Padang, Khazanah — Kunjungan Gubernur Sumatera Barat (Sumbar) Mahyeldi Ansharullah bersama sejumlah pejabat pemerintah daerah ke Korea Selatan beberapa waktu lalu mulai membuahkan hasil. Konsorsium asal Korea Selatan datang ke Padang dan menyampaikan Letter of Intent (LoI) untuk menjajaki kerja sama pengelolaan sampah, pengembangan energi terbarukan, serta pengurangan emisi gas rumah kaca di Sumbar.
LoI tersebut disampaikan tiga mitra asal Korea Selatan, yakni THE Energy Consulting Co., Ltd., SSKK Solution Co., Ltd., dan Korea Agriculture and Fisheries and Industry Recycling Cooperative, dalam pertemuan dengan Gubernur Mahyeldi di Ruang Rapat Istana Gubernuran, Selasa (11/8/2026).
Salah satu potensi kerja sama yang menjadi perhatian adalah pemanfaatan gas metana dari Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Koto Tangah, Kota Padang. Gas metana yang selama ini dihasilkan dari proses pembusukan sampah akan dikaji untuk dimanfaatkan sebagai sumber energi sekaligus mengurangi emisi gas rumah kaca.
Ketertarikan tersebut menjadi salah satu tindak lanjut dari komunikasi dan penjajakan investasi yang dilakukan Pemprov Sumbar saat kunjungan ke Korea Selatan. Pemerintah daerah sebelumnya membuka peluang kerja sama di bidang pembangunan berkelanjutan dan teknologi lingkungan dengan sejumlah pihak di negara tersebut.
Gubernur Mahyeldi menyambut baik kedatangan konsorsium Korea Selatan dan penyampaian LoI tersebut. Menurutnya, rencana kerja sama itu sejalan dengan komitmen Pemprov Sumbar dalam mendorong pembangunan yang ramah lingkungan sekaligus memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.
“Pengelolaan sampah dan pengembangan energi terbarukan merupakan bagian penting dari upaya kita membangun daerah melalui konsep yang ramah lingkungan, berkelanjutan sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ujar Mahyeldi.

Ia mengatakan Pemprov Sumbar siap memfasilitasi pembahasan lanjutan dengan pemerintah kabupaten dan kota serta perangkat daerah terkait. Menurutnya, kerja sama tersebut diharapkan tidak hanya menyelesaikan persoalan persampahan, tetapi juga membawa manfaat lain berupa transfer teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, dan penciptaan lapangan kerja.
“Karena itu, kita akan fasilitasi pembahasan lebih lanjut dengan pemerintah daerah dan pihak-pihak terkait. Kita berharap kerja sama ini nantinya memberikan manfaat yang luas, baik dari sisi lingkungan maupun ekonomi,” katanya.
Gas Metana hingga Bahan Bakar Alternatif
Selain pemanfaatan gas metana, sampah di Sumbar juga dinilai memiliki potensi untuk diolah menjadi Solid Recovered Fuel (SRF), yaitu bahan bakar alternatif yang dihasilkan dari material sampah melalui proses pengolahan tertentu.
Perwakilan konsorsium Korea Selatan, Shin, mengatakan pihaknya tertarik mengembangkan proyek yang berkaitan dengan pengurangan emisi gas rumah kaca, sirkulasi sumber daya, daur ulang, dan penerapan teknologi lingkungan.
“Kami tertarik pada proyek-proyek pengurangan gas rumah kaca, sirkulasi sumber daya, daur ulang, dan penerapan teknologi terbaru dari Korea. Potensi itu ada di Sumbar,” ungkap Shin.
Ia berharap pembahasan teknis dapat segera dilakukan bersama Pemerintah Kota Padang dan pemangku kepentingan terkait. Pembahasan tersebut diperlukan untuk mengidentifikasi potensi, menentukan konsep dasar, serta mengkaji kelayakan proyek secara lebih terperinci.
Menurut Shin, penyampaian LoI merupakan langkah awal menuju kerja sama yang lebih konkret. Setelah proses kajian dan pembahasan dilakukan, kerja sama tersebut terbuka untuk dilanjutkan ke tahap penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU).
“Kami berharap kerja sama antara Sumatera Barat dan asosiasi kami dapat terus berlanjut dan menghasilkan proyek yang baik,” katanya.
DPMPTSP dan DLH Fasilitasi Tindak Lanjut
Untuk mempercepat tindak lanjut penjajakan investasi tersebut, Gubernur Mahyeldi telah menugaskan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sumbar untuk memfasilitasi komunikasi dan pembahasan teknis antara konsorsium Korea Selatan dengan pemerintah daerah terkait.
Tahapan selanjutnya akan diarahkan untuk mengkaji potensi pengelolaan sampah, teknologi yang dapat diterapkan, kebutuhan investasi, serta manfaat lingkungan dan ekonomi yang dapat dihasilkan.
Pemprov Sumbar berharap penjajakan kerja sama tersebut menjadi salah satu langkah strategis dalam memperkuat pembangunan hijau di daerah.
Selain membantu mengatasi persoalan sampah, pemanfaatan teknologi pengolahan limbah dan energi bersih diharapkan dapat mengurangi emisi, meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya, sekaligus menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru.
Dengan demikian, kunjungan Gubernur Mahyeldi ke Korea Selatan tidak berhenti pada hubungan diplomatik dan penjajakan investasi, tetapi mulai diarahkan pada kerja sama konkret yang dapat memberikan manfaat bagi pembangunan Sumatera Barat, khususnya dalam mewujudkan pengelolaan lingkungan yang lebih modern dan berkelanjutan.(Eko)
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.



