Scroll untuk baca artikel
Banner Harian Khazanah
BeritaHeadline

Pakar Unand: Struktur Bangunan Ramah Bencana Jadi Kunci Perlindungan Wilayah Pesisir

×

Pakar Unand: Struktur Bangunan Ramah Bencana Jadi Kunci Perlindungan Wilayah Pesisir

Sebarkan artikel ini
Singkatnya Gini...
  • Pembangunan struktur pelindung pantai harus dirancang berdasarkan karakteristik alam dan konsep ramah bencana, bukan sekadar mengandalkan kekuatan material.
  • Perancangan infrastruktur pelindung wajib memenuhi tiga aspek utama: identifikasi gaya dominan pantai, kesesuaian tipologi struktur, dan sinkronisasi kinerja bangunan dengan proses alami pesisir.
  • Kesalahan pemilihan tipe struktur dapat memicu kegagalan mitigasi dan memicu bahaya baru seperti arus balik (rip current), sedangkan rekayasa yang tepat terbukti efektif menstabilkan kawasan pesisir.
Penafian: Poin utama ini diproses menggunakan Kecerdasan Buatan (AI) untuk memudahkan pembaca, dengan tetap di bawah pengawasan redaksi.

Padang, Khazanah — Pembangunan struktur pelindung pantai di wilayah pesisir tidak cukup hanya mengandalkan kekuatan material, tetapi harus dirancang sesuai karakteristik alam agar benar-benar mampu mengurangi risiko bencana hidrometeorologi sekaligus menjaga keselamatan masyarakat.

Pakar Fakultas Teknik Universitas Andalas (Unand), Prof. Mas Mera, menegaskan bahwa konsep bangunan ramah bencana harus menjadi acuan utama dalam setiap pembangunan infrastruktur perlindungan pantai, terutama di kawasan yang rawan abrasi dan gelombang tinggi.

Iklan
Scroll Untuk Baca Artikel

“Langkah pertama adalah mengidentifikasi gaya dominan yang bekerja di pantai,” kata Prof. Mas Mera di Padang, Minggu.

Prof Mas Mera bersama Ketua LKAAM Sumbar Fauzi Bahar Dt Rajo Nan Sati

Pakar Unand: Struktur Bangunan Ramah Bencana Jadi Kunci Perlindungan Wilayah Pesisir, identifikasi tersebut bertujuan mengetahui apakah permasalahan utama berasal dari energi gelombang yang datang tegak lurus ke pantai atau dari pergerakan sedimen yang mengalir sejajar garis pantai. Hasil analisis itu menjadi dasar dalam menentukan jenis bangunan pelindung yang paling efektif.

Ia menjelaskan, aspek kedua adalah memastikan kesesuaian tipologi struktur. Setiap pantai memiliki karakteristik yang berbeda sehingga tidak bisa diseragamkan.

Baca Juga:  BRI Region 3 Padang Berbagai Bahagia dengan Anak Yatim

“Jangan memaksakan satu jenis struktur, seperti groin, apabila kondisi alam justru membutuhkan bangunan pemecah gelombang atau breakwater,” ujarnya.

Aspek ketiga ialah sinkronisasi kinerja struktur dengan proses alami pantai. Posisi dan bentuk bangunan harus dirancang agar mampu memicu akresi atau penambahan daratan secara alami, sehingga perlindungan pantai berlangsung secara berkelanjutan tanpa merusak keseimbangan lingkungan.

Prof. Mas Mera mengingatkan bahwa kesalahan dalam memilih tipe bangunan bukan hanya membuat perlindungan pantai menjadi tidak efektif, tetapi juga dapat menimbulkan ancaman baru bagi masyarakat.

Berdasarkan hasil penelitian dan studi komparatifnya, pantai yang mengalami abrasi akibat gelombang tegak lurus tidak akan terlindungi secara optimal apabila dipasang groin konvensional. Selain gagal mengurangi abrasi, struktur tersebut justru berpotensi membentuk rip current atau arus balik buatan di sisi bangunan.

“Pantai seperti ini akan menjadi sangat berbahaya bagi masyarakat maupun wisatawan yang berenang,” katanya.

Ia menilai, banyak kegagalan fungsi infrastruktur pelindung pantai selama ini bukan disebabkan mutu material yang rendah, melainkan karena pemilihan tipologi bangunan yang tidak sesuai dengan mekanisme kerja gelombang dan kondisi hidraulika setempat.

Baca Juga:  Kota Padang Targetkan Status Istimewa

Sebagai contoh penerapan konsep bangunan ramah bencana, Prof. Mas Mera mengangkat keberhasilan rekayasa struktur di Pantai Muaro Putuih, Kabupaten Agam. Groin konvensional yang sebelumnya tidak efektif menghadapi gelombang tegak lurus dimodifikasi menjadi T-Head Groin.

Penambahan kepala pada groin tersebut mengubah fungsi bangunan menjadi menyerupai pemecah gelombang yang mampu menciptakan zona perairan tenang sekaligus mempercepat proses sedimentasi.

“Modifikasi ini berhasil memicu terbentuknya endapan sedimen dalam jumlah besar sehingga kawasan pantai menjadi lebih stabil,” jelasnya.

Secara teori, lanjutnya, groin lebih sesuai diterapkan pada pantai yang didominasi arus sejajar garis pantai. Sementara itu, untuk pantai yang menerima hantaman gelombang secara tegak lurus, struktur pemecah gelombang merupakan pilihan yang lebih tepat.

Keberadaan pemecah gelombang akan membentuk tombolo, yakni endapan pasir yang menghubungkan pantai dengan struktur di lepas pantai. Kawasan yang terbentuk dapat dimanfaatkan untuk penghijauan melalui penanaman pohon sekaligus menciptakan ruang publik yang lebih aman.

“Pantai di belakang pemecah gelombang juga dapat dimanfaatkan sebagai area bermain bagi wisatawan, termasuk anak-anak, karena kondisi perairannya menjadi lebih tenang,” ujar Prof. Mas Mera.

Baca Juga:  Laporan dua Ranperda Pansus dan Laporan Reses Masa Sidang II Tahun 2024-2025

Menurutnya, pendekatan pembangunan yang mengikuti karakteristik alam tidak hanya meningkatkan efektivitas mitigasi bencana, tetapi juga menghadirkan manfaat ekologis, sosial, dan ekonomi bagi masyarakat pesisir. Karena itu, setiap pembangunan infrastruktur pantai perlu didasarkan pada kajian ilmiah agar tercipta struktur yang benar-benar ramah bencana, berkelanjutan, dan mampu melindungi kawasan pesisir dalam jangka panjang. (Eko)

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.