Padang, Khazminang.id – Penonton yang didominasi kaum ibu, terlihat antusias saat mendapat kesempatan nonton bareng (nobar) gratis film teranyar Suamiku Lukaku, Selasa (9/6/2026) di XXI Transmart Padang.
Mereka yang berasal dari berbagai latar belakang itu, diantaranya para wartawati, advokat, aktivis dan lainnya, juga penuh semangat karena sang pemain film, Ayu Azhari hadir di tengah mereka.
Kegiatan ini diprakarsai Garnita Partai Nasdem dan IPEMI Sumatera Barat (Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia) sebagai bahagian dari kampanye stop kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Film ini menjadi ruang bersama untuk melihat, merasakan, dan memahami bahwa kekerasan terhadap perempuan dan anak bukan persoalan pribadi, melainkan persoalan kemanusiaan yang harus dihentikan bersama.
“Kekerasan terhadap perempuan dan anak bukan urusan pribadi, bukan aib keluarga dan bukan sesuatu yang boleh disembunyikan. Kekerasan adalah pelanggaran martabat manusia, pelanggaran hukum dan luka bagi masa depan bangsa,” kata Ketua Garnita Partai NasDem yang juga Ketua Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (IPEMI) Sumatera Barat, Dr. Hj. Lisda Hendrajoni, SE, M.M.Tr usai nobar.
Dia menyebut, film Suamiku Lukaku menjadi pengingat bahwa kekerasan terhadap wanita dan buah hati masih menjadi persoalan nyata. Banyak korban hidup dalam ketakutan, tekanan psikologis, kontrol, ancaman, bahkan kekerasan seksual yang terjadi di ruang-ruang paling privat.
“Untuk itu perempuan harus berani bicara, karena menghentikan kekerasan bukan hanya tugas korban, ini tanggungjawab keluarga, masyarakat, negara dan kita semua,” jelas Lisda yang juga merupakan anggota DPR RI asal Sumbar.
Menurutnya, kegiatan nobar film Suamiku Lukaku sebagai langkah konsisten mengedukasi publik, menguatkan kesadaran, sekaligus mengajak semua berani melawan kekerasan.
“Kita harus membangun lingkungan yang aman bagi perempuan dan anak di rumah, di sekolah, di tempat kerja, di ruang publik dan di ruang digital,” katanya.
Lisda juga mengimbau anak muda harus nonton film ini, supaya memutus kutukan antar generasi atau trauma antar generasi supaya kekerasan itu tidak dianggap normal. (*)
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.






