Scroll untuk baca artikel
Banner Harian Khazanah
Berita

Usai Ledakan di MAN 3 Padang, Cegah Konflik Sosial, Perkuat Sistem Peringatan Dini

×

Usai Ledakan di MAN 3 Padang, Cegah Konflik Sosial, Perkuat Sistem Peringatan Dini

Sebarkan artikel ini
Singkatnya Gini...
  • Penerapan konsep "guru wali" di Sumatra Barat dinilai efektif mendeteksi perubahan perilaku siswa sejak dini dan berpotensi menjadi model nasional dalam sistem pencegahan konflik berbasis sekolah.
  • Dirjen Polpum Kemendagri menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat sistem peringatan dini di lingkungan pendidikan guna mencegah penyebaran paham intoleran dan ekstremisme di kalangan generasi muda.
  • Pemerintah Provinsi Sumatra Barat mengusulkan dana hibah sebesar Rp1,4 miliar pada Tahun Anggaran 2027 guna mendukung keberlanjutan program pembinaan kerukunan dan deteksi dini konflik oleh FKUB Sumbar.
Penafian: Poin utama ini diproses menggunakan Kecerdasan Buatan (AI) untuk memudahkan pembaca, dengan tetap di bawah pengawasan redaksi.

Padang, Khazminang.id – Penerapan konsep guru wali di Sumbar dinilai efektif untuk memperkuat komunikasi antara guru dan peserta didik di sekolah sehingga perubahan perilaku siswa dapat terdeteksi sejak dini. Oleh sebab itu, Sumbar berpotensi menjadi model nasional dalam penerapan sistem pencegahan konflik berbasis sekolah.

Hal itu disampaikan Direktur Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum (Polpum) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Prof. Dr. Drs. Akmal Malik, M.Si saat memimpin Kegiatan Komunikasi Sosial Terkait Isu-Isu Strategis Bidang Kerukunan Umat Beragama di Provinsi Sumbar yang berlangsung di Ruang Rapat Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Sumbar, Rabu (15/7/2026).

Iklan
Scroll Untuk Baca Artikel

Juga hadir dalam kegiatan tersebut Direktur Ketahanan Ekonomi, Sosial, Budaya, dan Agama Ditjen Polpum Kemendagri, Bisri; Kepala Badan Kesbangpol Sumbar, Mursalim; Sekretaris dan jajaran Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Sumbar, serta pejabat di lingkungan Kesbangpol Sumbar.

Menurut Akmal, penguatan sistem peringatan dini harus dimulai dari lingkungan pendidikan. Menyikapi kasus dugaan perakitan bom oleh seorang siswa MAN 3 Padang, ia menegaskan, kolaborasi sekolah, guru wali, orang tua, FKUB, Badan Kesbangpol, Dinas Pendidikan, Kementerian Agama, tokoh agama, dan masyarakat menjadi kunci untuk mencegah berkembangnya paham intoleran maupun ekstremisme di kalangan generasi muda.

Baca Juga:  Menuju BP WTBOS, Sawahlunto Tuan Rumah Simposium Internasional “We Are Site Managers”

“Konsep guru wali yang diterapkan di Sumatera Barat merupakan langkah yang sangat baik karena mampu membangun komunikasi yang kuat antara guru dan peserta didik. Model seperti ini berpotensi menjadi contoh nasional dalam membangun sistem peringatan dini berbasis sekolah,” ujarnya.

Selain menyoroti upaya pencegahan konflik, Akmal juga mengapresiasi kondisi kerukunan umat beragama di Sumbar yang hingga kini tetap terjaga dengan baik. Ia menegaskan bahwa Forum Kerukunan Umat Beragama merupakan mitra strategis pemerintah dalam menjaga stabilitas sosial, memperkuat persatuan bangsa, sekaligus mencegah potensi konflik di tengah masyarakat.

Dirjen Polpum Kemendagri tersebut mengakui bahwa keterbatasan anggaran FKUB tidak hanya terjadi di Sumbar, tetapi juga dialami banyak daerah akibat menurunnya kemampuan fiskal pemerintah daerah. Meski demikian, menurutnya program pembinaan kerukunan harus dipandang sebagai investasi sosial yang memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas daerah.

Untuk itu, ia mendorong sinergi antara FKUB, Badan Kesbangpol, Bappeda, TAPD, DPRD, Kementerian Agama, pemerintah daerah, dan pemerintah pusat agar program-program penguatan kerukunan dapat masuk ke dalam dokumen perencanaan dan penganggaran daerah. Ia juga menyatakan akan membantu memperjuangkan tersedianya nomenklatur dan ruang anggaran bagi FKUB pada Tahun Anggaran 2027.

Baca Juga:  Respon Cepat Pelayanan, BRI Serahkan Ambulance untuk Polres Dharmasraya

Sementara itu, Kepala Badan Kesbangpol Provinsi Sumbar, Mursalim menyampaikan kegiatan komunikasi sosial ini menjadi forum strategis untuk memperkuat koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, FKUB, dan para pemuka agama dalam menjaga kehidupan masyarakat yang harmonis.

Menurutnya, Badan Kesbangpol terus melakukan pembinaan melalui komunikasi sosial, fasilitasi, koordinasi, pemantauan situasi, serta penguatan peran organisasi kemasyarakatan guna mencegah berkembangnya intoleransi, radikalisme, dan potensi konflik sosial.

Mursalim juga mengungkapkan bahwa Pemprov Sumbar telah mengusulkan hibah bagi FKUB Provinsi Sumbar sebesar Rp1,4 miliar pada Tahun Anggaran 2027 mendatang. Anggaran tersebut direncanakan untuk mendukung program pembinaan kerukunan, dialog antarumat beragama, komunikasi sosial, mediasi, deteksi dini, hingga pencegahan konflik sosial keagamaan secara berkelanjutan.

Dalam forum tersebut, Sekretaris FKUB Provinsi Sumbar, Rifki menyampaikan kondisi kerukunan umat beragama di daerah masih berlangsung aman dan kondusif. Namun, perkembangan isu nasional, pengaruh media sosial, intoleransi, radikalisme, serta kerentanan generasi muda tetap memerlukan langkah antisipatif.

“Salah satu langkah antisipatif itu bisa kita lakukan melalui penguatan pendidikan toleransi, dialog lintas agama, dan sistem deteksi dini,” ujar Rifki

Baca Juga:  BRI Peduli Bantu Pembangunan Sarana Ibadah Mesjid Al-Hidayah di Solok

Melalui kegiatan komunikasi sosial ini, pemerintah pusat dan pemerintah daerah menegaskan komitmen bersama untuk memperkuat kolaborasi dalam menjaga kerukunan umat beragama, meningkatkan efektivitas pencegahan konflik sosial, serta membangun sistem peringatan dini yang melibatkan sekolah, keluarga, tokoh agama, dan seluruh elemen masyarakat demi menjaga stabilitas, persatuan, dan keharmonisan di Provinsi Sumbar. (*)

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.