Moskow, Khazanah — Umat Islam Rusia dianjurkan melaksanakan salat Kusuf ketika terjadi gerhana matahari serta memperbanyak zikir, doa, dan memohon ampunan kepada Allah SWT. Imbauan tersebut disampaikan Mufti Ildar Alyautdinov, Ketua Administrasi Spiritual Muslim (SAM) Moskow.
Menurut Alyautdinov, gerhana matahari merupakan salah satu tanda kebesaran Allah SWT. Karena itu, umat Islam yang menyaksikan fenomena tersebut dianjurkan mengingat Allah, berdoa, dan memohon ampunan.
“Dalam Islam, ada salat khusus, Salat al-Kusuf, yang dianjurkan untuk dilaksanakan ketika terjadi gerhana matahari. Nabi menganjurkan orang-orang yang menyaksikan fenomena tersebut untuk berzikir kepada Allah SWT, berdoa, dan memohon ampunan kepada Sang Pencipta,” ujar Alyautdinov seperti dikutip dari kantor berita RIA Novosti..

Gerhana matahari pada 12 Agustus 2026 menjadi salah satu fenomena astronomi yang menarik perhatian karena jalur totalitasnya melintasi sejumlah wilayah, mulai dari Rusia bagian utara, Samudra Arktik, Greenland, Islandia, hingga Spanyol dan sebagian kecil Portugal.
Fase total gerhana hanya dapat diamati dalam jalur sempit dengan lebar sekitar 294 kilometer. Di luar jalur tersebut, pengamat hanya akan menyaksikan gerhana matahari sebagian.
Di Rusia, sebagian besar wilayah hanya akan mengalami gerhana sebagian. Fase total diperkirakan dapat diamati di wilayah timur laut Semenanjung Taimyr yang relatif jarang penduduk. Sementara itu, di bagian Eropa Rusia, gerhana akan lebih mudah diamati dari wilayah utara. Di Rusia bagian tengah, bagian Matahari yang tertutup Bulan akan lebih kecil.
Fase total gerhana juga dapat disaksikan di Spanyol, Islandia, dan Greenland bagian timur. Adapun Roscosmos, badan antariksa Rusia, dijadwalkan menyiarkan secara langsung fenomena gerhana matahari sebagian tersebut.
Gerhana Bukan Pertanda Kematian
Alyautdinov juga mengingatkan kembali pandangan Islam mengenai gerhana matahari. Dalam sejarah Islam, pernah muncul anggapan bahwa gerhana matahari berkaitan dengan wafatnya salah seorang putra Nabi Muhammad SAW. Namun, Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa gerhana tidak terjadi karena kematian ataupun kehidupan seseorang.
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah tanda-tanda kekuasaan Allah Yang Maha Kuasa,” kata Alyautdinov, mengutip sabda Nabi Muhammad SAW.
Penjelasan tersebut sekaligus menegaskan bahwa fenomena gerhana dalam Islam tidak dikaitkan dengan pertanda buruk atau peristiwa kematian seseorang. Gerhana merupakan fenomena alam sekaligus momentum bagi umat Islam untuk mengingat kebesaran Allah SWT.
Fenomena Astronomi yang Menarik
Selain memiliki makna keagamaan bagi umat Islam, gerhana matahari total juga menjadi fenomena penting bagi pengamatan ilmiah. Ketika Bulan menutupi seluruh piringan Matahari, sejumlah bagian atmosfer Matahari yang biasanya sulit diamati dapat terlihat.
Di antaranya ialah korona dan kromosfer Matahari. Fenomena lain seperti diamond ring atau cincin berlian dan Baily’s beads atau manik-manik Baily juga dapat muncul menjelang dan sesudah fase total.
Gerhana matahari terjadi ketika Bulan berada di antara Matahari dan Bumi sehingga bayangan Bulan jatuh ke permukaan Bumi. Wilayah yang berada di dalam bayangan umbra dapat mengalami gerhana total, sedangkan wilayah di luar jalur tersebut hanya mengalami gerhana sebagian.
Bagi umat Islam, fenomena tersebut menjadi momentum untuk melaksanakan salat Kusuf, memperbanyak doa dan zikir, serta memohon ampunan kepada Allah SWT. Sementara bagi ilmu pengetahuan, gerhana memberikan kesempatan untuk mengamati atmosfer Matahari secara lebih jelas dalam kondisi yang tidak dapat diperoleh pada keadaan normal. (Eko/RIA Novosti)
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.






