatera Barat.

“Seluruh kementerian dan lembaga berusaha semaksimal mungkin mengerahkan segala sumber daya untuk membantu masyarakat terdampak bencana,” ujar Pratikno, dalam keterangan pers secara virtual, Minggu (30/11/2025).

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto, menambahkan, penanganan bencana di Sumbar menunjukkan perkembangan signifikan. Sumbar dinilai lebih cepat memasuki fase pemulihan setelah tiga hari penanganan intensif.

“Sumatera Barat sudah lebih pulih di hari ketiga. Apalagi sekarang tidak ada hujan, dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) masih terus dilakukan,” jelasnya.

Gubernur Sumbar Mahyeldi meninjau likasi terdampak bencana.

BNPB mencatat, jumlah korban jiwa mencapai 129 orang, 118 orang masih hilang, dan 16 lainnya luka-luka. Di Kabupaten Padang Pariaman, sebagian besar pengungsi mulai kembali ke rumah masing-masing untuk melakukan pembersihan sisa material yang tersisa akibat banjir.

Baca Juga:  Gedung Baru Padang Eye Center Diresmikan

Kabupaten Agam menjadi wilayah dengan dampak paling besar, tercatat 87 korban meninggal dunia dan 76 orang masih hilang. Secara keseluruhan, terdapat 8 kabupaten/kota terdampak, yaitu Agam, Solok, Pesisir Selatan, Padang, Padang Panjang, Pariaman, Tanah Datar, dan Bukittinggi.

Jumlah pengungsi tercatat sebanyak 77.918 jiwa. Sebagian besar warga memilih kembali ke rumah pada siang hari untuk membersihkan rumah, kemudian kembali ke posko pengungsian pada malam hari.

Kerusakan infrastruktur yang masih menjadi fokus penanganan meliputi jembatan putus, jalan amblas, serta jalur transportasi nasional dan provinsi. Jalur nasional yang masih terputus di antaranya berada di Kota Padang Panjang dan Sicincin.

Bantuan yang disalurkan mencakup sembako, perlengkapan kebersihan, makanan siap saji, selimut, tenda, serta alat berat seperti excavator. Seluruh personel BNPB telah berada di titik-titik terdampak untuk mendampingi Forkopimda.

“Sudah 4 hari mereka berada di lapangan dan seluruh kegiatan berjalan sesuai rencana,” kata Suharyanto.

Penggunaan armada udara masih terbatas, mengingat jalur darat masih bisa digunakan. Armada yang dikerahkan mencakup satu helikopter BNPB, satu pesawat fixed wing, dan satu helikopter Basarnas.

Baca Juga:  DHY Bersafari Ramadhan ke Pessel

Pemulihan Aliran Sungai dan Distribusi Air

Data dari Posko Terpadu Penanggulangan Bencana Sumbar mencatat 131 personel dikerahkan untuk menangani dampak banjir, galodo, sedimentasi sungai, serta kerusakan saluran irigasi.

Penanganan difokuskan pada pemulihan fungsi aliran sungai dan distribusi air bagi permukiman serta pertanian. Jenis alat berat yang digunakan meliputi excavator, mini excavator, dan long arm excavator. Beberapa lokasi juga mengandalkan alat manual seperti cangkul dan sekop. (rel)

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.