Scroll untuk baca artikel
Banner Harian Khazanah
BeritaGaya HidupHeadlineHukumKomunitasOpini

Sirene untuk Siapa? Bahkan Kemacetan Pun Kadang Mengenal Kasta!

×

Sirene untuk Siapa? Bahkan Kemacetan Pun Kadang Mengenal Kasta!

Sebarkan artikel ini
Singkatnya Gini...
  • Artikel menyoroti ketimpangan sosial di jalan raya, di mana rombongan non-darurat seperti konvoi motor gede (moge) kerap mendapatkan prioritas jalan mengalahkan kendaraan darurat seperti ambulans.
  • Penulis mengkritik penyalahgunaan fasilitas pengawalan kepolisian (patwal) dan sirene untuk kepentingan pribadi atau kegiatan seremonial, yang dinilai mengaburkan batasan antara urgensi medis dan kenyamanan VIP.
  • Fenomena prioritas jalan ini dinilai mencederai rasa keadilan publik dan memicu keraguan masyarakat terhadap fungsi aparat sebagai pelayan masyarakat yang setara tanpa memandang kasta sosial.
Penafian: Poin utama ini diproses menggunakan Kecerdasan Buatan (AI) untuk memudahkan pembaca, dengan tetap di bawah pengawasan redaksi.

 

Oleh: Novrizal

Iklan
Scroll Untuk Baca Artikel

Di negeri yang sangat mencintai bunyi “tot-tot-tot”, jalan raya telah berkembang menjadi panggung teater sosial yang paling jujur. Di sana, kita tidak perlu membaca laporan tahunan, survei kepuasan publik, atau pidato pejabat untuk mengetahui siapa yang dianggap penting. Cukup berdiri di pinggir jalan. Dengarkan sirene. Lihat siapa yang diberi jalan.

Di atas kertas, semua warga negara memiliki kedudukan yang sama. Di atas aspal, ternyata ada beberapa tingkatan. Ada rakyat biasa yang harus sabar menghadapi kemacetan. Ada rakyat yang sedikit lebih beruntung karena memiliki strobo. Ada rakyat yang sangat beruntung karena memiliki patwal. Dan ada rakyat yang begitu istimewa sehingga kemacetan harus menyingkir dari hadapannya.

Konon, jalan raya adalah ruang publik. Tetapi kadang-kadang ia lebih mirip ruang VIP bergerak.

Suatu hari, sebuah ambulans membawa pasien kritis. Sirenenya meraung-raung seperti penyanyi dangdut yang sedang kehilangan honor panggung. Keluarga pasien panik. Sopir ambulans berkeringat. Pengendara lain sibuk mempertahankan posisinya dalam kemacetan yang telah diperjuangkan selama tiga puluh menit. Mobil bergeser sedikit. Motor maju sedikit. Ambulans bergerak seperti siput yang sedang belajar yoga.

Di hari yang sama, tidak jauh dari sana, sebuah rombongan motor gede sedang touring menuju tempat wisata. Tiba-tiba terdengar suara yang sama: “tot-tot-tot”. Ajaib. Lautan kendaraan terbelah seperti kisah Nabi Musa. Pengendara menepi. Persimpangan dibuka. Arus lalu lintas diatur. Jalan menjadi lapang. Motor-motor berkilau meluncur dengan gagah seperti pasukan kerajaan yang baru pulang menaklukkan benua.

Baca Juga:  Presiden Prabowo Umumkan Serangkaian Kebijakan Perlindungan Pekerja pada May Day 2026

Mungkin saat itu ambulans kurang beruntung karena membawa manusia biasa. Seandainya ia membawa moge, mungkin jalannya lebih lancar.

Tentu saja ini hanya satire. Tidak mungkin nilai sebuah nyawa kalah oleh kapasitas mesin 1.800 cc.

Atau jangan-jangan memang bisa?

Yang menarik, ketika masyarakat bertanya mengapa touring moge mendapat pengawalan, jawabannya sering sangat mulia. Demi keselamatan. Demi ketertiban. Demi kelancaran lalu lintas.

Luar binasa, eh..Luar biasa.

Ternyata selama ini kita salah paham. Kita mengira touring moge adalah kegiatan rekreasi. Padahal sesungguhnya mereka sedang menjalankan misi kemanusiaan tingkat tinggi yang belum mampu dipahami rakyat biasa.

Barangkali mereka sedang membawa vaksin untuk planet Mars.

Atau mungkin sedang mengantarkan resep rahasia rendang yang harus tiba sebelum dunia kiamat. Karena kalau hanya jalan-jalan biasa, sulit menjelaskan mengapa puluhan kendaraan lain harus mengalah demi mereka.

Lebih menarik lagi adalah fenomena penjemputan tamu di bandara.

Kadang ada kendaraan patwal yang melesat menembus kemacetan dengan sirene meraung. Pengguna jalan menepi. Lampu merah menjadi sekadar dekorasi. Semua demi mengejar waktu.

Ketika ditanya, jawabannya sederhana: sedang menjemput tamu, sungguh mengharukan!

Selama ini kita berpikir bahwa fungsi utama perencanaan adalah berangkat lebih awal. Ternyata tidak. Solusi yang lebih modern adalah membuat seluruh kota menyesuaikan jadwal dengan keterlambatan kita.

Mengapa harus berangkat satu jam lebih cepat kalau ribuan pengguna jalan bisa diminta menepi? Mengapa harus memperhitungkan kemacetan kalau tersedia sirene? Mengapa harus disiplin waktu kalau ada kewenangan?

Baca Juga:  Demi Kelangsungan Organisasi, Tommy Siap Jadi Sponsor Utama Pelaksanaan Musorprov KONI Sumbar

Inilah inovasi manajemen transportasi yang layak masuk jurnal internasional.

Di tengah semua itu, sebuah pertanyaan sederhana terus menghantui publik: sebenarnya sirene itu diciptakan untuk siapa?

Untuk menyelamatkan nyawa? Atau untuk menyelamatkan jadwal?

Untuk keadaan darurat? Atau untuk keadaan terburu-buru?

Karena keduanya sangat berbeda.

Orang yang terkena serangan jantung memang darurat. Orang yang terlambat rapat belum tentu.

Orang yang mengalami perdarahan berat memang darurat. Orang yang takut ketinggalan acara seremonial belum tentu. Namun di jalan raya, kadang perbedaannya menjadi kabur.

Mungkin karena bunyi sirenenya sama.

Dalam berbagai pidato dan dokumen resmi, polisi disebut sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat. Sebuah cita-cita yang luhur. Sebuah mandat yang mulia. Di topi polisi bahkan tertulis semboyan Rastra Sewakottama, yang kurang lebih bermakna pengabdian utama kepada nusa dan bangsa.

Kalimat yang indah.

Masalahnya, rakyat kadang membaca semboyan itu sambil menyaksikan konvoi kendaraan hobi mendapat prioritas jalan.

Lalu mereka bingung. Bukan karena tidak mengerti bahasa Sanskerta.

Tetapi karena sedang berusaha memahami hubungan antara “pengabdian kepada bangsa” dengan “mengawal perjalanan menuju lokasi wisata”.

Mungkin bangsa yang dimaksud memang sangat suka touring. Atau mungkin rakyat terlalu sederhana dalam memahami makna pengabdian.

Padahal bisa saja pengabdian modern memang diukur dari seberapa cepat moge mencapai tempat ngopi.

Yang paling tragis sebenarnya bukan soal moge, bukan soal sirene, dan bukan soal patwal. Yang paling tragis adalah ketika masyarakat mulai kehilangan kemampuan membedakan antara pelayanan publik dan pelayanan khusus.

Baca Juga:  BPJS Kesehatan Gratis Kota Padang Fokus untuk Kegawatdaruratan

Ketika prioritas menjadi privilese. Ketika kewenangan terlihat seperti fasilitas. Ketika masyarakat bertanya-tanya apakah negara hadir untuk semua orang atau hanya untuk mereka yang cukup dekat dengan pusat kekuasaan.

Karena pada akhirnya, jalan raya adalah cermin.

Ia memperlihatkan kepada masyarakat siapa yang harus menunggu dan siapa yang tidak perlu menunggu.

Siapa yang wajib bersabar dan siapa yang boleh meminta jalan. Siapa yang dianggap prioritas dan siapa yang dianggap biasa.

Mungkin itulah sebabnya perdebatan tentang pengawalan tidak pernah benar-benar selesai. Sebab yang dipersoalkan bukan sekadar kendaraan yang lewat. Yang dipersoalkan adalah rasa keadilan.

Rakyat bisa menerima jika ambulans diberi jalan. Mereka mengerti bahwa nyawa manusia tidak bisa menunggu lampu hijau.

Rakyat bisa menerima jika pemadam kebakaran diberi jalan. Mereka paham bahwa api tidak mau bernegosiasi dengan kemacetan.

Rakyat bisa menerima jika kepala negara dikawal. Ada pertimbangan keamanan yang memang berbeda.

Tetapi ketika kegiatan pribadi memperoleh perlakuan yang serupa, pertanyaan pun muncul dengan sendirinya. Dan selama pertanyaan itu belum terjawab, suara sirene akan terus memiliki dua makna.

Bagi sebagian orang, itu adalah tanda pelayanan.

Bagi sebagian lainnya, itu adalah pengingat bahwa di negeri ini, bahkan kemacetan pun kadang mengenal kasta.

Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.



Penulis: NovrizalEditor: Novrizal Sadewa