Scroll untuk baca artikel
Banner Harian Khazanah
HiburanHeadline

Tak ada Lagi Bioskop di Bukittinggi, Kota Kelahiran Bapak Perfilman Usmar Ismail

×

Tak ada Lagi Bioskop di Bukittinggi, Kota Kelahiran Bapak Perfilman Usmar Ismail

Sebarkan artikel ini
Singkatnya Gini...
  • Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyoroti ironi Kota Bukittinggi, tanah kelahiran Bapak Perfilman Indonesia Usmar Ismail, yang saat ini tidak memiliki bioskop di tengah keterbatasan jumlah layar nasional yang baru mencapai 2.500 dari kebutuhan ideal 10.000 layar.
  • Tingginya antusiasme masyarakat terhadap film disiasati oleh komunitas lokal Bukittinggi dengan menggelar bioskop terbuka, membuktikan bahwa tradisi menonton bioskop di Indonesia masih kuat dan memiliki potensi investasi yang besar.
  • Pemerintah mengusulkan penerapan aturan jeda minimal 120 hari (empat bulan) sebelum film layar lebar ditayangkan di platform digital (OTT) demi menjaga keberlangsungan ekosistem industri perfilman nasional.
Penafian: Poin utama ini diproses menggunakan Kecerdasan Buatan (AI) untuk memudahkan pembaca, dengan tetap di bawah pengawasan redaksi.

Jakarta, Khazanah – Ada yang ironis di Bukittinggi, sebagai kota tempat ahirnya Bapak Perfilman nasional Usmar Ismail, Kota yang disebut Parijs Van Sumatra ini kini alah tak punya bioskop sebijipun.

Irini ini bahkan menjadi sorotan oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon. Ia menyatakan  bahwa Indonesia memiliki potensi pasar yang sangat besar untuk memajukan perfilman nasional. Namun sayangnya, jumlah layar bioskop yang tersebar dari Sabang sampai Merauke dinilai masih sangat minim.

Iklan
Scroll Untuk Baca Artikel

Bekas Bioskop Gloria dekat Kebun Binatang atau di depan bekas Balaikota Bukittinggi

“Menurut data itu, kalau tidak salah kebutuhan kita itu mungkin 10.000 layar, tapi kita hanya ada 2.500 layar. Artinya, potensi untuk membesarkan investasi di bidang bioskop saja, sinema, itu masih terbuka selebar-lebarnya,” kata Fadli Zon di kawasan Gelora, Jakarta Pusat, pada Kamis, lalu (26/6/26)

Salah satu kota yang tidak memiliki bioskop adalah Bukittinggi. Ironisnya, kota ini merupakan tanah kelahiran Bapak Perfilman Indonesia, Usmar Ismail. “Saya baru dari Bukittinggi kemarin dalam rangka 100 tahun Jam Gadang, tempat lahirnya Usmar Ismail, bapak perfilman Indonesia. Di Bukittinggi saja tidak ada bioskop,” ungkap Fadli Zon.

Baca Juga:  Ditahan Malut, Perjalanan Semen Padang Keluar Zona Degradasi Makin Berat

Untuk mengatasi masalah tersebut, masyarakat setempat yang tergabung dalam sebuah komunitas berinisiatif membuat bioskop terbuka.

“Itu selama 6 hari berturut-turut yang nonton ya cukup banyak, katanya di atas 1.000 orang. Ya, begitu hausnya orang juga masih dengan bioskop,” tambah Fadli Zon.

Menurutnya, minat masyarakat Indonesia untuk menonton di bioskop menjadi hal penting yang perlu diperhatikan. Fenomena ini terbilang unik karena di beberapa negara lain, bioskop konvensional sudah mulai ditinggalkan.

“Di negara lain tradisi nonton ke bioskop itu sudah hampir punah. Kita masih nonton ke bioskop, dan menurut saya penting nonton ke bioskop, ke sinema itu, karena ini menghidupkan satu ekonomi budaya multiplier effect yang panjang,” jelas Fadli Zon.

Bekas-Bioskop-Eri-di-depan-penjara

Bukittinggi seperti juga kota-kota lain di Sumatera Barat dulu punya tiga bioskop. Bioskop Gloria di Pasar Atas berdampingan dengan Kebun Binatang dan berhadapan dengan Balaikota Bukittinggi. Lalu Bioskop Sovia di samping Istana Bung Hatta dan Bioskop Eri di depan penjara. Ketiga bioskop itu di masa jayanya menjadi tujuan hiburan bagi masyarakat kota Bukittinggi dan sekitarnya.

Baca Juga:  Semifinal Liga 4 Sumbar Ditabuh Usai Lebaran

Platform Streaming

Pada kesempatan itu, Fadli Zon kembali membahas mengenai penundaan penayangan film bioskop ke platform streaming digital (over-the-top/OTT). Ia menilai aturan jeda ini sangat berguna untuk menjaga ekosistem perfilman di Indonesia.

“Saya kira perlu kita jaga juga waktu dari penayangan di bioskop tidak boleh langsung ke OTT. Ya, ini juga saya kira penting untuk menjaga tadi keberlangsungan ekosistem,” ujar Fadli Zon.

Ia pun mengusulkan agar film layar lebar memiliki jeda minimal 120 hari sebelum akhirnya diizinkan tayang di platform digital seperti Netflix.

“Mungkin 120 hari, atau 4 bulan, atau beberapa bulan, 5 bulan, atau 6 bulan, ya, supaya ada jangka waktu orang masih bisa menikmati ini,” tutur Fadli Zon.(eko/mtr)

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.