Scroll untuk baca artikel
Banner Harian Khazanah
Daerah

Jadi Sorotan Pemuka Adat Nagari Paninjauan, Peran Perempuan Minang Kian Bergeser

×

Jadi Sorotan Pemuka Adat Nagari Paninjauan, Peran Perempuan Minang Kian Bergeser

Sebarkan artikel ini
PESERTA FGD foto bersama di Rumah Gadang Ateh Balai, Suku Limo Singkek, Nagari Paninjauan, Kec. X Koto Diatas, Kab. Solok, Minggu (21/6). HAN

Solok, Khazminang.id– Perubahan pola kehidupan masyarakat yang semakin mengarah pada keluarga inti, dinilai telah memengaruhi peran perempuan Minangkabau dalam kehidupan sosial, ekonomi dan pertanian.

Kondisi tersebut mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema Model Konseptual Sustainable Food Entrepreneurship Education (SFEE) bagi Perempuan Petani dalam Sistem Budaya Matrilineal Minangkabau di Nagari Paninjauan yang digelar di Rumah Gadang Ateh Balai, Suku Limo Singkek, Nagari Paninjauan, Kecamatan X Koto Diatas, Kabupaten Solok, Minggu (21/6/2026).

Iklan
Scroll Untuk Baca Artikel

FGD yang merupakan bagian dari penelitian yang dipimpin Dr. Muharika Dewi, S.ST., M.Pd.T. dari Politeknik Aisyiyah Sumatera Barat itu menghadirkan berbagai unsur pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah nagari, ninik mamak, Bundo Kanduang, hingga akademisi dari berbagai perguruan tinggi.

Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Paninjauan, Yuswardi Dt. Majoindo, mengakui bahwa telah terjadi perubahan yang cukup signifikan terhadap peran perempuan dalam masyarakat Minangkabau. Menurutnya, perempuan yang dahulu dikenal sebagai limpapeh rumah gadang, amban puruak pegangan kunci kini menghadapi tantangan yang berbeda akibat perubahan struktur sosial masyarakat.

Baca Juga:  Bupati Pesisir Selatan Serahkan Bantuan Alsintan Combine Harvester untuk Kelompok Tani di Daerah Itu

“Dalam falsafah Minangkabau, perempuan adalah limpapeh rumah gadang, penyangga bangunan keluarga, sekaligus pemegang amanah dalam mengelola harta kaum. Namun harus kita akui, sebagian fungsi itu mulai mengalami pergeseran seiring perubahan pola hidup masyarakat,” ujarnya.

Menurut Dt. Majoindo, salah satu penyebab utama perubahan tersebut adalah berkurangnya pola hidup berkaum yang selama ini menjadi ciri khas masyarakat Minangkabau. Kehidupan yang dahulu berpusat pada kaum dan keluarga besar kini lebih banyak berorientasi pada keluarga inti.

“Dulu masyarakat hidup dan berbagi dalam kaum. Sekarang sebagian besar sudah beralih pada kehidupan keluarga inti. Perubahan ini tentu berdampak pada pola pendidikan, pewarisan nilai, hingga peran perempuan dalam kehidupan sosial dan ekonomi,” katanya.

Meski demikian, Yuswardi menilai perubahan tersebut bukan alasan untuk meninggalkan nilai-nilai adat yang selama ini menjadi kekuatan masyarakat Minangkabau. Ia berharap penelitian yang dilakukan di Nagari Paninjauan dapat menghasilkan model pendidikan yang mampu mengembalikan marwah perempuan Minangkabau, khususnya perempuan tani.

“Kami berharap penelitian ini tidak berhenti pada kajian akademik saja, tetapi melahirkan model pembelajaran yang bisa diterapkan kepada perempuan tani agar fungsi dan marwah perempuan Minang kembali berjalan sebagaimana mestinya sesuai dengan perkembangan zaman,” tambahnya.

Baca Juga:  Dukung Koperasi Merah Putih, H. Nofrizon Gelar Sosialisasi Koperasi dan Usaha Kecil Penopang Ekonomi Masyarakat

Pandangan serupa disampaikan Ketua Badan Permusyawaratan Nagari (BPN) Paninjauan, Syafril Ilyas Dt. Misagumi. Menurutnya, pergeseran nilai pada perempuan tani tidak dapat dilepaskan dari perubahan sosial dan ekonomi yang terjadi dalam masyarakat.

“Perubahan zaman adalah sesuatu yang tidak bisa kita tolak. Hari ini kebutuhan keluarga semakin banyak, sementara harga komoditas pertanian sering kali tidak mampu menjadi sumber pendapatan utama seperti yang diharapkan. Kondisi ini memengaruhi cara pandang generasi muda terhadap pertanian,” ujarnya.

Syafril menilai tantangan tersebut perlu dijawab dengan pendekatan baru yang mampu menjadikan sektor pertanian lebih menarik dan bernilai ekonomi bagi generasi muda, terutama perempuan.

Sementara itu, Ketua Bundo Kanduang Nagari Paninjauan, Syafni Yenti, menjelaskan bahwa berbagai upaya telah dilakukan untuk memperkuat kembali posisi perempuan dalam sistem sosial matrilineal. Salah satunya melalui pendataan dan inventarisasi ulang harta pusaka tinggi yang dilakukan beberapa tahun terakhir berdasarkan keputusan KAN Paninjauan.

“Kami bersama KAN telah melakukan pendataan kembali harta pusaka tinggi yang ada di nagari. Tujuannya agar aset-aset kaum tetap terjaga dan dapat dimanfaatkan untuk kemaslahatan bersama sesuai prinsip masyarakat matrilineal Minangkabau,” jelasnya.

Baca Juga:  Penelitian MKA Riset&Training: Banjir di 3 Provinsi Penuhi Syarat Berstatus Bencana Nasional

Namun demikian, Syafni mengakui bahwa tantangan terbesar saat ini adalah menumbuhkan kembali minat generasi muda terhadap sektor pertanian. Menurutnya, banyak anak muda yang tidak lagi tertarik mengolah sawah dan ladang karena belum melihat adanya prospek yang menjanjikan.

“Generasi sekarang cenderung mencari pekerjaan di luar sektor pertanian. Mereka belum melihat bahwa sawah, ladang, dan sumber daya yang dimiliki kaum sebenarnya memiliki potensi besar jika dikelola dengan baik. Ini menjadi pekerjaan rumah bersama bagi kita semua,” ungkapnya.

Melalui FGD tersebut, para pemangku adat, pemerintah nagari, dan Bundo Kanduang berharap lahir rumusan yang mampu menjembatani nilai-nilai adat Minangkabau dengan kebutuhan masyarakat modern, sehingga perempuan tetap dapat menjalankan perannya sebagai penggerak ekonomi keluarga, penjaga harta pusaka dan penerus nilai-nilai budaya bagi generasi mendatang. Han

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.