Padang, Khazanah — Potensi tanah liat di berbagai daerah di Sumatera Barat dinilai cukup besar untuk dikembangkan tidak hanya sebagai bahan baku batu bata dan gerabah, tetapi juga menjadi material seni kriya serta produk industri kreatif bernilai ekonomi tinggi.
Hal itu disampaikan narasumber lokakarya seni kriya yang digelar Taman Budaya Sumatera Barat, Wisnu Prastawa, saat memberikan materi kepada peserta di Gedung Kebudayaan Sumatera Barat, Padang, Senin.
Menurut Wisnu, potensi tanah liat di Sumatera Barat tersebar di berbagai wilayah, mulai dari kawasan penghasil tanah untuk batu bata hingga sentra gerabah yang memiliki sejarah panjang. Di antaranya Gerabah Galogandang di Luhak Nan Tuo, Tanah Datar, serta Gerabah Nagari Andaleh di kawasan Luhak Limo Puluah Koto.
“Melimpahnya potensi tanah liat di Sumatera Barat harus menginspirasi kita untuk berpikir kreatif dan imajinatif,” kata Wisnu.
Ia mengatakan, tanah liat selama ini lebih banyak dipandang sebagai bahan baku komoditas primer, seperti batu bata dan belanga tradisional. Padahal, material tersebut dapat dikembangkan menjadi medium seni sekaligus bahan baku produk kreatif, termasuk kriya keramik dan elemen arsitektur modern.
Dalam lokakarya tersebut, Wisnu memaparkan hasil sejumlah riset dan eksplorasinya yang dilakukan sepanjang 2023 hingga 2026. Beberapa di antaranya berupa penelitian mengenai potensi tanah liat Agam sebagai bahan baku seni kerajinan keramik, eksplorasi karakteristik tanah di kawasan Luhak Limo Puluah Koto, serta formulasi tanah Balango di Galogandang.
Menurut dia, masing-masing sentra gerabah di Sumatera Barat memiliki karakter dan keunggulan tersendiri. Gerabah Nagari Andaleh, misalnya, dinilai telah mengembangkan teknik finishing dan ornamentasi yang lebih beragam. Sementara itu, Galogandang memiliki karakter tanah dan teknik pembentukan yang khas.
“Baik Andaleh maupun Galogandang memiliki keunikan teknik pembentukan masing-masing yang kemudian melahirkan karakter produk yang kuat,” ujarnya.
Selain mengenal material tanah liat, peserta lokakarya juga diajak mengeksplorasi berbagai ragam hias ikonik Minangkabau, seperti motif Siriah Gadang dan Pucuak Rabuang, dengan memanfaatkan teknik cetak kriya.
Peserta juga diperkenalkan dengan berbagai teknik pembentukan keramik, mulai dari teknik putar, teknik slab atau lempengan yang dikembangkan di Studio Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang, teknik pilin, hingga teknik pijit atau pinching.
Untuk memberikan gambaran mengenai pemanfaatan tanah liat sebagai medium seni, Wisnu menampilkan dua karya kriya seni stoneware miliknya, yakni “Rangkiang” yang menggunakan material stoneware dan engobe Fe, serta “Pucuak Rabuang” dengan material stoneware dan engobe Zr.
Ia juga memperlihatkan dokumentasi art performance dan instalasi seni yang menggunakan material tanah liat Galogandang.
Kepala Taman Budaya Sumatera Barat, M. Devid, berharap lokakarya tersebut tidak berhenti pada peningkatan keterampilan teknis peserta dalam membentuk tanah liat.
“Kami berharap kegiatan ini juga menumbuhkan apresiasi yang lebih mendalam terhadap potensi material lokal sehingga masyarakat dapat mengolah tanah mentah menjadi produk kriya yang fungsional, estetis, sekaligus memiliki nilai ekonomi,” katanya. (eko)
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





