Lubuk Basung, Khazanah — Pemerintah Kabupaten Agam membangun kembali Jembatan Bukik Batabuah dengan desain tanpa pilar di tengah sungai. Perubahan konstruksi ini dilakukan sebagai pelajaran dari bencana galodo pada 2024, ketika jembatan lama rusak akibat tumpukan material kayu dan batu yang tertahan pada pilar sungai.
Bupati Agam, Benny Warlis, mengatakan jembatan baru dirancang menggunakan dua tumpuan di kedua sisi sungai, bentang yang lebih lebar, serta elevasi yang lebih tinggi. Desain tersebut diharapkan dapat mengurangi risiko penumpukan material dan kerusakan akibat derasnya arus sungai.
“Kita belajar dari bencana 2024 lalu. Jembatan lama hancur karena pilar di tengah sungai menahan material kayu dan batu,” kata Benny.
Berdasarkan kontrak Nomor 2.2.34/JBT.TKD-P.III/DPUTR-AG/VII.2026, pekerjaan pembangunan dimulai pada 5 Agustus 2026 dan ditargetkan selesai pada 13 Desember 2026.
Hingga pertengahan Oktober 2026, progres fisik pembangunan telah mencapai 55 persen. Pekerjaan abutment atau struktur tumpuan jembatan di sisi pertama telah selesai 100 persen, sedangkan pekerjaan abutment di sisi kedua masih berlangsung.
Pembangunan jembatan tersebut menggunakan anggaran TKD Bencana sebesar Rp3,537 miliar. Pekerjaan dilaksanakan oleh CV Midya Karya dengan pengawasan teknis dari CV Bina Citra Consultant.
Sebanyak dua unit ekskavator dikerahkan untuk mengeruk material batu berukuran besar atau boulder di dasar sungai. Pekerjaan tersebut menjadi bagian dari persiapan pembangunan struktur jembatan permanen.
Memulihkan akses dan ekonomi warga
Benny mengatakan, pembangunan Jembatan Bukik Batabuah tidak hanya bertujuan memulihkan konektivitas, tetapi juga mendukung kegiatan ekonomi masyarakat. Jembatan tersebut merupakan salah satu jalur alternatif yang menghubungkan Sumatera Barat dengan Riau sekaligus menjadi akses bagi masyarakat untuk mengangkut hasil pertanian.
“Kami tidak ingin warga harus memutar hingga tiga kilometer hanya untuk mengangkut hasil bumi,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Bina Marga Dinas PUTR Kabupaten Agam, Widodo Budiyanto, mengatakan seluruh paket pekerjaan di bidang tersebut telah selesai melalui proses pelelangan. Pekerjaan kini berlangsung di lapangan, tetapi hingga saat ini belum ada paket yang menjalani serah terima pertama atau Provisional Hand Over (PHO).
Hingga Oktober 2026, sejumlah pekerjaan telah mencapai progres fisik sekitar 90 persen. Masa kontrak pekerjaan berlangsung hingga Desember 2026, sedangkan realisasi keuangan masih sebatas pembayaran uang muka.
Pemkab Agam memprioritaskan pembangunan lima jembatan, yakni Jembatan Bukik Batabuah, Pandan Banyak, MTSN Balingka, Tigo Kampuang, dan Sungai Asam. Kelima jembatan tersebut dinilai penting untuk menunjang mobilitas masyarakat, termasuk akses menuju sekolah, fasilitas kesehatan, dan sentra pertanian.
Meski pekerjaan terus berjalan, kontraktor masih menghadapi kendala cuaca dan akses pengangkutan material. Hujan yang turun selama satu hingga dua hari berturut-turut dapat meningkatkan debit sungai sehingga pekerjaan konstruksi terpaksa dihentikan sementara.
Selain itu, akses jalan yang sempit di sejumlah lokasi menyebabkan material harus diangkut secara bertahap menggunakan kendaraan kecil, bahkan sepeda motor. Kondisi tersebut turut memengaruhi kelancaran pekerjaan di lapangan.
Benny meminta kontraktor memaksimalkan waktu pelaksanaan yang tersedia tanpa mengabaikan mutu konstruksi. Ia juga meminta Dinas PUTR mengawasi setiap tahapan pekerjaan hingga selesai. (Eko)
Dapatkan update berita lebih cepat dengan mengikuti Google News Khazminang.id. Klik tanda bintang untuk mengikuti.





