Bukittinggi, khazminang.id- Konsistensi sembilan tahun penyelenggaraan sport tourism di Sumatera Barat kembali dibuktikan. Minang Geopark Run (MGR) 2026 resmi hadir di Kota Bukittinggi pada Minggu (1/11/2026). Sebagai seri kedua dalam Geopark Run Series 2026-2027 setelah Ijen Geopark Run, event ini menjadi angin segar bagi kebangkitan pariwisata dan ekonomi lokal pascabencana di kawasan Bukittinggi dan Kabupaten Agam.
Mengusung tema “Alek Gadang Pelari”, MGR 2026 mencatatkan lonjakan partisipasi yang luar biasa dengan total 3.800 peserta terdaftar. Antusiasme luar daerah pun sangat tinggi, terbukti dari dominasi pelari asal Pekanbaru yang mencapai 24 persen dari total peserta. Adapun sebaran peserta per kategori terdiri dari 5K sebanyak 1.950 orang, 10K sebanyak 1.050 orang, dan 21K sebanyak 800 orang.
Founder Geopark Run Series, Yv Tri Saputra, menjelaskan bahwa MGR bukan sekadar ajang adu kecepatan di lintasan lari. “Minang Geopark Run adalah wadah kolaboratif untuk mempromosikan pariwisata berbasis pelestarian dan edukasi geologi, sekaligus mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal.
Ada sedikit perubahan dari tahun-tahun sebelumnya, di mana track kali ini lebih mengeksplorasi lokasi pariwisata Bukittinggi dan Agam. Selain itu, setiap peserta nanti akan diberikan Kopi Bukik Apik yang merupakan kuliner khas Bukittinggi,” ujar Tri saat konferensi pers di Lantai 4 Pasar Atas, Sabtu (31/10/2026).
Ketua Geopark Run Series 2026–2027, Ihsan Ramadhi Putra, menambahkan bahwa penyesuaian rute dilakukan khususnya pada kategori 21K guna memberikan pengalaman yang lebih berkesan. Para pelari akan dimanjakan dengan panorama destinasi unggulan seperti Janjang Koto Gadang, Puncak Taruko, dan Janjang Seribu. Pihak penyelenggara juga memperkenalkan konsep “Geopark Run Passport” bagi pelari kategori 21K untuk memotivasi mereka menjelajahi berbagai situs geopark nasional.
Langkah konsisten ini sejalan dengan upaya membawa Geopark Ngarai Sianok menuju pengakuan internasional sebagai bagian dari jaringan UNESCO Global Geoparks (UGGp). MGR yang berawal dari 1.000 peserta pada 2018 terbukti tangguh bertahan meski sempat bergulir terbatas saat pandemi di Lembah Harau (2021), meluas ke Sijunjung-Silokek (2022), hingga terus menggelar exhibition run di Belitung dan Ciletuh.
Apresiasi tinggi datang dari Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias. Pemko Bukittinggi mendukung penuh konsistensi tim pelaksana melalui program 1001 event untuk menggeliatkan ekonomi warga.
“Kita hidup dengan tamu, tanpa tamu, ekonomi kita kurang bergerak. Untuk itu, program 1001 event terus kita realisasikan melalui sport tourism. MGR ini tentu berdampak langsung pada ekonomi warga. Salah satu upaya kami adalah memindahkan proses penyerahan race number ke kawasan Pasa Ateh agar para pedagang langsung merasakan dampak ekonominya,” jelas Ramlan.
Ramlan juga menyampaikan permohonan maaf kepada pengunjung dan pelari terkait adanya perbaikan jalan sepanjang 600 meter yang sedang diganti dengan conblock. Proyek ini merupakan bagian dari realisasi konsep Kota Pedestrian demi menghadirkan kenyamanan dan keamanan jangka panjang.
Dampak positif event ini turut diaminkan oleh Pemerintah Kabupaten Agam. Mewakili Bupati Agam, Sekdakab M. Luthfi menyatakan bahwa kolaborasi MGR menjadi momentum penting untuk memulihkan pariwisata yang sempat lesu.
“Kami merasakan pascabencana terjadi penurunan tingkat kunjungan. Pemerintah daerah tentu berupaya keras untuk kembali menggairahkan pariwisata Bukittinggi dan Agam, dan MGR ini adalah salah satu kegiatan masif yang memberikan dampak positif nyata bagi masyarakat,” pungkas Luthfi. (Iwin SB)
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.






