Scroll untuk baca artikel
Banner Harian Khazanah
BeritaDaerahInternasionalKomunitas

Mel Sofyan: Dekade Kedua, Saatnya IKM Tumbuh Menjadi Kekuatan Ekonomi Minangkabau

×

Mel Sofyan: Dekade Kedua, Saatnya IKM Tumbuh Menjadi Kekuatan Ekonomi Minangkabau

Sebarkan artikel ini
Singkatnya Gini...
  • Memasuki dekade kedua, Ikatan Keluarga Minangkabau (IKM) berkomitmen mentransformasi jaringan organisasi dari wadah silaturahmi menjadi kekuatan sosial-ekonomi yang nyata bagi masyarakat Minang.
  • Wakil Bendahara Umum DPP IKM Mel Sofyan mendorong pemanfaatan teknologi digital dan AI untuk menghubungkan pengusaha, UMKM, serta profesional guna memperluas akses pasar hingga ke mancanegara.
  • Pengembangan ekosistem ekonomi IKM ditegaskan harus tetap berlandaskan persatuan serta falsafah budaya Minangkabau agar mampu memberikan manfaat luas bagi anggota dan bangsa.
Penafian: Poin utama ini diproses menggunakan Kecerdasan Buatan (AI) untuk memudahkan pembaca, dengan tetap di bawah pengawasan redaksi.

JAKARTA, KHAZMINANG.ID – Satu dekade perjalanan Ikatan Keluarga Minangkabau (IKM) bukan sekadar penanda usia organisasi. Bagi Wakil Bendahara Umum DPP IKM, Mel Sofyan, sepuluh tahun pertama justru menjadi fondasi penting untuk membawa IKM memasuki babak baru: dari rumah besar silaturahmi menjadi kekuatan sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat Minangkabau di rantau.

Menurut Mel — begitu ia akrab disapa–, jaringan IKM yang kini terbentang dari tingkat pusat, wilayah, daerah, cabang hingga perwakilan di berbagai negara merupakan modal besar yang tidak boleh berhenti sebatas struktur organisasi.

Iklan
Scroll Untuk Baca Artikel

“IKM telah menjadi rumah besar yang mempersatukan masyarakat Minangkabau di berbagai daerah, bahkan di berbagai negara. Memasuki dekade kedua, kekuatan jaringan ini harus semakin dioptimalkan agar benar-benar memberi manfaat kepada anggota dan masyarakat luas,” ujar Mel Sofyan, dalam keterangannya yang diterima Khazminang.id, pagi ini (6/8/2026).

Ia menilai, tantangan IKM ke depan bukan lagi sekadar membentuk kepengurusan baru atau memperluas jaringan. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana jaringan itu dihidupkan menjadi kekuatan bersama.

Baca Juga:  Prajurit Kodim 0304/Agam Berhasil Menangkap Pemakai dan Pengedar Narkoba

IKM, katanya, harus mampu menjadi ruang yang mempertemukan pengusaha dengan pelaku UMKM, profesional dengan generasi muda pencari kerja, akademisi dengan masyarakat yang membutuhkan pengetahuan, serta perantau Minang di luar negeri dengan peluang perdagangan dan investasi di tanah air.

“Kalau semua potensi itu dihubungkan, dampaknya akan sangat besar. Pengusaha bisa menjadi mentor bagi UMKM, profesional membuka akses kerja, akademisi berbagi ilmu, sementara IKM di luar negeri dapat menjadi jembatan bagi produk-produk anggota untuk masuk ke pasar yang lebih luas,” katanya.

Mel menyebut perkembangan teknologi digital dan Artificial Intelligence AI) sebagai tantangan sekaligus peluang.
Organisasi kemasyarakatan, termasuk IKM, tidak boleh berdiri di pinggir perubahan.

Teknologi, menurutnya, harus dimanfaatkan untuk memperkuat jejaring, mempercepat informasi, membuka pasar, mempertemukan peluang usaha, serta meningkatkan kapasitas anggota.

Namun, seluruh cita-cita itu hanya mungkin berjalan apabila organisasi memiliki satu modal utama: persatuan.
“Perbedaan pandangan dalam organisasi adalah hal biasa. Tetapi jangan sampai perbedaan itu memutus silaturahmi atau melemahkan persaudaraan. Kita justru harus menjadikannya kekuatan untuk saling melengkapi,” ujarnya.

Baca Juga:  Memandang Uni Puan dari Sisi Lain

Mel mengingatkan bahwa masyarakat Minangkabau telah lama memiliki nilai kebersamaan yang kuat sebagaimana tergambar dalam ungkapan “barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang.” Nilai itu, katanya, harus diterjemahkan ke dalam tindakan nyata, bukan sekadar menjadi ungkapan seremonial.

Bentuknya sederhana tetapi penting: saling membuka akses, berbagi informasi, mempertemukan peluang usaha, mempromosikan produk sesama anggota, membantu generasi muda mendapatkan kesempatan, serta membangun ekosistem usaha yang saling menguatkan.

Menurut Mel, apabila kekuatan perantau Minang yang tersebar di seluruh Indonesia dan mancanegara dapat terkoneksi secara baik, IKM memiliki peluang menjadi salah satu jaringan sosial-ekonomi masyarakat Minangkabau yang sangat kuat.

Namun, kekuatan ekonomi itu tetap harus berjalan beriringan dengan identitas budaya.
Mel menegaskan, orang Minang di rantau harus tetap menjadi duta adat dan budaya yang mampu menjaga nama baik kampung halaman sekaligus memberi manfaat di tempat mereka hidup.

Falsafah “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung” menurutnya bukan sekadar petuah lama. Nilai itu mengajarkan orang Minang untuk menghormati adat, budaya, hukum, serta masyarakat tempat mereka menetap, tanpa kehilangan akar dan jati diri.

Baca Juga:  Laporan dua Ranperda Pansus dan Laporan Reses Masa Sidang II Tahun 2024-2025

“IKM jangan hanya besar di dalam struktur, tetapi juga harus besar dalam manfaat. Kehadirannya harus dirasakan oleh anggota, masyarakat sekitar, dan bangsa,” kata Mel.

Ia berharap dekade kedua IKM menjadi momentum untuk memperkuat persaudaraan, membangun kemandirian ekonomi anggota, menjaga adat dan budaya Minangkabau, serta memperbesar kontribusi masyarakat Minang bagi Indonesia.

“Kalau persaudaraan kuat, jaringan hidup, dan semua bergerak dalam semangat saling membantu, saya yakin IKM akan semakin dihormati dan dicintai. Bukan hanya oleh orang Minang, tetapi juga oleh masyarakat luas,” tutup Mel Sofyan. (*/sa)

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.