Scroll untuk baca artikel
Banner Harian Khazanah
Seni & Budaya

Lara Forma, Pematung Perempuan Minangkabau, Merawat Tradisi dan Menemukan Bahasa Bentuk

×

Lara Forma, Pematung Perempuan Minangkabau, Merawat Tradisi dan Menemukan Bahasa Bentuk

Sebarkan artikel ini
Lara Forma, nama artistik Anita Dikarina, pematung perempuan dari Ranah Minang.

Oleh : Devi Diany

Lara Forma, nama artistik Anita Dikarina, merupakan pematung perempuan dari Minangkabau yang turut berpartisipasi dalam The Arby Samah International Sculpture Residency and Exhibition 2026. Sebagai anak kedua Arby Samah, pelopor patung abstrak Indonesia, ia tumbuh dengan kedekatan terhadap dunia seni patung. Namun, perjalanan kreatifnya berkembang melalui pencarian gagasan, eksplorasi material, dan pembentukan bahasa visual yang mencerminkan pemikiran serta pengalamannya sendiri.

Iklan
Scroll Untuk Baca Artikel

Dengan latar belakang pendidikan arsitektur, Lara Forma memiliki ketertarikan pada struktur, proporsi, komposisi, dan hubungan antara massa dengan ruang kosong. Kecenderungan tersebut terlihat dalam karya abstraknya yang memadukan kayu dan batu. Bentuk kayu yang melengkung dipertemukan dengan elemen batu berwarna gelap, sementara rongga di antara keduanya membangun komposisi yang dinamis sekaligus seimbang.

Pada karya yang terdokumentasi dalam foto, kayu menjadi unsur utama yang membentuk lengkungan dan alur visual, sedangkan batu berwarna gelap berperan sebagai elemen kontras. Perbedaan karakter kedua material tersebut menghasilkan hubungan antara kesan hangat dan dingin, ringan dan berat, serta bentuk organik dan struktur yang lebih padat. Rongga yang tercipta di antara keduanya bukan sekadar ruang kosong, melainkan bagian dari komposisi yang memengaruhi cara penonton memandang karya.

Pilihan material dan pengolahan bentuk tersebut memperlihatkan perhatian Lara Forma terhadap hubungan antara struktur dan ruang. Lengkungan mengarahkan pandangan mengikuti alur komposisi, sementara pertemuan kayu dan batu menciptakan keseimbangan visual. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa karya patung tidak hanya dibangun melalui massa material, tetapi juga melalui hubungan antarelemen dan ruang yang terbentuk di antaranya.

Baca Juga:  MKJ 2025, Riri Satria: Visi Strategis Dunia Kesenian dan Kebudayaan Harus Segera Disusun

Motif Mentawai: Hubungan Manusia, Alam, dan Ingatan Budaya

Salah satu aspek menarik dalam eksplorasi artistik Lara Forma adalah penggunaan motif tato Mentawai, termasuk titi dan dap-dap, bersama ragam pola lainnya dalam sejumlah karyanya. Motif tersebut menjadi bagian dari upayanya mempertemukan seni patung abstrak dengan pengetahuan budaya yang memandang manusia sebagai bagian dari alam.

Dalam kebudayaan Mentawai, tradisi tato memiliki hubungan dengan identitas, lingkungan, kehidupan sosial, dan pandangan kosmologis masyarakat. Motif-motifnya memiliki konteks budaya yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan alam dan lingkungan kehidupannya.

Dalam karya Lara Forma, motif tersebut diolah sebagai unsur visual yang berdialog dengan bentuk dan material. Garis-garis motif dapat menjadi aksen pada permukaan karya, memperkaya tekstur visual, dan membangun hubungan antara bentuk abstrak dengan ingatan budaya. Ketika dipertemukan dengan kayu sebagai material alami, motif tersebut membuka pembacaan tentang hubungan manusia dengan alam yang tidak hanya hadir sebagai sumber bahan, tetapi juga sebagai sumber nilai dan pengetahuan.

Penggunaan motif tradisional dalam seni kontemporer memerlukan pemahaman terhadap konteks dan makna budayanya. Dalam pendekatan Lara Forma, motif Mentawai dapat dibaca sebagai pintu masuk menuju dialog antara tradisi dan bahasa visual masa kini, dengan tetap menghargai akar kebudayaan yang menjadi sumber inspirasinya.

Salah satu karya Lara Forma yang berjudul The Seed of Time.

In The Between: Di Ruang Peralihan dan The Seed of Time

Dua karya yang turut dikenal dalam perjalanan artistik Lara Forma adalah In The Between: Di Ruang Peralihan dan The Seed of Time. Keduanya memperlihatkan ketertarikan pada gagasan mengenai waktu, perubahan, pertumbuhan, dan proses menjadi.

Baca Juga:  Anggota DPRD Sumbar Ade Putra: Festival Rang Mudo Tali Tigo Sapilin di Pasbar Merupakan Potensi Besar yang Harus Dikembangkan

In The Between: Di Ruang Peralihan dapat dibaca sebagai refleksi mengenai keadaan di antara dua kondisi: antara sesuatu yang telah berlalu dan yang sedang tumbuh, atau antara bentuk yang sudah terbentuk dan kemungkinan yang belum terwujud. Sementara itu, The Seed of Time menghadirkan benih sebagai metafora tentang potensi, awal kehidupan, dan proses yang memerlukan waktu untuk berkembang.

Dalam kedua karya tersebut, gagasan tidak harus diterangkan melalui representasi yang literal. Bentuk abstrak memungkinkan penonton membangun interpretasi melalui hubungan antara bentuk, ruang, dan pengalaman personal. Pendekatan ini sejalan dengan ketertarikan Lara Forma pada struktur dan komposisi, sekaligus membuka kemungkinan pembacaan mengenai hubungan manusia dengan alam dan waktu.

Dari segi material, karya abstrak Lara Forma yang terlihat dalam dokumentasi memperlihatkan penggunaan kayu dan batu. Namun, material spesifik untuk masing-masing karya In The Between dan The Seed of Time perlu dikonfirmasi berdasarkan dokumentasi atau keterangan langsung dari senimannya agar tidak terjadi kekeliruan dalam katalog.

Merawat Warisan, Mengembangkan Bahasa Artistik

Kedekatan Lara Forma dengan sejarah seni patung abstrak Indonesia merupakan bagian dari latar kehidupannya, tetapi perjalanan kreatifnya juga memperlihatkan pencarian terhadap kemungkinan bentuk dan gagasan yang relevan dengan pengalamannya sendiri.

Merawat warisan seni tidak selalu berarti mengulang pendekatan pendahulu. Warisan dapat menjadi titik berangkat untuk mengeksplorasi material, mengembangkan hubungan antara bentuk dan ruang, serta menghadirkan perspektif baru sesuai dengan pengalaman generasi berikutnya.

Dalam konteks tersebut, Lara Forma mengembangkan pendekatan yang mempertemukan pemikiran arsitektural, material alami, bentuk abstrak, dan motif budaya. Pilihan kayu dan batu, pengolahan lengkung dan rongga, serta penggunaan motif seperti titi dan dap-dap memperlihatkan unsur-unsur konkret dalam pencarian bahasa visualnya.

Baca Juga:  Ketua DPRD Sumbar Muhidi: Keberadaan Istana Bung Hatta Tak Hanya Sebagai Objek Peningkat PAD Saja, Tapi Juga Penarik Utama Wisatawan

Pengenalan terhadap Lara Forma karena itu tidak hanya bertumpu pada latar belakang keluarganya, tetapi juga pada gagasan dan keputusan artistik yang dapat diamati dalam karya-karyanya.

Suara Perempuan Minangkabau dalam Seni Patung Kontemporer

Sebagai pematung perempuan dari Minangkabau, Lara Forma turut memperluas representasi perempuan dalam seni patung kontemporer. Bidang ini menuntut perpaduan antara kepekaan konseptual, pemahaman material, dan kemampuan mengolah bentuk tiga dimensi.

Identitas Minangkabau tidak harus selalu diwujudkan melalui simbol adat secara langsung. Identitas tersebut juga dapat tercermin dalam cara seorang seniman memandang ruang, alam, keseimbangan, dan hubungan manusia dengan lingkungannya. Ketertarikan Lara Forma pada motif Mentawai memperluas dialog lintas budaya dalam praktik artistiknya, dengan tetap menempatkan penghargaan terhadap konteks tradisi sebagai hal penting.

Partisipasinya dalam The Arby Samah International Sculpture Residency and Exhibition 2026 menjadi kesempatan untuk memperkenalkan praktik seni patung perempuan Minangkabau kepada lingkungan seni internasional. Kehadirannya juga membuka ruang bagi perempuan muda untuk melihat seni patung sebagai bidang yang dapat dijelajahi melalui berbagai pendekatan dan pengalaman.

Lara Forma menghadirkan pertemuan antara pemikiran arsitektural, kayu dan batu sebagai material alami, abstraksi, serta ingatan budaya yang tercermin melalui motif Mentawai. Melalui eksplorasi tersebut, ia terus membangun bahasa visual yang berangkat dari pengalamannya sendiri sekaligus membuka dialog antara seni kontemporer, tradisi, dan hubungan manusia dengan alam. (*)

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.